Home Warta Nasional Banten Raya Tokoh Fragmen Sejarah Keislaman Ubudiyyah Syariah Tauhid Khutbah Doa Serba-Serbi

Hakikat Tauhid: Manusia Butuh Tuhan

Hakikat Tauhid: Manusia Butuh Tuhan
Hamdan Suhaimi (Foto: Hamdan Suhaimi
Hamdan Suhaimi (Foto: Hamdan Suhaimi

Oleh : M. Hamdan Suhaemi 

Masalah Awal

 

Hidup, jika kita pahami sebagai anugerah Tuhan untuk manusia tentu perlu ada rasa syukur padanya. Secara wataknya ( al-thabiiyyah )  hidup kita atur menurt pola pikir ( rasio ) dan keinginan sendiri. Inilah kemudian manusia dianggap merdeka dalam menentukan hidupnya ( qodariyah ),  meski secara etika ada norma yang menilai baik dan buruknya perilaku. Adapun jika kita lihat manusia dalam potret antropologis ( al-basyariyyah ), manusia pula menentukan bagaimana hidup dan menghidupinya secara manidiri, biar bagaimanapun secara positivisme Comte, manusia merdeka dalam menentukan hidupnya tanpa perlu campur tangan Tuhan. Ia bekerja, ia memenuhi hajat hidupnya adalah kesendirian yang dilakukan manusia tanpa adanya peran Tuhan terhadapnya.

 

Manusia modern, yang hidup pasca revolusi industri abad 18 adalah manusia yang telah menggunakan rasionalitasnya dalam mempetimbangkan segala sesuatau yang terkait dengan problem ( al-masail al-dunyawiyyah ), tantangan, dan kesempatan. Manusia modern telah keluar dari konservatismenya pada sinkretisme dogma dan mitos, ia terus melakukan pengembangan, inovasi dan evolusi secara massif dan dinamis. Ini pula menjadi karakteristik manusia modern yang sedikit melupakan konsepsi dasarnya sebagai manusia ontologis. Tak jarang di setiap peri kehidupannya ada kecenderungan melupakan Tuhan, tipe manusia modern yang tengah ada dalam kehidupan sekuler ( memisahkan dunia dengan Tuhan ), seolah kesejatian dan kebenaran selalu berdasarkan persepsi.

 

Manusia di milenium ketiga ( abad 21 ) sudah tidak bicara postivisme, sudah tidak bicara sinkretisme, tidak lagi bicara sekularisme, atau tidak dalam mengamalkan komunisme. Kini manusia milenium ketiga menurut perspektif Nietszche tengah memasuki kebiasaan agnostik dengan cirinya “ ubermensch “ ( manusia mulya atau manusia kuat ), dengan pengertian manusia sudah berkeinginan mematikan Tuhannya ( god is dead ). Persepektif itu secara kasat kita temukan di beberapa pandangan dan perilaku hidup yang tidak lagi bicara Tuhan jika tengah bicara kebenaran, atau tengah bicara persoalan keseharian manusia, sosial dan politik. Kalaupun mereka manusia agamis, ternyata yang nampak adalah simbolik. 

 

Pandangan Ulama Sufi

 

Soal di atas tentu kita carikan solusinya, agar kehidupan yang dilandasi agama tidak lagi terjebak pada klaim, tidak pada panatisme, tidak juga pada kedangkalan paham agama. Sejatinya manusia beragama kini perlu punya pegangan kuat dalam sinergtas antara kehidupan duniawi dengan kehidupan yang bermanfaat ukhrowi. Agama sekali lagi tidak lagi dijalankan secara simbolik semata tapi pengamalannya berlandaskan iman ( tauhid ), pengamalan syariat yang sempurna sesuai ilmu agama, serta dikuatkan dengan spiritualitas beragama ( penekanan pada maqomat keimanan).   Imam Abu al-Qosim Junaidi al-Bagdady telah memberi arah pada kita dengan pandangannya terkait peneguhan iman “

 

افراد التوحید بتحقيق وحدانيته بكمال احد يته انه الواحد الذي لم يلد و لم يولد بنفي الاضداد و الا نداد و الا شباه بلا تشبيه ولا تكيف ولا تصوير ولا تمثيل ليس كمثله شيئ  " .

 Kemudian Imam Abu ‘Aly al-Rudzbary mengarahkan kepada kita untuk terus menguatkan keimanan sebagai suluhnya beragama “  

 

استقامة القلب با ثبات مفارقة التعطيل وانكار التشبيه

 

 Pandangan 2 ulama sufi ini bermaksud menjadi petunjuk ke kita agar memkanai kehidupan kini tentu dengan landasan yang kuat, dengan pondasi keimanan yang teguh, pematangan ketauhidan atas Tuhan ( Allah SWT ), yang bagi orang –orang agnostik dan ateis selalu bersikap “ pengingkaran “ atasnya. 

Akhir Kalimat

 

Secara ontologis manusia masih membutuhkan Tuhan, sekalipun paham dan ide tentang pengingkaran atas eksistensi Tuhan tengah dihembuskan oleh kaum agnostik ( beragama tanpa agama ), ini diprediksi sebagian umat manusia sedang memasuki babak baru cara beragama dengan pola agnostik. Kalaupun ada kaum fundamentalisme agama yang menjunjug tinggi simbol agama tampak tengah mendakwahkan cara beragamanya secara ekslusif dan syarat akan identitas. 

 

Manusia Indonesia yang yakin dan percaya adanya Tuhan, maka menjadi kenesicayaan untuk tetap merawat keyaiknan tersebut dengan konsekuen dan lurus. Sebab kita orang beragama terlalu naif jika sudut pandangnya selalu klaim kebenaran atas diri. Yang penting kehidupan beragama kita konsisten menaburkan manfaat, kedamaian dan maslahat ( al-mashlahtu al-‘ammah ) bagi kita, dan semua manusia.