Home Warta Nasional Banten Raya Tokoh Fragmen Sejarah Keislaman Ubudiyyah Syariah Tauhid Khutbah Doa Serba-Serbi

Bolehkah Menggabung Puasa Qadha Ramadhan dengan Puasa Syawal?

Bolehkah Menggabung Puasa Qadha Ramadhan dengan Puasa Syawal?
ilustrasi foto dok NU Online
ilustrasi foto dok NU Online

Puasa Syawal adalah puasa sunah enam hari yang dikerjakan pada bulan Syawal, setelah Idul Fitri. Puasa enam hari di bulan Syawal ini sama halnya dengan puasa setahun penuh sebagaimana sabda Nabi SAW:

 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ كَاَن كَصِيَامِ الدَّهْرِ (رواه مسلم)

 

“Barangsiapa yang telah melaksanakan puasa Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan berpuasa selama enam hari pada bulan Syawal, maka dia (mendapatkan pahala) sebagaimana orang yang berpuasa selama satu tahun." (H.R. Muslim)

Namun, masalahnya adalah sebagian orang masih memiliki tanggungan utang puasa Ramadhan. Apalagi perempuan, bisa dikatakan mayoritas mereka memiliki tanggungan puasa yang harus diqadha (diganti). Pertanyaan muncul, bagaimana jika seseorang ingin berpuasa Syawal sedangkan masih memiliki hutang puasa? Apakah sah jika ia menggabungkan puasa qadha Ramadhan dengan puasa Syawal?

Menggabungkan dua ibadah dalam satu niat di kalangan ulama dikenal dengan istilah tasyrikunniyat (تشريك النية). Dalam kitab  Idoh al-Qowa’idul al-Fiqhiyyah karangan Syekh Abdullah Sa’id Al-Hadhromi menyebutkan ada beberapa ketentuan mengenai penggabungan niat ibadah fardhu dengan sunah.

  1. Keduanya dianggap sah. Contohnya adalah niat mandi junub digabung dengan mandi sunah sebelum berangkat salat jum’at dan niat puasa qadha dengan puasa Arafah.
  2. Ibadah fardhu saja yang dianggap sah. Contohnya adalah niat haji wajib dan sunah.
  3. Ibadah sunah saja yang dianggap sah. Contohnya adalah niat mengeluarkan zakat dan sedekah dengan segenggam beras. Dalam contoh ini sedekahlah yang dianggap sah karena segenggam beras tidak memenuhi syarat zakat.
  4. Keduanya tidak dianggap sah. Contohnya adalah ketika seseorang makmum masbuq menggabungkan takbirotul ihram dengan takbir ruku’.

Sebenarnya, tidak bisa dipungkiri bahwa ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Dilansir dari Fatwa Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah Al-Azhar as-Syarif di halaman Facebook resminya, ada tiga pendapat mengenai hal ini:

  1. Menggabungkan niat puasa enam hari di bulan Syawal dengan qadha Ramadhan menyebabkan salah satu puasa saja yang dianggap sah. Pendapat ini adalah pendapat Ulama Hanabilah.
  2. Puasa qadha yang digabung dengan puasa Syawal dianggap sah keduanya. Pendapat ini didukung oleh ulama Malikiyah dan mayoritas ulama Syafi’iyah.
  3. Tidak diperbolehkan menggabungkan dua niat. Pendapat ini didukung oleh sebagian ulama Syafiiyah dan suatu riwayat ulama Hanabilah.

 

Berdasarkan pemaparan di atas, lajnah menyimpulkan bahwa menyendirikan (tidak menggabungkan) niat qadha dengan puasa syawal lebih baik untuk menghindari perbedaan pendapat para ulama.

Sejalan dengan kesimpulan di atas, Al-Khatib Asy-Syarbini dalam kitab Mughnil Muhtaj juga menjelaskan bahwa orang yang memiliki tangungan hutang puasa Ramadhan dianjurkan untuk mengqadhanya sesegera mungkin. Setelah itu, maka barulah ia boleh melanjutkan puasanya dengan puasa Syawal.

 

وَلَوْ صَامَ فِي شَوَّالٍ قَضَاءً أَوْ نَذْرًا أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ، هَلْ تَحْصُلُ لَهُ السُّنَّةُ أَوْ لَا؟ لَمْ أَرَ مَنْ ذَكَرَهُ، وَالظَّاهِرُ الْحُصُولُ. لَكِنْ لَا يَحْصُلُ لَهُ هَذَا الثَّوَابُ الْمَذْكُورُ خُصُوصًا مَنْ فَاتَهُ رَمَضَانُ وَصَامَ عَنْهُ شَوَّالًا؛ لِأَنَّهُ لَمْ يَصْدُقْ عَلَيْهِ الْمَعْنَى الْمُتَقَدِّمُ، وَلِذَلِكَ قَالَ بَعْضُهُمْ: يُسْتَحَبُّ لَهُ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ أَنْ يَصُومَ سِتًّا مِنْ ذِي الْقَعْدَةِ لِأَنَّهُ يُسْتَحَبُّ قَضَاءُ الصَّوْمِ الرَّاتِبِ اهـ.

 

“Kalau seseorang mengqadha puasa, berpuasa nadzar, atau berpuasa lain di bulan Syawal, apakah mendapat keutamaan sunah puasa Syawal atau tidak? Saya tidak melihat seorang ulama berpendapat demikian, tetapi secara zahir, dapat. Tetapi memang ia tidak mendapatkan pahala yang dimaksud dalam hadits khususnya orang luput puasa Ramadhan dan mengqadhanya di bulan Syawal karena puasanya tidak memenuhi kriteria yang dimaksud. Karena itu sebagian ulama berpendapat bahwa dalam kondisi seperti itu ia dianjurkan untuk berpuasa enam hari di bulan Dzul qa’dah sebagai qadha puasa Syawal,” (Muhammad bin Ahmad Al-Khatib As-Syarbini, Mughnil Muhtaj, Daar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan pertama, 1994 M/1415 H, juz 2, halaman 184).

Lalu, bagaimana pendapat yang menyatakan boleh menggabungkan puasa qadha Ramadhan dengan sunah syawal? Haruskah disertai niat atau tidak?

Dalam masalah ini, kitab Baghiyah al-Mustarsyidin merangkum pendapat para ulama.

 

(مشألة: ك) ظَاهِرُ حَدِيْث "وَأَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ" وغَيْرِهِ مِنَ الأَحَادِيْثِ عَدَمُ حُصُولِ السِّتِّ إذَا نَوَاهَا مَعَ قَضَاء رَمَضانَ , لكِنْ صَرَّحَ ابنُ حَجَرٍ بِحُصُولِ أَصْلِ الثَّوَابِ لِإِكْمَالِهِ إِذَا نَوَاهَا كَغَيْرِهَا مِنْ عَرَفَةَ وعَاشُوراء, بَلْ رَجَّحَ (م ر) حُصُول أصْلِ ثَوَابِ سَائِر التَّطَوُّعَاتِ مَعَ الفَرْضِ وإنْ لَمْ يَنْوِهَا, مَلَم يُصَّرفْهُ صَارِفٌ , كَأَن قَضى رَمَضَانَ في شَوَّالٍ, وقَصَدَ قَضَاء السِّتِّ مِنْ ذِي الْقَعْدَةِ, ويُشَنُّ صَومُ السِّتِّ وإنْ أفْطَرَ رَمَضَانَ اهز قلت: واعتمد أبُو مخرمة تَبعًا للشنهودي عَدَم حُصُوْلِ وَاحِدٍ مِنْهَا إذَا نَوَاهَا مَعًا , كَمَا لَوْ نَوى الظُّهْرَ وسُنَّتَهَا, بَلْ رَجَّحَ أَبُو مَخرَمة عَدَمَ صِحَّةِ صَوْمِ السِّتِّ لِمَنْ عَلَيْهِ قَضاءُ رَمَضَأنَ مُطْلَقًا

 

Jika dirangkum penjelasan di atas, maka ada tiga pendapat tentang masalah ini:

  1. Menurut Ibnu Hajar, orang yang mengqadha puasa bisa mendapat pahala puasa sunah syawal dengan syarat diniati juga puasa Syawal tersebut.
  2. Menurut Imam Romli, orang yang mengqadha puasa di bulan Syawal bisa mendapat pahala sunah Syawal meskipun tidak berniat. Maksudnya, ia hanya berniat mengqadha saja tanpa berniat puasa Syawal.
  3. Menurut Abu Makhromah puasa qadha tidak bisa digabung dengan puasa Syawal.

Berdasarkan uraian penjelasan di atas, kita tidak bisa mengingkari perbedaan pendapat ulama mengenai sah atau tidaknya menggabungkan puasa qadha Ramadhan dengan puasa sunah Syawal. Jika disimpulkan, menggabungkan dua puasa ini sah. Akan tetapi, lebih baik jika orang memiliki tanggungan puasa qadha Ramadhan itu membayar terlebih dahulu puasanya.

Wallahu a’lam bi as-Showab