Home Warta Nasional Banten Raya Tokoh Fragmen Sejarah Keislaman Ubudiyyah Syariah Tauhid Khutbah Doa Serba-Serbi

Pergulatan Ideologis : PKI di Kiri, NU di Tengah dan HTI di Kanan 

Pergulatan Ideologis : PKI di Kiri, NU di Tengah dan HTI di Kanan 
Logo resmi Nahdlatul Ulama. (Sumber Istimewa)
Logo resmi Nahdlatul Ulama. (Sumber Istimewa)

Banyak tercatat dalam literatur sejarah nasional kita. Diantaranya pertumbuhan organisasi di awal abad 20 M. Deliar Noer satu diantara yang mendeskripsikan secara detil tentang movement (pergerakan) organisasi di era 1900 hingga 1940. Tak terkecuali tentang heroisme pemuda tanah air dalam mewujudkan persatuan. Eposnya begitu berdampak besar bagi keberlangsungan kebangkitan, yang sejak awal dimotori Boedi Oetomo (Budut), Trikoro Darmo. Hingga pecahnya sumpah pemuda 28 Oktober 1928 yang di-declare oleh pemuda-pemuda yang tengah menggenggam api nyala kebangkitan tanah air dari cengkraman imperialis Belanda.

 

Sekitar tahun 1926 pecah pemberontakan PKI yang dipelopori Alimin dan Darsono. 2 kader SI merah ini merupakan penyambung mata rantai komunisme Internasional di Hindia Belanda. Meski Tan Malaka menolak peristiwa tersebut sebagai kebodohan dan kecerobohan.  Alimin menegaskan bahwa sikap antipatinya pada kelompok muslim di SI dan pengejawantahan dari kegelisahannya ketika pemikiran sosialisme mendapat pertentangan dari H.O.S Cokroaminoto, Husni Thamrin dan Agus Salim yang cenderung bertahan dalam prinsip syarikat yang bertumpu pada kepentingan pribumi.

 

Nahdlatul Ulama, lahir didasari suatu kegelisahan ulama Nusantara ketika pusat peradaban Islam di awal abad 20 M. Yakni Mekkah dan Madinah telah menjadi target pelaksanaan ajaran Wahabi dengan penekanan pada sikap puritanisme beragama, anti TBC (takhayyul, bidah dan churafat). Diantara kebijakan rezim Ibnu Saud dengan memegang Wahabisme sebagai Religion State, terutama kebijakan menghapus praktik bermadzhab, tarekat, dan ziarah kubur.  Maka keluarlah instruksi penghancuran makam-makam orang sholeh, sahabat Nabi, dan makam Nabi sendiri.

 

Kegelisahan yang wajar dialami para ulama Nusantara terhadap beberapa kebijakan Ibnu Saud itu kemudian mendorong untuk membentuk Komite Hijaz. Dengan beberapa tuntutan yang dikemukakan di hadapan raja Ibnu Saud antara lain membatalkan rencana membongkar makam Rasulullah SAW di Madinah.

 

HT (Hizbu Tahrir) kemudian muncul di Palestina sekitar 1948 atas kegelisahan seorang bernama Taqyudin An-Nabhani. Penggagas sekaligus deklarator HT dengan maksud pembebasan al- Quds saat yang bersamaan tengah terjadi kolonisasi atau pencaplokan wilayah Palestina yang dilakukan oleh Zionis Israel.

 

HTI lewat kepemimpinan Abu Rastah menyusun arah perubahan perjuangan yang lebih mengedepankan massifikasi gerakan perwujudan khilafah Islamiyah. Menyebar di seluruh negara-negara, terutama negara dunia ketiga. Hingga membentuk sel-selnya hingga ke pelosok daerah. 

 

Arah Hizbut Tahrir menjadikan sistem Khilafah Islamiyah sebagai target utama perjuangan agar bisa diterapkan di seluruh dunia dengan membangun imperium teokrasi, sistem dan rumusan begitu rapihya disusun dengan sumber militansi yang meluap. Terlepas perintah Tuhan atau bukan, sebab orientasinya kekuasaan. Sedikit berbeda ketika khilafahnya para sahabat Nabi dengan orientasi Mashlahat al-Ammah dalam naungan risalah Islam yang telah diwariskan Rasulullah SAW. 

 

Sikap atas Negara 

 

Partai Komunis Indonesia, menjadi satu-satunya partai politik yang punya tradisi ‘memberontak’ atau terbiasa untuk upaya Coupe De Etat (kudeta) atas negara yang dibangun berdasarkan konsensus. Watak keras dan telenges (kejam) merupakan pelaksanaan doktrin manifesto komunisme intrnasional. 

Alexander Orlov dalam bukunya Secret history of Stalin's Crime telah menguraikan bahwa Kruschev mengutuk kelakuan Stalin sebagai seorang pembunuh dan ahli tuduhan palsu. Memaki-maki kultus perseorangan akan tetapi mempertahankan garis terror dan disiplin Lenin. Orlov, satu diantara penulis yang menggambarkan Rusia di tangan Stalin seperti neraka teror.

 

Madiun, di September 1948 menjadi saksi bahwa PKI yang meneguhkan sebagai partai yang berideologi komunisme (kiri) begitu anti patinya terhadap sistem demokrasi, pemaksaan komunisme atas negeri ini ketika itu harus menelan banyak kehilangan nyawa, terutama kiai-kiai NU yang dianggap 7 setan Kapbir.

 

HTI, satu organ dari organisasi transnasional yang bercita cita meneggakkan khilafah di Indonesia yang punya orientasi perjuangan islam, dengan kata lain menegarakan Islam atau Islamisasi negara dengan point berlakunya syariat dengan perspektif back to Quran and Hadits.

 

Upaya HTI hingga kini semakin keras ketika eksistensinya dibubarkan oleh pemerintah. HTI menolak tunduk sehingga terus adakan perlawanan sporadis dan sistematis.

 

Islam, menjadi tameng dan alat perjuangan HTI terlepas suka atau tidak Islam dijadikan halaman depan bagi orang-orang bodoh dan yang tengah gelisah dalam beragama. Meski kita harus akui niat strukturalisasi agama merupakan ekspektasi dari fundamentalisme keislam-an.

 

NU, satu organisasi keagamaan yang terbesar di Indonesia selalu memainkan peran Wasathiyah atau moderat, tidak bersikap mukholith (membaur) dengan kiri (komunisme) maupun dengan golongan kanan (Islamisme), tapi NU dalam posisi tengah (wasith) dalam upaya tegaknya Al-Mashlahat al-Ammah, dan menjaga keberlangsungan kehidupan beragama yang damai dan tenang.

 

Dalam menegara, NU adalah pilar utama sekaligus mempunyai ‘حقوق الاكثارية’ atas keberlangsungan NKRI. Sebab NU sadar bahwa NKRI adalah amanat kiai terutama amanat Hadrotusyaikh Hasyim Asyari, Rois Akbar NU (1926-1947).

 

NKRI, dalam perspektif NU adalah daarul ahdi, atau daarul mitsaq. Menjadi keniscayaan jika harus menjaganya sebagai yang final dan tak tergantikan. NKRI harga mati.

 

"Agar yang tak murni terbakar mati"

 

 

Hamdan Suhaemi, Wakil Ketua PW GP Ansor Banten dan Ketua Pengurus Wilayah Rijalul Ansor Banten