Home Warta Nasional Banten Raya Tokoh Fragmen Sejarah Keislaman Ubudiyyah Syariah Tauhid Khutbah Doa Serba-Serbi

Tiada NU dalam Pelajaran Sejarah di Sekolah

Tiada NU dalam Pelajaran Sejarah di Sekolah
Foto ilustrasi
Foto ilustrasi

Oleh: Iman Zanatul Haeri

 

NU di Sekolah

 

Buku elektronik Kamus Sejarah Indonesia Jilid I 1900-1950 menuai kontroversi karena tidak terdapat nama tokoh besar NU, KH Hasyim Asyari dalam kamus tersebut. Sementara, misal, tokoh kontroversi seperti Amien Rais dan Abu Bakar Ba'asyir malah tercantum. Tidak hanya buku resmi dari pemerintah, bahan ajar yang disediakan untuk pelajaran sejarah di sekolah juga sangat minim menampilkan peran NU dalam kancah pergulatan kebangsaan Indonesia.

 

Hal ini sebenarnya mengungkap persoalan lama tentang sulitnya gerbong ‘Islam Tradisional’ untuk masuk ke dalam narasi sejarah sekuler yang diajarkan di sekolah. Mungkin sampai hari ini masih banyak kalangan awam yang menganggap pertempuran Surabaya hanya soal pidato Bung Tomo, pekik takbir dan Mobil Jendral WS Mallaby yang terbakar. Kemudian Pecahlah perang yang dinobatkan menjadi Hari Pahlawan tepat 10 November 1945.

 

Anggapan ini merupakan warisan pelajaran sejarah di sekolah yang memang didominasi oleh narasi sekuler dan Islam Modern. Sekuler disini adalah narasi kaum nasionalis dan yang dimaksud Islam Modern tentu saja tokoh-tokoh pergerakan awal Islam seperti Sarekat Islam, Muhammadiyah dan belakangan Masyumi.

 

Seandainya KH Agus Sunyoto tidak berupaya keras untuk mengadakan penelitian sejarah dan mencari dokumen otentik bahwa KH Hasyim Asyari memobilisasi para santrinya untuk bergabung dalam Pertempuran Surabaya, mungkin saja narasi ‘Resolusi Jihad’ tidak akan sampai ke permukaan. Seolah-olah Nahdlatul Oelama tidak punya kontribusi besar dalam perang kemerdekaan. Meskipun sudah banyak sejarawan NU yang yang mengupas peran para kiai, nyai, pesantren dan para santrinya dalam pembentukan kesadaran Nasional, upaya mempertahankan Kemerdekaan dan komitmen terhadap kebangsaan pada masa kritis, narasi tersebut tetap saja belum masuk dalam pelajaran sejarah di sekolah.

 

Persoalan ini penulis temui sendiri saat mengajar di Madrasah Aliyah (MA) kelas XII untuk mata pelajaran Sejarah Indonesia. Pada saat membahas materi peran Pemuda sejak zaman kolonial hingga reformasi, peran NU dan para tokohnya dalam pelajaran ini sangat minim sekali. Sebagai contoh dalam satu buku paket terbitan swasta, peran pemuda dan organisasi-organisasinya hanya menyebut organisasi pemuda sekuler-nasionalis dan Islam modernis seperti Haji Samanhudi dari Sarekat Islam, Dr Soetomo (Budi Otomo), Tan Malaka, Moh Yamin, Mohamad Natsir (Masyumi), Silas Papare dan lainnya.

 

Para tokoh tersebut perannya memang luar biasa, namun penempatannya tidak seimbang mengingat soal kepemudaan tahun 1934 sudah berdiri Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO) yang didirikan oleh KH Abdul Wahab. Jika dilacak lebih jauh, Mbah Wahab sudah mendirikan Subhanul Wathan (Pemuda tanah Air) sebagai cikal bakal Anshor sejak tahun 1924 sebelum Kongres Pemuda II. Meskipun Anshor sempat disebut, namun porsinya tidak begitu besar.

 

Padahal dalam kompetensi dasar (KD) materi sejarah Indonesia kelas XII membahas perjuangan tokoh Nasional dan Daerah dalam mempertahankan kemerdekaan (KD 3.2 & 4.2) dan peran Pemuda dalam perubahan politik di Indonesia (KD. 3.7 & 4.7). Harusnya ada banyak nama-nama tokoh NU yang bisa disebut dalam pelajaran sejarah di sekolah. Beruntung, para santri yang belajar di madrasah dari tingkat MTs dan MA mendapatkan materi sejarah NU melalui mata pelajaran lain, yakni Ke-NU-an. Namun ini khusus untuk Madrasah dibawah naungan LP Ma'arif NU.

 

Persoalannya, para siswa di sekolah tidak pernah mengetahui peran NU sehingga besar kemungkinan narasi moderat yang ditawarkan NU seolah-olah keluar dari jalur sejarah resmi yang diajarkan sekolah. Meski demikian, terdapat alternatif agar peran NU setidaknya masuk dalam sejarah resmi di sekolah.

 

Magis Sejarah

Guna melengkapi kekurangan mata pelajaran (mapel) Sejarah Indonesia, kurikulum 2013 (Kurtilas) menyediakan mapel Sejarah Peminatan untuk mengisi kekosongan tersebut.

Misal dalam KD 3.8 & 4.8 berkaitan akar Nasionalisme, dan KD 3.10 & 4.10 mengenai strategi pergerakan nasional di kelas XI berpeluang besar untuk menjelaskan peran NU dalam narasi sejarah di sekolah yang tidak dijelaskan mata pelajaran sejarah Indonesia.

 

Bahkan untuk memperkuat argumen bahwa masyarakat Islam di Indonesia tidak sepenuhnya mendukung gerakan Pan-Islamisme yang bersemi pada awal abad ke-20 dalam KD 3.5 &4.5, keputusan NU untuk membentuk Komite Hijaz telah membuktikan penolakan terhadap gerakan Islam Transnasional yang berseberangan dengan pergerakan Nasional.

 

Sayangnya, fakta bahwa NU lebih mendukung kedudukan pergerakan Nasional daripada gerakan komite Khilafah tidak di