Home Warta Nasional Banten Raya Tokoh Fragmen Sejarah Keislaman Ubudiyyah Syariah Tauhid Khutbah Doa Serba-Serbi

Pandemi dan Hilangnya Tradisi Pesantren

Pandemi dan Hilangnya Tradisi Pesantren
Ilustrasi Santri. (Foto : NU Online)
Ilustrasi Santri. (Foto : NU Online)

Beberapa waktu lalu saya sekeluarga pergi untuk mengantarkan anak dan keponakan menuju dunia barunya. Dunia baru bagi mereka berdua yang masih beliau yaitu jenjang pendidikan dasar pondok pesantren yang jauh dari orang tua.

 

Sebelum keberangkatan sudah ada pemberitahuan tentang banyak hal terkait protokol pengantaran anak didik baru. Saya memakai bahasa protokol  biar kekinian dan untuk menghindari kata tata tertib yang sering dilanggar seperti tata tertib lalu lintas. Dalam protokol tersebut dijelaskan bahwa anak santri hanya boleh di antar maksimal dua orang, asumsinya mungkin cukup dengan Bapak dan Ibunya.

 

Sampai disitu para wali santri belum ada yang protes, masih oke lah. Walaupun mungkin banyak wali santri berharap anak mereka diantar banyak orang, Kakek, Nenek, Tante, Om, Bu Lik dan Bukde nya. Diajak semua supaya seru, ramai dan anaknya juga merasa senang kalau di antar oleh banyak orang.

 

Protokol selanjutnya adalah wali santri tidak boleh turun dari kendaraan baik yang membawa mobil atau kendaraan lainnya, demi menjaga keamanan bersama. Begitulah kira-kira alasan kenapa tidak boleh turun. Disitulah protes mulai bermunculan di group Whatsapp para wali santri.

 

"Pak Ustadz saya mohon ijin untuk ikut masuk ke kamarnya walaupun sebentar dan saya juga siap swab dan PCR", begitulah para wali santri meyakinkan para ustadz agar bisa mendampingi anaknya masuk ke pesantren.

 

Tapi protokol tetap protokol yang tidak bisa di protes dan di rubah kecuali keadaan dan situasi yang berubah, Bapak dan Ibu boleh melanggar tata tertib lalu lintas, tapi untuk protokol ini tidak bisa ditawar karena demi kebaikan bersama, jawab panitia penerimaan santri atas protes tersebut. 

 

Tidak lama heboh di Whatsapp grup para wali, nanti koper gimana? Nanti anak saya bagaimana? Masak anak saya di turunin begitu saja kita langsung pulang? Dan masih banyak yang lainnya. Tapi semua hanya sekedar pertanyaan yang tidak perlu dijawab oleh panitia karena sudah jelas protokolnya.

 

Pada hari keberangkatan, kami sekeluarga santai saja berangkat yang tadinya mau berangkat habis subuh kita batalkan karena satu dan lain hal. Dari rumah sekitar jam delapan pagi dengan satu mobil cukup untuk kami sekeluarga termasuk anak dan ponakan yang akan mondok. Bayangan kami sampai pesantren menjelang istirahat dan sudah mau selesai, sehingga sepi dan tidak terlalu banyak kerumunan.

 

Benar memang, sampai di lokasi hanya ada dua mobil yang parkir, "wah sudah sepi nih" pikir saya. Ternyata memang tidak butuh waktu lama untuk menunggu dipanggil, karena satu kloter tiga mobil yang masuk. Akhirnya masuklah kami dengan dua mobil lainnya secara beriringan dan tidak butuh waktu lama juga untuk proses serah terima anak dan ponakan kami ke pihak pondok pesantren sekitar 15 menit. Menyerahkan berkas persyaratan, hasil swab, droping barang, anak dan ponakan dipersilahkan turun dari mobil untuk dibawa ke kamar masing-masing dengan para pengasuh kamar setelah mereka memperkenalkan diri walau sudah saling video call sebelum keberangkatan kemarin. 

 

Setelah itu dipersilahkan pulang dengan hormat oleh panitia tanpa ada selfie apalagi swafoto dengan para pengasuh pondok. Bahkan tidak ada acara silaturrahim dengan Kiai atau Bu Nyai pondoknya. Padahal waktu survei pondok juga tidak ada selfie dan foto-foto karena -waktu itu- memang tidak diperbolehkan masuk. Jadi praktis tidak ada dokumentasi yang baik dan benar menurut pakar youtuber atau influencer apalagi pakar sosial media, pasti dianggap liputan yang gagal karena tidak mendapatkan gambar visual dan sumber berita secara langsung tapi hanya dari protokol panitia penerimaan santri baru.

 


Itulah salah satu gambaran dan contoh sekilas bagaimana proses penerimaan santri baru di pondok pesantren di masa pandemi Covid-19 ini. Berbeda sekali dengan era sebelum pandemi, kita bisa sowan Kiai dan Bu Nyai sambil minta petuah dan mauidhohnya, bisa keliling pesantren melihat situasinya, dan yang tidak kalah penting bisa berselfie ria di lokasi pesantren baik dengan Pak Kiai dan Bu Nyainya.

 

Dulu, bisa menginap di pesantren untuk menemani anak sebelum berpisah lama dengan keluarga. Sambil mereka beradaptasi dengan lingkungannya tidak hanya semalam, tapi bisa beberapa malam bagi wali santri yang rumahnya jauh dari lokasi pondok. Sembari istirahat untuk menghilangkan lelah setelah perjalanan jauh biar pulang sudah dalam keadaan segar bugar.

 

Tapi nampaknya itu adalah cerita masa lalu pesantren sebelum pandemi covid-19 karena cerita saat pandemi sudah berbeda 180 derajat. Tidak ada lagi ramah tamah dengan Kiai atau Bu Nyai, tidak ada salaman dan pelukan untuk perpisahan dan masih banyak lagi cerita haru dan lucu yang tidak bisa kita rasakan saat ini seperti dulu lagi.

 

Pandemi covid-19 telah banyak merubah tradisi pesantren baik yang Salaf maupun yang modern. Banyak pondok pesantren yang tadinya tidak bisa melakukan besuk tapi masih bisa menelepon, jadi tidak bisa di telepon dan ada juga tidak boleh menelpon bahkan wartelnya juga di tutup.

 

Ada juga yang pesantren karena seharusnya sudah masuk sekolah tapi belum berani untuk melakukan tatap muka belajarnya lewat daring dengan santri tetap di rumahnya masing-masing. Ini bisa jadi model pesantren baru jika pandemi terus berlangsung dengan nama Pondok Pesantren Daring/Online.

 

Banyak pengasuh pesantren yang bingung menghadapi situasi ini, disatu sisi proses belajar mengajar tidak boleh berhenti tapi disisi lain ada larangan dari pemerintah melakukan pembelajaran tatap muka (PTM). Pemerintah mungkin juga dilema jika mengijinkan PTM, karena situasi penularan Covid-19 masih tinggi bahkan sempat menempati urutan tertinggi di dunia dengan jumlah kematian harian karena Covid.

 

Entahlah, nampaknya banyak orang pintar di negeri ini yang jadi kurang pintar karena pandemi ini. Seperti Covid itu sendiri yang tidak tahu kapan akan berakhir atau justru sebaliknya virus ini yang jadi pintar bermutasi dan bersembunyi dari deteksi para ahli karena banyak berebut untuk meneliti dan saking banyaknya vaksinasi.

 

Sepertinya hanya Tuhan yang tahu kapan drama covid-19 ini akan berakhir dengan sendirinya, tapi sayang karena sampai sekarang belum ada orang yang sudah diberitahu oleh Nya. Atau pandemi ini akan pergi seiring dengan manusia yang terpaksa harus menganggap biasa aja terhadap covid-19 ini, toh covid-19 juga tidak akan protes apalagi cemburu. Kelihatannya mudah di ucapkan tapi sulit untuk di lakukan.*

 


Ogi Sugiyono, Pembina Laskar Santri Nusantara dan Wakil Ketua Ikatan Sarjana Nahdhatul Ulama (ISNU) Banten