Home Warta Nasional Banten Raya Tokoh Fragmen Sejarah Keislaman Ubudiyyah Syariah Tauhid Khutbah Doa Serba-Serbi

Ingat, Pelipatgandaan Pahala Tidak Hanya Milik Bulan Ramadhan!

Ingat, Pelipatgandaan Pahala Tidak Hanya Milik Bulan Ramadhan!
Ilustrasi (Foto: NU Online)
Ilustrasi (Foto: NU Online)

Ramdhan adalah bulan penuh dengan keberkahan dan keutamaan. Keutamaan bulan Ramadhan bisa kita temukan baik dalam Al-Qur’an dan Hadis. Tidak jarang ditemukan bahwa keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan berasal dari Hadis-hadis lemah, bahkan palsu. Selain itu, ada juga yang berdasarkan pemahaman yang tidak komprehensif. Hal demikian sama sekali tidak mengurangi kesucian bulan suci Ramdhan, namun justru perlu kita luruskan sampai kepada sumber dan pemahaman yang benar. 

 

Jika semisal keutamaan itu berasal atau dinisbatkan kepada ulama, berdasarkan cerita atau pengalaman empirik yang dilalui oleh ulama tersebut, maka itu menjadi sah-sah saja. Karena sebagian dari kekasih Allah swt. ada yang langsung ditunjukkan ganjaran hasil dari ibadah yang dilakukan. 

 

Menjadi bermasalah adalah ketika menyandarkan sebuah perkataan atau perbuatan kepada Nabi Muhammad saw. padahal beliau tidak pernah mengatakan atau melakukannya. Padahal dalam memverifikasi segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah saw. memiliki disiplin ilmu sendiri, yaitu Ilmu Hadis beserta turunan-turunannya. Rasulullah saw. sendiri jauh-jauh hari sudah menyampaikan sebuah ultimatum melalui sabdanya:

 

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

 

“Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

 

Salah satu keutamaan pada bulan suci Ramadhan yang perlu dipahami secara komprehensif adalah pelipatgandaan amal setiap ibadah yang dilaksanakan pada bulan suci Ramadhan. Pelipatgandaan amal pada bulan suci Ramadhan ini memang benar adanya dan berdasarkan Hadis shahih:

 

الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَلاَ يَرْفثْ وَلاَ يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ، فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائمٌ - مَرَّتَيْنِ - وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ - تَعَالَى - مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ، يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي، الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

 

“Puasa adalah benteng, maka (orang yang melaksanakannya) janganlah berbuat kotor (rafats) dan jangan pula berbuat bodoh. Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka katakanlah: ‘aku sedang berpuasa’ beliau mengulang ucapannya dua kali. Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang puasa lebih harum di sisi Allah swt. dari pada harumnya minyak misik, karena dia meninggalkan makanannya, minuman dan nafsu syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan membalasnya dan setiap satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa.”  (HR. Al-Bukhari)

 

 

Namun, perlu kita ingat bersama, bahwa dalil-dalil yang menyatakan bahwa setiap amal perbuatan akan dilipatgandakan tidak selalu spesifik pada bulan Ramadhan, namun secara global juga terjadi pada bulan-bulan lain selain Ramadhan. Ada beberapa dalil yang akan dilampirkan dalam tulisan ini.

 

Pertama:

 

مَنْ جَاۤءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشْرُ اَمْثَالِهَا ۚوَمَنْ جَاۤءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزٰٓى اِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ

 

“Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi).” (QS. Al-An’am: 160)

 

Beberapa sahabat kita mengira bahwa kebaikan itu hanya akan bertambah banyak pahalanya saat bulan Ramadhan. Akibatnya, mereka memfokuskan ibadah selama setahun hanya pada bulan Ramadhan. Misalnya, menutup aurat hanya pada bulan Ramadhan. Mereka mengira bahwa ketaatan dan kebaikan yang mereka lakukan pada bulan Ramadhan sudah cukup memenuhi kebutuhan pahala bulan-bulan setelahnya –dengan alasan pelipatgandaan amal, padahal konsep hitungan matematika Tuhan tidak demikian. Perbendaharaan Allah swt. amat luas.

 

Kedua:

 

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

 

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah: 261)

 

 

Grafik tradisi memberi yang meningkat di bulan suci Ramadhan tentu adalah fenomena yang patut disyukuri. Ada zakat, bagi takjil dan berbuka, ataupun sekedar sedekah dengan memberi secara cuma-cuma. Semua banyak dilakukan di bulan suci Ramadhan. 
Namun kenyataannya, kebutuhan orang-orang tidak hanya pada bulan Ramadhan saja, namun juga pada bulan-bulan setelahnya. Mereka menunggu uluran tangan di kita setiap hari tanpa memandang bulan. Kita pasti bisa melanjutkan trend positif ini sehingga grafik memberi tetap berada dalam posisi atas.

 

Ketiga:

 

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

 

“Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan “alif lam mim” satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” (HR. Tirimidzi)

 

Khatam Al-Qur’an pada bulan suci Ramadhan adalah tradisi amat baik yang dilakukan oleh Nabi Saw., Sahabat, Tabi’in, para ulama dan hingga hari ini. Namun yang perlu diingat adalah tradisi ini juga tetap dilakukan pada bulan setelah Ramadhan. Pelipatgandaan pahala bagi orang yang membaca Al-Qur’an tidak hanya terjadi pada bulan Ramadhan. Hal ini bisa kita lihat dari Hadis Rasulullah saw. diatas, bahwa setiap huruf yang kita baca sama dengan bernilai sepuluh kebaikan ini tidak ada batasan bulan tertentu. Buka dan baca lagi mushaf kita, yuk!

 

‘Ala kulli hal, Ramadhan bisa kita jadikan sebagai starting point kita untuk menata ketakwaan. Tulisan ini ingin menjadi sebagai reminder untuk penulis secara pribadi, bahwa kebaikan tidak hanya milik bulan Ramadhan, namun ia adalah milik bagi sesiapa yang ikhlas melakukan. (Zainal Hamdi) 

 

Allahu Musta’an