Home Warta Nasional Banten Raya Tokoh Fragmen Sejarah Keislaman Ubudiyyah Syariah Tauhid Khutbah Doa Serba-Serbi

Antara Corona, SWAB, Vaksin, dan Jaga Imun

Antara Corona, SWAB, Vaksin, dan Jaga Imun
Antara Corona, Swab/pcr, Vaksin dan jaga imun. (Ilustrasi : NU Online)
Antara Corona, Swab/pcr, Vaksin dan jaga imun. (Ilustrasi : NU Online)

Antara Corona, SWAB, Vaksin, dan Jaga Imun

Belum lama ini ada kawan yang berkunjung ke rumah. Walaupun masa pandemi, saya persilahkan karena dia baru sembuh dari Covid-19. Sehingga saya berharap aman dan bisa bertukar cerita agar bisa menjadi pelajaran sebagai sesama penyintas Covid-19.

 

"Saya ga akan mau di vaksin, dan jangan lapor ke puskesmas kalau kena Covid Mas," Saya mengawali kata pembuka setelah mempersilahkan masuk dan duduk. Setelah itu bertukar kabar satu sama lain.

 

"Teman saya habis di vaksin dua kali sekarang positif Covid, saya kemarin juga positif bersama istri lapor ke puskesmas dan sudah memberikan data yang mereka minta. Tapi setelah itu tidak ada tindakan apapun, jangankan susu sekotak atau vitamin, menanyakan kabar perkembangan dan keadaan saya juga tidak, hingga saya dan istri sembuh, terus ngapain harus vaksin dan lapor puskesmas kalau kita positif, toh ga ada efeknya," Imbuhnya  dengan semangat, padahal belum disajikan minum apapun.

 

Tetangga depan rumah pun berkisah soal Covid dengan cerita yang berbeda tapi hampir serupa.

 

Ketika sedang menyapu daun klengkeng depan rumah yang lagi rontok -padahal belum musim gugur- karena menguning, tetangga depan rumah tiba-tiba datang dan bercerita bahwa dia sedang isolasi mandiri karena sudah dua hari demam dan batuk, sudah minum obat warung dan ke klinik tapi belum juga reda.

 

"Saya lagi isolasi mandiri nih Ji (Haji maksudnya, karena secara umur saya lebih muda), begitu Beliau biasa menyapa, Ia lanjut bercerita “Sudah dua hari demam dan batuk belum sembuh, anak-anak minta saya lapor puskesmas biar di SWAB/PCR tapi saya ga mau, saya lebih memilih minta di antar ke klinik langganan yang tidak jauh dari rumah lebih simpel ga ribet dengan SWAB/PCR langsung diperiksa dan dikasih obat," katanya.

 

"Tapi setelah dari klinik batuknya masih belum hilang akhirnya anak-anak meminta saya agar melapor ke puskesmas. Akhirnya mereka antar ke puskesmas untuk lapor selanjutnya saya di SWAB/PCR agar tahu apakah tertular Covid-19 atau flu biasa," lanjutnya dengan tertawa kecil.

 

Menunggu, Entah kapan hasil PCR keluar, tetangga depan rumah pun belum tahu karena hanya di suruh menunggu dan isolasi mandiri di rumah dan jangan kemana-mana padahal saat bercerita Beliau mendatangi saya dan bercerita panjang lebar. Walaupun pake masker tapi tetap saja protokol isolasi mandiri sudah di abaikan.

 

Dari kedua kisah teman dan tetangga tersebut ada hal yang menarik untuk kita renungkan bersama. Pertama mereka sama-sama percaya bahwa Covid-19 itu ada dan nyata. Mempercayai adanya karena mereka sudah sama-sama menjadi penyintas walaupun gejalanya mungkin berbeda.

 

Kedua, mereka sama-sama tidak percaya terhadap lembaga atau institusi pemerintah yang dipercaya untuk menangani Covid-19, yaitu Puskesmas. Alasannya jelas, karena tidak ada efek positif atau tindakan konkrit setelah mereka lapor. Ditanggapi hanya sekedar laporan untuk menambah angka statistik penderita covid-19 tanpa ada langkah-langkah solutif lainnya. Bahkan kemarin mendapat kabar bahwa hasil PCR tetangga baru di antar setelah sehat dan segar bugar dari covid-19.

 

Ketiga soal vaksin, apa bedanya vaksin jika toh sama-sama punya potensi untuk tetap kena covid-19? Pertanyaan ini bisa jadi benar bisa jadi salah karena dari awal pemerintah sudah menjelaskan bahwa setelah vaksin bukan terbebas 100% dari covid tapi masih ada potensi 40 % terjangkit atau tertular tapi dengan gejala yang tidak seberat kalo belum vaksin dan 60% bisa kebal dari Covid-19 (baca: Vaksin).

 

Pernah saya sampaikan pada teman yang dekat dengan pemangku kepentingan yang menangani soal vaksinasi. Bahwa sebagian masyarakat masih ada yang belum yakin dengan vaksin. Karena menurut mereka walaupun sudah vaksin masih tertular Covid-19 juga. Akhirnya, teman merespon dengan mengirim data statistik yang menunjukkan bahwa 80% orang yang sedang dirawat di Wisma Atlet (Rumah Sakit khusus Covid-19) adalah orang yang belum di vaksin.

 

Berdasarkan data pemerintah tersebut apakah bisa meyakinkan masyarakat? Jawabnya belum, walaupun data tersebut faktual dan disampaikan oleh ahlinya, ternyata masyarakat dibawah punya asumsi sendiri berdasarkan kejadian yang terjadi di sekitar mereka. 

 

"Di kampung banyak yang meninggal setelah divaksin, dulu sebelum ada vaksin tidak banyak yang meninggal tapi setelah vaksin--karena dipaksa pemerintah dengan ditakut-takuti ini dan itu--akhirnya banyak yang ikut vaksin tapi banyak yang meninggal", Kata teman di kampung begitu menunjukkan data dari temanku yang menjadi pejabat tadi.

 

Mungkin butuh penelitian lebih lanjut tentang akurasi premis tersebut. Apakah equivalen dengan kasus yang terjadi atau hanya asumsi sebagian masyarakat bawah bahwa vaksin tidak penting termasuk kawan yang orang kampung tadi. Karena tidak ada data pastinya berapa yang di vaksin dan berapa yang meninggal. Penulis mendapat info juga banyak kasus orang yang akan vaksin tidak ditanya apakah punya penyakit bawaan. Atau tidak sehingga ada kemungkinan itu yang menyebabkan sebagian yang sudah di vaksin meninggal.

 

"Orang kampung tidak butuh vaksin karena imunnya sudah kuat, berjemur dan mencangkul atau membajak sawah adalah kerjaan sehari-hari yang sudah melebihi olahragawan dalam mengeluarkan kalori dalam tubuhnya", Kata temanku menimpali dengan dibumbui sedikit teori kesehatan.

 

Memang banyak teori yang menyebutkan bahwa imun yang kuat adalah kunci agar virus tidak masuk kedalam tubuh kita. Untuk meningkatkan imun inilah yang mungkin berbeda antara individu di perkotaan dan di pedesaan atau di kampung.
 

Bagi masyarakat perkotaan mungkin, divaksin akan lebih bagus karena kondisi masyarakat yang mobilitasnya sangat tinggi dan banyak interaksi anatr individu sehingga rawan terinfeksi virus. Berbeda dengan masyarakat dikampung yang rutinitasnya kerja di sawah atau kuli bangunan itupun di tempat tetangga yang tidak jauh dari rumah.

 

Begitu juga dengan PPKM Darurat bagi masyarakat kampung, tidak akan berefek banyak karena mereka tidak pernah kemana-mana, paling mereka hanya di larang hajatan secara besar-besaran itupun tidak masalah bagi mereka.

 

Tapi berbeda dengan masyarakat di perkotaan, begitu PPKM Darurat diberlakukan banyak sekali yang kena imbasnya. PHK dimana-mana, pekerja harian harus memutar otak untuk mencari nafkah, pekerja rumah makan, cafe bahkan mall harus di rumahkan sementara karena diharuskan tutup oleh pemerintah, dan masih banyak kasus kehilangan pekerjaan akibat PPKM Darurat tersebut.

 

Bagi sebagian masyarakat yang menganggap bahwa karena PPKM Darurat justru membuat imun masyarakat semakin lemah karena stres memikirkan esok makan apa, karena imun lemah virus mudah masuk akhirnya sakit. Karena masyarakat tidak mau lapor tapi isolasi mandiri -cara mereka sendiri- akhirnya sakitnya semakin parah bahkan banyak yang meninggal. 

 

Apakah kasus di atas bisa disimpulkan meninggal karena Covid-19 atau karena stres memikirkan ekonomi yang berakibat imun menurun akhirnya sakit lalu meninggal? Atau karena tertular Covid-19 lalu imun menurun akhirnya sakit dan meninggal? 

 

Vaksinasi masih jauh dari target 70% warga Indonesia tervaksin agar tercipta herd immunity (kekebalan mayoritas). Padahal dibawah masyarakat sendiri masih banyak yang belum yakin dengan vaksin. Sedangkan disisi lain nampaknya imun masyarakat kita semakin menurun karena PPKM Darurat sudah diperpanjang dua kali. Saat menulis ini pun Presiden sudah memperpanjang lagi PPKM Darurat sampai tanggal 9 Agustus. Lebih baik kita merayakan dulu kemenangan ganda putri Indonesia Greysia-Apriyani yang baru saja menyumbangkan emas di Olimpiade Tokyo daripada menunggu jawabannya bukan?*

 


Ogy Sugiyono, Dewan Pembina Laskar Santri Nusantara, Wakil Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Banten.