Home Warta Nasional Banten Raya Tokoh Fragmen Sejarah Keislaman Ubudiyyah Syariah Tauhid Khutbah Doa Serba-Serbi

Hijau, Oranye, dan Merahnya Zona

Hijau, Oranye, dan Merahnya Zona
Ilustrasi gambar (Sumber Freepik.com)
Ilustrasi gambar (Sumber Freepik.com)

Melihat data-data terbaru dari perkembangan pandemi Covid-19, yang tersebar hingga hampir seluruh Indonesia, menarik jiwa dan alam sadar kita, bahwa kini melihatnya harus lengkap. Tidak satu mata melihatnya sekedar virus menular, tapi mata ini juga harus melihat ini sebagai takdir Tuhan atas manusia. Semuanya dari Tuhan dan kembali ke Tuhan. 

 

Do'a, jika bisa serempak dipanjatkan oleh seluruh umat beragama menjadi keniscayaan terakhir yang bisa kita lakukan berdasarkan instruksi Kemenag RI, ini dilakukan sebagai upaya bersama. Memohon ampunan, memohon diangkatnya virus menjadi yang utama untuk kita panjatkan. Tidak perlu Tuhan mana yang diyakini, yang penting kira hamba Tuhan punya imannya masing-masing agar kemudian berdasarkan keimanan itulah kita memanjatkan doa bersama agar wabah Corona ini cepat hilang. 

 

Negara, wajib tegas atas aturan prokes. Bukan sekedar tegas menghukumi yang melanggar, tapi lebih dari itu disiplin prokes harus tetap konsisten atas disiplin penegakan hukum. Aturan bukan untuk memberati rakyat. Melainkan untuk mengarahkan ke arah yang lebih ringan, bisa dimengerti dan bisa dimaklumi. Seketat apapun jika tidak konsisten akan nihil hasilnya. 

 

Kita ini disodorkan, data perkembangan yang kemudian jumlah terkontaminasi, atau terpapar sekian puluh persen, yang positif sekian persen dan yang sembuh sekian persen, bahkan yang mati pun tak luput dari data. 

 

Bersamaan dengan itu, ada istilah zona merah, zona oranye, zona kuning, dan zona hijau. Prediket warna dikaitkan dengan situasi kedaerahan kaitannya penyebaran virus. Mungkin ada yang aman, sedang, parah atau bahaya bahkan sangat bahaya. Ini sekali lagi membuat kita sadar betapa hidup memang penting dimaknai sebagai perjuangan kebahagiaan, keselamatan dunia dan akhirat. 

 

Aturan harus disiplin diterapkan tanpa pilih kasih, diteruskan konsistensi sikap terkait pelaksanaan atas aturan tersebut. Negara wajib melindungi rakyatnya. Sementara kita hamba Allah sepantasnya kita istighotsah bermunajat agar diselamatkan, diberi perlindungan dalam situasi yang horor ini. Malam kita menangis, siang kita memeras keringat. Kuat keyakinan bahwa hidup tetap semangat, Istiqomah ibadah dan bersyukur pada Tuhan semesta alam. 

 

Keselamatan bersama adalah tujuan, dan kepentingan apapun dibalik ini harus dilepaskan. Jasad saudara-saudara kita banyak bergelimpangan, korban berjatuhan, ribuan nyawa melayang. Tangis kita pecah, sedih kita melelehkan air mata. Kembalikan ini sebagai ujian Tuhan atas kita. Kita teguhkan, bahwa hidup harus kuat dan melawan virus Covid-19 adalah pasti, tentu dengan Vaksinasi sebagai cara negara melindungi rakyatnya. Kita wajib disuntik vaksin untuk tujuan keselamatan. 

 

Mari, sejenak melumpuhkan diri di hadapan Allah SWT, Tuhan yang maha kuasa, Tuhan yang maha mengobati. 

 

َنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً، فَقَالَ : يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ  يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفِ

رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح وفي رواية غير الترمذي: احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ، وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً

 

 

Artinya : "Dari Abu Al Abbas Abdullah bin Abbas radhiallahuanhuma, beliau berkata : Suatu saat saya berada dibelakang Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda : Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara: Jagalah Allah, niscaya dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya Dia akan selalu berada dihadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu , niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering."

 

Riwayat Turmudzi dan dia berkata : Haditsnya hasan. Dalam sebuah riwayat selain Turmudzi dikatakan : Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatkan-Nya didepanmu. Kenalilah Allah di waktu senggang niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah bahwa apa yang ditetapkan luput darimu tidaklah akan menimpamu dan apa yang  ditetapkan akan menimpamu tidak akan luput darimu, ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesengsaraan dan bersama kesengsaraan akan ada  kemudahan. 

 

Kita pun, perlu tengok diri kita. Sudahkah berbuat baik pada diri ini dan orang lain dengan selalu berdasarkan kesadaran bahwa hidup memang harus bersama mewujudkan kemaslahatan, sebab tujuan kita beragama adalah demi maslahat yang umum.

 


عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ سعْدُ بْنِ سِنَانِ الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلَّمَ قَالَ : لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَه وَالدَّارُقُطْنِي وَغَيْرُهُمَا مُسْنَداً، وَرَوَاهُ مَالِك فِي الْمُوَطَّأ مُرْسَلاً عَنْ عَمْرو بْنِ يَحْيَى عَنْ أَبِيْهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْقَطَ أَبَا سَعِيْدٍ وَلَهُ طُرُقٌ يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضاً

 

Artinya : "Dari Abu Sa’id, Sa’ad bin Sinan Al Khudri radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Tidak boleh melakukan perbuatan (mudharat) yang mencelakakan diri sendiri dan orang lain“.

 

Hadits hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Daruqutni serta selainnya dengan sanad yang bersambung, juga diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Muwattho’ secara mursal dari Amr bin Yahya dari bapaknya dari Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam, dia tidak menyebutkan Abu Sa’id. Akan tetapi dia memiliki cara yang menguatkan sebagiannya atas sebagian yang lain. 

 

Hadits diatas, saya sajikan sebagai pengingat ke kita, dengan begitu bahwa prokes itu kebijakan pemerintah yang tepat. Untuk menjadi cara penyelamatan bersama. Yang sudah bagus jangan dirusak, yang sudah ditaati janganlah dilanggar, dan yang di tengah darurat maka jangan sekali-kali melakukan kejahatan. 

 

Optimis, besok adalah harapan. Semangat hidup tak boleh pudar, hidup normal tanpa zona merah, tanpa zona oranye. Cukup hijau saja. 


Hamdan Suhaemi, Ketua Pengurus Wilayah Rijalul Ansor Banten