Home Warta Nasional Banten Raya Tokoh Fragmen Sejarah Keislaman Ubudiyyah Syariah Tauhid Khutbah Doa Serba-Serbi

Idul Fitri dan Kaitannya Terhadap Hati Nurani

Idul Fitri dan Kaitannya Terhadap Hati Nurani
ilustrasi foto dok nu online
ilustrasi foto dok nu online

Beberapa saat lalu umat Islam telah melaksanakan dan menyelenggarakan hari besar yang dikenal sebagai hari raya Idul Fitri. Hari itu juga lazim disebut sebagai hari kemenangan setelah menjalankan puasa Ramadhan sebulan penuh.

Sebagai salah satu hari raya umat Islam, Idul Fitri memiliki dua kata yang saling berhubungan satu sama lain, yaitu kata ‘id dan fitri. Kata ‘id dalam bahasa Arab dapat diartikan sebagai kembali, sedangkan kalimat fitri bisa diartikan sebagai fitrah yang berarti sifat asal atau naluri.

Dalam penggabungan dua kalimat di atas maka terciptalah suatu padanan kalimat yang dalam bahasa Arab menjadi ‘Idul Fitri yang dapat bermakna kembali kepada fitrah atau kembali kepada sifat asal.

Inilah yang menarik untuk diperbincangkan lebih lanjut. Kembali kepada fitrah manusia dapat berarti setelah berpuasa menahan lapar serta dahaga selama bulan Ramadhan. Pada Idul Fitri, manusia kembali kepada fitrah asalnya yaitu diperbolehkannya makan dan minum dengan bebas.

Kembali ke fitrah juga dapat berarti kembali pada fitrah awal kejadian adanya manusia, yaitu kembali suci dan bebas dari noda dosa. Hal itu disebabkan umat Islam telah berpuasa selama bulan Ramadhan. Hal ini senada dengan sabda Nabi SAW yang berbunyi:

 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

 

Artinya: Barang siapa yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR. Bukhari)

Fitrah juga dapat berarti memperbaiki hati nurani kembali kepada asal. Waktu demi waktu terus berjalan, dalam hidup pasti terdapat banyak kejadian yang membuat hati nurani kita berubah. Yang berkomitmen menjaga masyarakat justru malah menindasnya, yang awalnya takut mencuri malah menjadi pencuri, dan berbagai hal yang tidak sesuai dengan asalnya.

Setelah kembalinya fitrah manusia sebagai makhluk yang makan dan minum, manusia juga kembali kepada fitrah yang tersucikan dari dosa. Lalu manusia harus berusaha untuk mengembalikan hati nurani kepada fitrahnya, yaitu condong pada segala hal yang baik.

Lalu bagaimana dapat kita ketahui bahwa hati nurani akan selalu condong kepada hal yang baik? Mari simak sabda Nabi Muhammad SAW.

 

اِسْتَفْتِ قَلْبَكَ، الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ، وَاْلإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ، وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ

 

Artinya: Mintalah pendapat dari hatimu, kebaikan adalah apa yang jiwa dan hati tenang karenanya, dan dosa adalah apa yang terasa mengganggu jiwa dan menimbulkan keragu-raguan dalam dada, meskipun orang-orang memberi fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya (HR. Ahmad)

Namun, apakah setiap hati dapat dimintakan pendapat? Apakah setiap perkara yang membuat hati tenang itu bisa dikatakan sebagai kebaikan? Apabila kita mencuri kemudian hati kita tetap tenang dalam melaksanakannya, apakah itu termasuk dalam kebaikan?

Jawabannya tentu saja tidak. Tidak setiap hati dapat dijadikan tempat bersandar sepenuhnya. Lalu hati seperti apa yang dapat dijadikan pedoman? Hati yang dapat dijadikan pedoman adalah hati yang bersih, hati yang selalu berpegang teguh pada dua sumber primer umat Islam, yakni Quran dan Hadis.

Memang, takaran kebaikan ataupun keburukan hati hanya Tuhan dan sang empunya yang mengetahui. Maka dari itu, masing-masing individu dituntut untuk mengetahui posisi hatinya tersebut, condong terhadap kebaikan ataukah keburukan.

Dalam perjalanan hidup seseorang tentu saja telah melewati berbagai macam peristiwa dan keadaan yang mempengaruhi kondisi dari hati. Bisa saja seseorang awalnya hidup mengikuti hati nurani, lalu mengalami perubahan sebab berbagai peristiwa yang dilewatinya.

Contohnya, anak kecil yang berkeinginan untuk membeli sesuatu dan tidak mempunyai uang. Kemudian anak tersebut berusaha mengambil uang yang ada di dompet ibunya. Pada percobaan pertama, hati anak tersebut akan gundah. Ia tau jika perbuatannya tidak diperbolehkan dan tidak sesuai dengan hati nurani. Namun, anak itu memaksakan kehendak dan mengesampingkan kata hati, dan ia tetap mengambil uang ibunya. Usai ia mengambil uang, ternyata ibunya tidak menyadari. Kemudian anak tersebut melakukan hal tersebut berkali-kali sampai pada titik dia tidak lagi gundah akan perbuatan mengambil uang ibunya tanpa izin.

Dari contoh di atas, Jelas si anak tersebut awalnya merasakan kegundahan, namun ia tidak mengindahkan perasaan tersebut dan terus melanggengkan kegiatan mencuri. Pada akhirnya hatinya menjadi tenang meskipun melakukan keburukan.

Pada konteks kekinian, saat zaman serba berkemajuan, yang paling ditakutkan adalah fitrah atau hati nurani yang selama ini mengarah kepada kebaikan menjadi bergeser dan condong pada keburukan. Fitrah atau hati nurani tidak sesuai lagi dengan fungsi awalnya. Hal itu bisa disebabkan berbagai macam peristiwa yang terjadi.

Lalu hal apa yang dapat memberikan penyegaran kembali terhadap hati nurani agar kembali kepada fitrahnya yang selalu mengarah pada kebaikan?

Mengambil pendapat KH. Habib Adnan yang dikutip oleh Ary Ginanjar dalam bukunya ESQ, agama Islam adalah agama fitrah sesuai dengan kebutuhan, dan dibutuhkan manusia. Kebenaran Islam senantiasa selaras dengan suara hati manusia. Itu membawa pada kesimpulan bahwa seluruh ajaran Islam merupakan tuntutan suara hati manusia.

Sehingga dapat dipahami bahwa hati dapat kembali kepada asal mulanya atau kembali kepada fitrahnya apabila ia dibaluri dengan prinsip-prinsip ke-Islaman yang berpegang teguh pada sumber agama Islam, yakni Quran dan Hadis. Tentu saja, penjelasan Quran dan Hadis didapatkan dari para ulama yang ahli di bidangnya.

Maka, dalam momentum Idul Fitri ini, selain manusia kembali dapat merasakan fitrahnya sebagai makhluk yang dapat makan dan minum dengan bebas dan kembali suci setelah melaksanakan puasa, manusia juga harus mengembalikan hati nurani kepada fitrahnya, yaitu selalu condong kepada kebaikan.

Untuk itu, ada cara yang dapat dilakukan. beberapanya adalah memperdalam keilmuan agama dengan arahan guru yang benar, sering bertafakur atas peristiwa yang terjadi, senantiasa menjunjung tinggi  rasa sosial satu sama lain, dan kegiatan positif lainnya.

Bayangkan apabila banyak individu yang kembali mempunyai hati nurani yang baik, maka tentu saja penderitaan yang terjadi selama ini akan jauh berkurang dari apa yang telah terjadi sekarang.

Apabila para pejabat mengikuti hati nurani yang baik, maka akan tercipta kekuasaan yang baik. Juga, apabila para masyarakat kembali kepada hati nuraninya, maka akan tercipta pula kondisi sosial yang kondusif dan tidak merusak.

Memanfaatkan momen hari raya Idulfitri ini, mari bersama-sama memperbaiki kualitas diri agar hati nurani yang sering diabaikan dapat kembali menjadi hati nurani yang sesuai fitrah, yaitu selalu condong kepada kebaikan. Yang tak kalah penting, hati nurani yang baik harus senantiasa diikuti, agar tidak kembali pada keburukan.