Home Warta Nasional Banten Raya Tokoh Fragmen Sejarah Keislaman Ubudiyyah Syariah Tauhid Khutbah Doa Serba-Serbi

Tiga Cara Agar Doa Kita dikabulkan Allah 

Tiga Cara Agar Doa Kita dikabulkan Allah 
Ilustrasi (Foto: NU Online)
Ilustrasi (Foto: NU Online)

Ketika seorang muslim menginginkan sesuatu, di samping berusaha kita juga tidak bisa lepas untuk berdo’a kepada Allah agar apa yang kita inginkan terkabul. Allah sendiri telah menjanjikan terkabulnya do’a sebagaimana firman-Nya dalam surat Ghofir ayat 60 yang berbunyi:

 

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ..

 

Artinya: Dan Tuhanmu berfirman,”Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu”.
Namun, tentu kita merasakan bahwa tidak semua do’a yang kita panjatkan terkabul seketika itu juga, sehingga hal ini menimbulkan pertanyaan kenapa Allah tidak mengabulkan do’a hamba-Nya? Akibatnya, hal ini bisa membuat kecewa  dan bersu’uzon kepada-Nya. Naudzubillah min dzalik.

 

Sebenarnya, ketika berbicara tentang pengabulan do’a setidaknya ada tiga macam bentuk pengabulan do’a yang dijelaskan dalam kitab Ittihafatul Murid bi Jauharotut Tauhid.

 

أَنَّ الْإِجَابَةَ تَتَنَوَّعُ: فَتَارَةً يَقَعُ الْمَطْلُوْبُ بِعَيْنِهِ عَلَى الْفَوْرِ, وتَارَةً يَقَعُ ولَكِنْ يَتَأَخَرُ لِحِكْمَةٍ فِيْهِ, وَتَارَةً تَقَعُ الْإِجَابَةُ بِغَيْرِ الْمَطْلُوْبِ  حَيْثُ لَا يَكُوْنُ فِي الْمَطْلُوبِ مَصْلَحَةٌ نَاجِزَةٌ وفِي الْوَاقِعِ  مَصْلَحَةٌ نَاجِزَةٌ أَوْ أَصَلَحُ مِنْ ذَلِكَ

 

Artinya: Bentuk ijabah (pengabulan) do’a itu bermacam-macam. Terkadang do’a terkabul dengan segera sesuai permintaan. Terkadang do’a terkabul sesuai permintaan tetapi terlambat karena ada hikmah di baliknya. Terkadang pula do’a terkabul dengan bentuk yang tidak sesuai dengan permintaan. Ini dikarenakan apa yang diminta tidak mengandung maslahat, sedangkan apa yang diberikan Allah ada maslahat baginya. Atau bisa jadi apa yang diminta hamba ada manfaatnya, tetapi apa yang diberikan Allah jauh lebih mengandung maslahat”. (Abdus Salam bin Ibrahim, Ittihafatul Murid bi Jauharotut Tauhid, [Kairo: Universitas Al-Azhar lil Banin], 2018:243]

 

Penjelasan di atas bisa kita uraikan sebagai berikut:

 

Pertama, do’a yang dipanjatkan hamba akan dikabulkan sesuai permintaannya dengan segera. 
Bentuk yang pertama ini sepertinya menjadi dambaan setiap hamba. Ketika ia memohon sesuatu kepada Allah maka Allah akan mengabulkannya dalam waktu yang cepat sesuai apa yang dimintanya. Contohnya adalah ketika seorang musafir memohon keselamatan berkendara sampai ke tempat tujuan. Allahpun mengabulkan do’a musafir tersebut persis seperti apa yang ia minta. Atau ketika seorang pedagang yang berjualan berdo’a agar dagangannya laris. Kemudian, para pembeli datang berbondong-bondong memborong dagangannya.

 

Kedua, do’a yang dipanjatkan hamba akan dikabulkan sesuai apa yang ia inginkan, tetapi tidak dalam waktu yang cepat. Permintaan tersebut datang terlambat, berbeda dengan waktu yang diinginkannya. 
Tidak semua do’a seorang hamba terealisasikan dengan segera sesuai keinginanya. Contohnya adalah ketika seorang tunawisma meminta diberikan rumah. Akan tetapi, Allah baru mengabulkannya dua tahun kemudian. Sebenarnya, keterlambatan ini mengandung hikmah di baliknya yang mungkin hanya diketahui oleh Allah. Bisa saja ketika itu ia masih belum siap jika memiliki rumah sendiri dan tidak tahu cara merawat rumah dengan baik. Setelah dua tahun, ia baru dianggap sudah siap mengatur rumahnya sendiri.

 

Ketiga, Terkadang pula do’a terkabul dengan bentuk yang tidak sesuai dengan yang diinginkan. Hal ini dikarenakan apa yang diminta tidak mengandung maslahat, sedangkan apa yang diberikan Allah ada maslahat baginya. Atau bisa jadi apa yang diminta hamba memang ada maslahatnya, tetapi apa yang diberikan Allah jauh lebih mengandung maslahat.

 

Contohnya adalah ketika seorang murid berdo’a ingin melanjutkan pendidikannya ke Mesir. Namun, ia tidak lolos seleksi sehingga tidak bisa berangkat. Kemudian, ia dinyatakan lolos seleksi masuk perguruan tinggi di Indonesia. Melanjutkan pendidikan di Indonesia dianggap lebih baik baginya di banding di luar negeri karena sebenarnya keluarganya hanya mampu membiayainya kuliah di dalam negeri. Bisa jadi ketika ia melanjutkan di Mesir, ekonomi keluarga tidak mampu mencukupinya.

 

Semua do’a akan dikabulkan Allah. Hanya saja bentuknya berbeda-beda, tidak harus sesuai dengan permohonan hamba. Allahlah yang tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Baik menurut pandangan hamba belum tentu baik menurut pandangan Allah. Sedangkan apa yang menurut Allah baik, baik pula bagi kemaslahatan hamba.

 

Wallahu a’lam bisshowab

 

Suci Amalia, Penulis adalah Mahasiswi FDI UIN Jakarata dan Aktifis PMII Ciputat