Home Warta Nasional Banten Raya Tokoh Fragmen Sejarah Keislaman Ubudiyyah Syariah Tauhid Khutbah Doa Serba-Serbi

KH Mas Abdurrahman, Pendiri dan Salah Satu Pelopor NU di Banten

KH Mas Abdurrahman, Pendiri dan Salah Satu Pelopor NU di Banten
Ketokohan Kiai Mas Abdurahman di Banten inilah yang membuat penyelenggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama ke 13 diadakan di Menes, Banten pada 12 Juli 1938. Sebuah kota kecil di ujung barat Pulau Jawa.
Ketokohan Kiai Mas Abdurahman di Banten inilah yang membuat penyelenggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama ke 13 diadakan di Menes, Banten pada 12 Juli 1938. Sebuah kota kecil di ujung barat Pulau Jawa.

Delapan bulan terhitung sejak Nahdlatul Ulama didirikan, Muktamar perdana digelar tanggal 21-23 September 1926 (14-16 Rabiul Awal 1345 H) di Hotel Muslimin di Jalan Peneleh, Surabaya.

 

Pada Muktamar ini dihadiri 93 kiai-kiai khos saat itu, dari Jawa bagian barat hingga Madura. Diantaranya yang hadir KH Nawawie Sidogiri Pasuruan, KH Doro Muntaha-Bangkalan, KH Ridwan Abdullah, KH R Asnawi-Kudus, KH Djubeir, KH Faqih Maskumambang Gresik, KH Mohammad Ma'roef Kedung Kediri, dan KH Mas Abdurahman Menes Banten.

 

Hingga pada Muktamar Ketiga pada 28-30 September 1928 (23-25 Rabiul Tsani 1347 H), Muktamar ini perkembangan dan kemajuan NU begitu pesat, bahkan dihadiri oleh lebih banyak peserta, 260 kiai dari berbagai cabang di Jawa dan Madura. Antusiasme begitu mengikuti Muktamar begitu nampak, saudagar, petani, buruh, kalangan muda Nahdliyin dan santri-santri senior dari berbagai pesantren ikut meramaikan arena Muktamar.

 

Muktamirin dibagi kedalam tujuh majelis yang masing-masing dipimpin oleh seorang kiai senior didampingi oleh dua orang sekretaris yang membantunya. Satu untuk menulis di papan tulis dan satu lagi bertindak sebagai notuelen. Agenda yang dibahas biasanya berasal cabang-cabang yang kemudian diusulkan kepada Hoofd Bestuur (Pengurus Besar) untuk dibahas dalam Muktamar.

 

Safrizal Rambe dalam bukunya berjudul ‘Peletak Dasar Tradisi Berpolitik NU, Sang Penggerak Nahdlatul Ulama; KH Abdul Wahab Chasbullah Sebuah Biografi’ Terbitan Madani Institute, Tahun 2020 cetakan pertama Hal 199, menerangkan Dalam Muktamar ini terjadi penyegaran susunan pengurus dengan mengganti pengurus yang tidak aktif, Susunan kepengurusan yang semula berjumlah 46 orang, bertambah menjadi 51 orang. 

 

Hadratussyaikh KH Hasyim Asy`ari menjadi Rais Akbar dan Ketua Tanfidziyah tetap dijabat oleh Hasan Gipo. 

 

Komposisi Mustasyar terjadi beberapa perubahan pengurus, diantaranya dengan masuknya Syekh Abdul ‘Alim Ash-Shiddiqi-India, KH Mas Abdurahman, salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama di Banten yang juga pendiri Mathlaul Anwar. KH Zuhdi Pekalongan dan KH Abbas Pekalongan. KH Wahab Chasbullah sendiri yang semula menjabat Katib Syuriah dalam perombakan pengurus di Muktamar ini beralih menjadi Mustasyar.

 

Di Banten, wilayah bagian paling barat Pulau Jawa, Nahdlatul Ulama menemukan teman seperjuangannya di Banten. KH Mas Abdurrahman yang telah berdiri lebih dulu mendirikan Mathlaul Anwar pada tahun 1916.

 

KH Mas Abdurahman menjadi salah satu pendiri Mathlaul Anwar. Dan salah satu ulama Banten yang juga rekan sejawat Hadratussyaikh KH Hasyim Asy`ari, saat keduanya bersama-sama menuntut ilmu di Makkah. Karena sama-sama murid Syekh Nawawi al-Bantani. Membuat Kiai Abdurahman dan KH Entol Muhammad Yasin menyatakan diri bergabung dengan NU. Setelah itu turut menghadiri Muktamar ketiga dan keempat. 

 

Pada Muktamar Keempat di Semarang tahun 1929. Utusan dari Jawa bagian barat, waktu itu belum menjadi provinsi Banten karena masa itu, Banten menjadi salah satu wilayah yang masuk kedalam provinsi Jawa Barat. 

 

KH Mas Abdurrahman tak datang ke lokasi Muktamar sendiri, ia bersama KH Abdul Latief Cibeber dan KH Abdul Aziz Cilegon turut hadir dalam Muktamar keempat di Semarang.

 

Melansir tulisan Abdullah Alawi berjudul 'Vorstel Pendidikan dari Menes di Muktamar Keempat' yang pernah dimuat dalam laman NU Online. Menerangkan Ada kegairahan dari Cabang NU Pandeglang menyambut Muktamar NU keempat di Semarang. Selain aktif mengajukan pertanyaan, cabang tersebut mengajukan permohonan yang cukup maju dalam bidang pendidikan. 

 

Sebelum Muktamar keempat, NU Cabang Pandeglang mengirikan Voorstel (pengajuan) kepada Hoofd Bestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO) agar membahas masalah pendidikan. Voorstel tersebut dimuat di Swara Nahdlatoel Oelama edisi bundel hal 172-173.

 

“Diharap supaya mengadakan Departemen Onderwijs (Bagian Pengajaran) buat mengatur nidzomnya (organisatiennya) pengajaran madrasah-madrasah dan mengatur pangkat susunannya madrasah, yang rendah, yang pertengahan, dan yang tinggi, agar supaya madrasah-madarasah yang sudah di bawah genggamannya Nahdlatul Ulama bisa sama pengaturan dan pelajarannya dan anak-anak yang maju himmah tiada putus di tengah jalan, juga dengan diadakan fonds (persediaan uang) buat keperluannya yang mengatur tersebut di atas.” 

 

Selain karena usulan tersebut, Ketokohan Kiai Mas Abdurahman di Banten inilah yang membuat penyelenggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama ke 13 diadakan di Menes, Banten pada 12 Juli 1938. Sebuah kota kecil di ujung barat Pulau Jawa.

 

KH Mas Abdurrahman, KH Entol Muhammad Yasin, KH Abdul Latief Cibeber, dan KH Abdul Aziz Cilegon adalah sekian tokoh yang telah berjasa besar bagi perkembangan dakwah NU di wilayah Banten saat itu. Ketika Kiai dan Santri berjuang dari penjajahan kolonial Belanda. Serta berupaya secara penuh memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

 

 

Penulis : Arfan Effendi
Editor : Ari Hardi