Home Warta Nasional Banten Raya Tokoh Fragmen Sejarah Keislaman Ubudiyyah Syariah Tauhid Khutbah Doa Serba-Serbi

Bahtsul Masail Adalah Ruh NU

Bahtsul Masail Adalah Ruh NU
Pengurus LBM NU Tangsel dalam suatu acara Mahtsul Masaail (Foyo: LBM NU Tangsel)
Pengurus LBM NU Tangsel dalam suatu acara Mahtsul Masaail (Foyo: LBM NU Tangsel)

Beberapa hari yang lalu, 28 Maret 2021, saya berkesempatan sowan ke Kiai Azizi dan Kiai Zahro. Keduanya adalah tokoh Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) Jawa-Madura yang sudah jamak dikenal kepakarannya. Di sela agenda bahtsul masail LBM PWNU DKI yang diadakan di Masjid al-Mukhlishin Penjaringan Jakarta Utara, kami sowankan agenda LBM PCNU Tangerang Selatan. Yakni perintisan tradisi bahtsul masail di Tangsel khususnya, dan Jabodetabek pada umumnya. Mendengar ini, beliau berdua tersenyum ramah dan berbinar.

 

Lima belas tahun yang lalu, tepatnya di tahun 2006, pertama kalinya saya bertemu Kiai Azizi. Momentnya adalah pelatihan bahtsul masail yang diadakan oleh Pesantren Fathul Ulum Kwagean Kediri. Di tahun-tahun berikutnya, saya bisa menyimak keluasan ilmu beliau di forum-forum bahtsul masail Jawa-Madura. Terakhir adalah di Pesantren Lirboyo Kediri, 2008. Waktu itu, saya mewakili musyawirin pesantren Mahir Arriyadl Ringinagung Pare.

 

Setelah lebih 13 tahun tak bersua dengan beliau, siang itu dapat berbincang. Beliau berpesan untuk telaten dan sabar ikut khidmah menghidupkan bahtsul masail di Jabodetabek. Dalam beberapa tahun terakhir, forum bahtsul masail di Jabodetabek mulai sering diadakan. Mulai dari inisiasi pesantren-pesantren secara mandiri, ataupun LBM-LBM struktural NU. Selain itu juga telah terbentuk Forum Bahtsul Masail Pondok Pesantren (FBMPP) DKI Jakarta, Banten dan Jabar. Dengan sinergi dan kolaborasi, mimpi mentradisikan bahtsul masail di Jabodetabek, Banten, dan Jabar bukanlah sesuatu yang mustahil.

 

Bahtsul Masail dan Wasathiyah Islam

Sejalan dengan itu, selama lima tahun ke depan, LBM PCNU Tangsel memiliki tiga misi sebagai penjabaran dari visinya. Pertama, menjadi lembaga kajian permasalahan keagamaan yang berbasis turast klasik dan kontemporer sesuai dengan manhaj Ahli Sunnah wal Jamaah al-Nahdliyah. Kedua, menjadi lembaga kaderisasi penguatan penguasaan kitab turats bagi generasi muda. Ketiga, menjadi forum silaturahmi intelektual yang mengedepankan prinsip tasamuh, tawasuth, adil, dan tawazun. LBM PCNU Tangsel bermaksud hadir berkolaborasi dengan banyak pihak, di antaranya adalah pesantren-pesantren di Tangerang Selatan. Kolaborasi dan sinergi ini untuk mentradisikan bahtsul masail sebagai bagian dari upaya kaderisasi penguasaan kitab turats.

 

Untuk mewujukan visi misi di atas, setidaknya ada 5 program prioritas. Pertama, bahtsul masail antar pesantren se-Tangsel. Diadakan setiap bulan, dihadiri oleh delegasi pesantren-pesantren se-Tangsel. Bertempat di pesantren atau masjid secara bergantian. Kedua, batsul masail antar Pesantren Jabodetabek. Diadakan setiap triwulan, mengundang pesantren di Jabodetabek serta LBM PCNU Jabodetabek. Ketiga, bahtsul masail Jawa-Madura, diadakan setahun sekali dengan mengundang pesantren Jawa-Madura. Keempat, pendelegasian bahtsul masail Jawa-Madura. Mendelegasikan santri dari pesantren di Tangsel untuk mengikuti bahtsul masail Jawa-Madura. Kelima, kodifikasi dan publikasi di media sosial. Membukukan dan mempublikasikan hasil bahtsul masail dengan bahasa dan tampilan kekinian melalui website ataupun platform media sosial.

 

Dalam lintasan sejarah, bahtsul masail memiliki banyak manfaat. Selain untuk ajang silaturahmi antar santri, juga dapat menjadi forum kajian ilmiah bersama. Kemampuan santri untuk membaca, memahami, dan mengontekstualisasikan kitab kuning dapat diasah dan diasuh. Selain santri, bahtsul masail juga didampingi dewan perumus dan dewan mushahih. Biasanya, berasal dari asatidz dan kiai. Dari pendampingan ini, santri mendapatkan pencerahan ilmu saat menghadapi ragam pendapat ulama. Dengan pembiasaan ini, santri akan memiliki cara pandang yang luas, menghargai perbedaan, dan bertanggungjawab.

 

Bahstul Masail dan Pesantren

Dalam pandangan KH Husein Muhammad, bahtsul masail adalah bagian integral tradisi keilmuan pesantren. Tradisi ini merupakan pengejawantahan tiga metode pembelajaran yang digariskan Syaikh al-Zarnuji dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim. Pertama, munadharah, saling mengajukan pendapat atau pemikiran. Kedua, mudzakarah, saling mengingatkan dan menanggapi silang pendapat. Ketiga, mutharahah, saling menawarkan dan menguatkan argumentasi masing-masing pendapat. Karena itu, melalui forum ini akan terbangun sikap tegas sekaligus terbuka.

 

Sejalan dengan ini, pada tahun 1988, di pesantren Watucongol Magelang, ulama NU telah memutuskan garis besar mekanisme bahtsul masail. Tiga di antaranya adalah:

 

pertama, memahami teks kitab klasik harus dengan konteks sosial historisnya. Poin ini merupakan bentuk kesadaran bahwa di satu sisi, literatur klasik sangat penting menjadi pegangan merespon dinamika masyarakat kontemporer. Namun di satu sisi, konteks historis antara dulu dan kini juga sangat menentukan dalam merumuskan hukum dan solusi. Solusi yang tepat di masa lalu, belum tentu sepenuhnya tepat untuk era sekarang. Mengingat kondisi masyarakat yang berbeda, meskipun keduanya sama-sama menginginkan kemashlahatan.

 

Kedua, mengembangkan kemampuan melakukan observasi dan analisis terhadap teks kitab kuning. Kemampuan ini akan berbanding lurus untuk menangkap esensi teks kitab kuning. Selain memudahkan untuk melakukan kontekstualisasi, juga penting untuk memahami nalar epistemik ulama salaf. Dengan demikian, kita tidak hanya mendapatkan rujukan hukum secara literal saja, tetapi juga menangkap alur dan argumentasi metodologisnya. Dari titik inilah, pengembangan hukum secara metodologis (manhaji) dapat dimungkinkan.

 

Ketiga, menghadapkan kajian kitab kuning dengan wacana aktual melalui bahasa yang komunikatif. Poin ketiga ini sangat penting untuk mendorong santri dan kalangan pesantren mampu menghidupkan kitab kuning. Hidup dalam artian dapat menjadi sumber inspirasi. Serta komunikatif turut andil meramaikan wacana aktual yang sedang berkembang di tengah masyarakat. Lebih dari itu, mampu memberikan rumusan yang solutif, mudah dipahami, dan implementatif.
Semoga.

 

Muhammad Hanifuddin, Ketua LBM PCNU Tangsel dan Pengajar Ma’had Darus-Sunnah Ciputat