Home Warta Nasional Banten Raya Tokoh Fragmen Sejarah Keislaman Ubudiyyah Syariah Tauhid Khutbah Doa Serba-Serbi

Bukti Historis Turunnya Al-Qur’an Secara Bertahap

Bukti Historis Turunnya Al-Qur’an Secara Bertahap
Ilustrasi (Foto: NU Online)
Ilustrasi (Foto: NU Online)

Al-Quran secara harfiah berarti “bacaan yang maha sempurna”. Al-Quran AlKarim berarti : “bacaan yang mahasempurna dan mahamulia”. Kemahamuliaan dan kemahasempurnaan “bacaan” ini tidak hanya dapat dipahami oleh para pakar, tetapi juga oleh semua orang yang menggunakan “sedikit” pikirannya.

 

Tidak ada satu bacaan pun, selain Al-Quran yang dipelajari dan diketahui sejarahnya bukan sekedar secara umum, tetapi ayat demi ayat, baik dari segi tahun, bulan, masa dan musim turunnya-malam atau siang, dalam perjalanan atau di tempat berdomisili penerimanya (Nabi Muhammad SAW), bahkan sebab-sebab serta saat turunnyapun dipelajari oleh manusia. Itulah salah satu kemahamuliaan dan kemahasempurnaan Al-Quran Kalamullah.

 

Karenanya, memaknai Nuzulul Quran pada bulan Ramadhan penuh berkah ini adalah dengan menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup, sumber informasi dan motivasi, obat penguat jiwa, penyebar kasih sayang serta bacaan kegemaran sehari-hari. Seperti Allah SWT menyebut di dalam Surat Al-Isra ayat 82 : 

 

وَنُنَزِّلُ مِنَ الۡـقُرۡاٰنِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَّرَحۡمَةٌ لِّـلۡمُؤۡمِنِيۡنَ‌ۙ وَلَا يَزِيۡدُ الظّٰلِمِيۡنَ اِلَّا خَسَارًا‏

 

Artinya: “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al-Isra‟ : 82)

 

Makna lainn dari Nuzulul Quran adalah menjadikan isinya benar-benar sebagai pedoman kehidupan, yang mampu mengangkat manusia dari kegelapan, kebodohan, keterbelakangan dan kemunduran. Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an Surat Al-Hadiid ayat 9 :

 

هُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ عَلَىٰ عَبْدِهِ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَإِنَّ اللَّهَ بِكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

 

Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al-Quran) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu. ( Al-Hadiid ayat 9 )

 

Imam Ibnu Katsir di dalam tafsir Al-Quranul „Adzim menjelaskan, bahwa dengan ayat “supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya” artinya mengeluarkan dari kegelapan-kegelapan jahil (kebodohan), kekafiran, dan pendapat-pendapat yang bertentangan (dengan kebenaran) menuju kepada cahaya petunjuk, keyakinan dan iman.

 

Adapun Imam Al-Qurthubi memberikan makna, sebagai mengeluarkan dari dzulumat yaitu syirik dan kekafiran kepada iman kepada Allah.

 

Bukti Historis Turunnya Al-Quran Bertahap dan Dampaknya

 

Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Setidaknya ad beberapa faktor yang menjadi bukti historis turunnya Al-Qur’an. Diantaranya:

 

Pertama, kondisi masyarakat Arab yang hidup pada masa turunnya Al-Qur’an adalah masyarakat yang tidak mengenal baca tulis (ummi). Bahkan Nabi Muhammad sendiri juga termasuk dalam golongan masyarakat tersebut, ia juga tidak hidup dan bermukim di tengah-tengah masyarakat yang relatif telah mengenal peradaban seperti Mesir, Persia atau Romawi. Dan satusatunya andalan mereka adalah melalui hafalan.

 

Hal ini mengindikasikan bahwa Al-Qur’an tidak diturunkan secara sekaligus, mengapa? Karena Al-Qur’an diturunkan kepada seorang Nabi yang tidak kenal baca-tulis (ummi) dan dari proses turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur tentu akan lebih mempermudah beliau dalam menghafalkannya. (Subhi As-Shalih, 1999: 61-62).

 

Kedua, ayat Al-Qur’an turun berdialog dengan mereka, mengomentari keadaan dan peristiwaperistiwa yang mereka alami, bahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Sebagaimana ketika Al-Qur’an menegaskan bahwa wahyu turun secara terpisah dan berangsur-angsur. 
Sebagaimana yang di jelaskan di dalam Al-Qur’an. Allah Swt berfirman dalam surah Al-isro ayat 106: 

 

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا

 

Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.(Al-isro ayat 106)

 

Dilihat dari ungkapan-ungkapan ayat-ayat tersebut, untuk arti menurunkan, semuanya menggunakan kata tanzil bukan inzal. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara bertahap atau berangsur-angsur. Berbeda dengan kitab-kitab samawi sebelumnya, yakni Taurat, Injil, dan Zabur yang turun sekaligus
Dan adapun Dampak dari proses turunnya Al-Quran secara berangsur-angsur sesungguhnya membuat dakwah Nabi dan ajaran Al-Qur’an lebih mudah dan leluasa untuk diterima dikalangan masyarakat saat itu. Karena proses turunnya ayat-ayat Al-Qur’an tersebut sangat disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat saat itu, bahkan sejarah yang diungkapkan adalah sejarah bangsa-bangsa yang hidup di sekitar Jazirah Arab, peristiwa-peristiwa yang dibawakan adalah peristiwaperistiwa mereka, adat-istiadat dan ciri ciri masyarakat yang dikecam adalah yang timbul dan yang terdapat dalam masyarakat tersebut. (Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an Tafsir Maudhu’I atas pelbagai Persoalan Umat, 2006: 39)maka marilah kita perbanyak membaca Al-Quran (tadarus) dan mempelajari dan memahaminya (tadabur), sehingga akan senantiasa terhubung dengan Allah SWT. Dan dengan demikian, akan mampu memberikan spirit, inspirasi, dan motivasi dalam kehidupan. Di sinilah Al-Quran dikatakan sebagai mukjizat dan rahmat bagi manusia dan alam. 

 

Dari berbagai sumber

 

Adin Tamam Fauzi, Penulis adalah Mahasiswa FDI UIN Jakarta dan Aktifis PMII Ciputat