Home Warta Nasional Banten Raya Tokoh Fragmen Sejarah Keislaman Ubudiyyah Syariah Tauhid Khutbah Doa Serba-Serbi

Sekolah Bahtsul Masail Upaya Merawat Tradisi Khazanah Keilmuan di Daerah Urban

Sekolah Bahtsul Masail Upaya Merawat Tradisi Khazanah Keilmuan di Daerah Urban
Tangkapan layar daring suasana webinar Sekolah Bahtsul Masail. (Foto : Istimewa)
Tangkapan layar daring suasana webinar Sekolah Bahtsul Masail. (Foto : Istimewa)

Tangerang Selatan, NU Online Banten
Tradisi intelektual kalangan pesantren dan Nahdlatul Ulama, salah satu yang menjadi identitas adalah Bahtsul Masail. Tradisi ini ditengarai menjadi embrio lahirnya Nahdlatul Ulama, berawal dari halaqah ilmiah para kiai. 


Pada masa silam halaqah ilmiah digelar untuk merespon problematika kompleks yang ada dalam masyarakat. Hal itulah yang diinisiasi oleh KH Wahab Chasbullah, hingga kemudian membentuk sebuah wadah  bernama Tashwirul Afkar. Seiring kemudian bertransformasi menjadi Nahdlahat Tujjar hingga puncaknya menjadi Nahdlatul Ulama. 

 

Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail NU (LBM NU) Tangerang Selatan, Muhammad Zainul Arif menilai, bahwa Bahtsul Masail adalah ruh NU. Sebagai penanda eksistensi intelektual pesantren. Bahkan, Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama sangat layak dikatakan sebagai lembaga fatwanya NU. Dengan corak khasnya, berupa mekanisme pengambilan hukum (manahij al-bahtsi) yang berbeda dengan yang lainnya. 

 

Mengamati hal itu, untuk mengimplementasikan salah satu programnya, LBM NU Tangsel menggelar pelatihan Bahtsul Masail secara virtual. Kegiatan dikemas dalam webinar.

 

Zainul Arif menyampaikan gelaran Sekolah Bahtsul Masail dibentuk menjadi empat sesi. Dengan diikuti delegasi pesantren berbagai daerah. Meliputi LBM PWNU DKI Jakarta, LBM PWNU Banten, LBM PWNU Jawa Barat, LBM PCNU se-Jabodetabek, Lembaga-lembaga NU, PCINU se-dunia, Forum Bahtsul Masail Pondok Pesantren (FBMPP) se-DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat serta mengundang perwakilan dari berbagai daerah. Sabtu, (19/9).

 

Pada webinar kali ini, LBM NU Tangsel menghadirkan tokoh-tokoh cendekiawan Islam, beberapa tokoh LBM PBNU dan pakar fikih kompeten dan mumpuni. Mengusung tema utama geneologi, metodologi dan kontektualisasi.

 

Webinar sekolah Bahtsul Masail diampu langsung oleh KH Afifuddin Muhajir, KH Husein Muhammad, KH Fuad Thohari, KH Abdul Moqsith Ghazali, KH Ahmad Ishomuddin, KH Ulil Abshar Abdalla, KH Azizi Hasbullah, KH Zahro Wardi, KH Mu’thi Ali Qusyairi, KH Abdul Yazid Fattah dan KH Muhammad Mirfaqo.

 

Pada Sesi pertama, kelas Bahtsul Masail diisi oleh KH Husein Muhammad, membahas tentang mata rantai (geneologi) tradisi Bahtsul Masail. Menurut, KH Husein Muhammad, Bahtsul Masail mengadopsi tradisi halaqah ilmiah ulama timur tengah pada abad pertengahan. 

 

Tradisi tersebut terjadi atas pengaruh arus Syafi’iyah, terutama an-Nawawi dan al-Rafi’I yang tertuang dalam kitab-kitab yang dianggap otoritatif (kutub al-mu’tabaroh). Praktisi Bahtsul Masail selalu berperan untuk terus membuat rumusan teori pengambilan hukum, agar tidak terkesan konservatif pada teks klasik dan dituntut untuk progresif serta dinamis.

 

Lebih lanjut, KH Abdul Moqsith Ghazali melakukan bahasan tentang corak pengambilan keputusan hukum. Mengacu pada Munas Alim Ulama tahun 1992 di Bandar Lampung. Menurut Kiai Abdul Moqsith secara gradual, diawali dari menyadur langsung dari pendapat fuqaha, baik pendapat tunggal atau berbagai temuan pendapat atas permasalahan yang dibahas (taqrir bil qaul wa taqrir jama’i).
 


Kemudian menyamakan kasus pada permasalahan yang sudah ada presedent hukumnya di kitab-kitab fikih (ilhaq al-masail  binadzairiha) dengan adanya titik kesamaan (jami’) hingga penggalian hukum secara metodologis. Seperti istinbath bayani, istinbath qiyashi, istinbath istishlahi bahkan istinbath maqasidhi. Menegaskan bahwa produk hukum Bahtsul Masail merupakan panduan etik moral masyarakat yang siapa saja bisa mengikatkan diri untuk mengimplementasikannya. 

 

Di kesempatan lain, KH Fuad Thohari lebih mengulas tentang prinsip penetapan hukum syariat, mulai era Nabi Muhammad SAW, era Sahabat, Tabiin, Tabiut-Tabiin, hingga masa mujtahid fikih. Serta membahas tentang sejarah timbulnya mazhab, dan sebab terjadinya ikhtilaf di kalangan imam mazhab. 

 

KH Fuad Thohari berharap adanya webinar sekolah Bahtsul Masail ini menjadi jangkar diskusi ilmiah baru. Terutama pada masyarakat kota, serta meneguhkan kembali tradisi yang sudah mendarah daging di pesantren-pesantren dan Nahdlatul Ulama.

 

Senada dengan KH Fuad, Wakil Sekretaris LBM PBNU KH Mahbub Maafi dalam sambutannya berharap, kegiatan ini menjadi percontohan Lembaga Bahtsul Masail di daerah lain dari berbagai tingkatan. 

 

Kiai Mahbub juga memberikan apresiasi atas sekolah bahtsul masail yang diselenggarakan oleh LBM NU Tangsel. Menurut Kiai Mahbub, kegiatan ini merupakan formula baru dalam mengenalkan dan mengembangkan diri dalam tradisi Bahtsul Masail.

 

 

Kontributor : M Zainul Arif
Editor : Arfan