• logo nu online
Home Banten Raya Ubudiyyah Warta Nasional Fragmen Keislaman Syariah Tauhid Tokoh Khutbah Sejarah Doa Opini Hikmah Pendidikan Islam Wisata Religi NU Preneur
Senin, 15 Agustus 2022

Sosok

Raden Aria Wangsakara, Ulama Pejuang dari Banten Resmi Jadi Pahlawan Nasional

Raden Aria Wangsakara, Ulama Pejuang dari Banten Resmi Jadi Pahlawan Nasional
Raden Aria Wangsakara, tokoh ulama, pejuang dan pendiri wilayah Tangerang. (Foto: Pemprov Banten)
Raden Aria Wangsakara, tokoh ulama, pejuang dan pendiri wilayah Tangerang. (Foto: Pemprov Banten)

Jakarta, NU Online Banten

Presiden Joko Widodo secara resmi menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Raden Aria Wangsakara, pendiri wilayah Tangerang. Gelar tersebut diberikan dalam upacara yang dilaksanakan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (10/11). 

 

Keputusan mengenai pemberian gelar itu dituangkan dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 109 dan 110 TK Tahun 2021 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Jasa. 

 

Selain Aria Wangsakara, ada tiga tokoh lainnya yang diberi gelar tersebut yakni Tombolututu dari Sulawesi Tengah, Sultan Aji Muhammad Idris dari Kalimantan Timur, dan Usmar Ismail dari DKI Jakarta.


Tokoh Ulama dan Pejuang

 

Aria Wangsakara adalah keturunan dari Raja Sumedang Larang. Belum diketahui secara pasti, salah satu sumber menyebutkan angka lahirnya Aria Wangsakara sekitar tahun 1024 H atau 1615 M.

 

Aria Wangsakara pergi ke Banten bersama dua kerabatnya, Suria Diwangsa II dan Aria Santika. Ketiga Tumenggung ini pergi ke Banten untuk menghindari perpecahan di lingkungan kerajaan Sumedang Larang.

 

Dalam Paririmbon Ke-Ari-an Parahyangan, dikatakan Pada Tahun 1629, ketiga Tumenggung muda ini menghadap Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdulqodir. Ketiganya disambut bahagia karena masih ada hubungan keluarga dengan pendiri Kesultanan Banten.

 

Setelah mencari tempat dan sering berpindah-pindah. Pada akhirnya Aria Wangsakara mendapatkan tempat yang strategis. Lengkong Kyai, daerah asri tertutup oleh hutan bambu dibatasi oleh sungai Cisadane. Lokasinya persis menghadap ke arah Barat.

 

Masjid menjadi bangunan pertama yang dibangun. Pondasi awalnya kayu, menggunakan atap genteng dan sebagian temboknya memakai bilik dari bambu. Sampai sekarang Masjid al-Muttaqin ini masih ada. 

 

Namun beberapa kali mengalami renovasi dan menjadi saksi bisu perjuangan Aria Wangsakara melakukan dakwahnya. Lokasinya berada di tengah pemukiman penduduk Desa Lengkong Kulon, Pagedangan, Kabupaten Tangerang.

 

Selanjutnya pemukiman santri dibangun. Mengikuti posisi masjid yang mengarah Kiblat. Seiring perkembangannya,  Lengkong Kyai perlahan menjadi pusat mencari ilmu para santri sekitaran Tangerang. Hingga sewaktu Belanda menyerang Pesantren Gerendeng di Karawaci. Sebagian mengungsi dan bergabung dengan Aria Wangsakara. Lengkong Kyai pun menjadi basis pertahanan.

 

Kesultanan Banten berganti, setelah Sultan Abdul Mafakhir wafat digantikan oleh Sultan Ageng Tirtaya dengan mengalami perkembangan pesat. Selain itu juga dihadapkan juga oleh hambatan dari serangan VOC. 

 

Puncaknya tahun 1655, VOC menawarkan pembaharuan perjanjian dagang dengan Kesultanan Banten. Karena banyak merugikan, Sultan Ageng Tirtayasa menolak lantang pembaharuan perjanjian itu. Dua tahun berselang. Sultan Ageng Tirtayasa mengumpulkan basis-basis gerilya untuk melakukan perlawan terhadap Belanda, Salah satu yang dipersiapkan adalah Aria Wangsakara.

 

Pasca momentum Tugu Tangerang, peristiwa yang menjadi muasal penyebutan daerah Tangerang. Sebagai penanda batas wilayah, Sebuah bangunan tugu berbahan dasar bambu yang didirikan Pangerang Soegiri, putra Sultan Ageng Tirtayasa dari Kesultanan Banten. 

 

Terletak di bagian Barat Sungai Cisadane, diyakini saat ini berada di wilayah Kampung Gerendeng. Oleh masyarakat sekitar, bangunan tugu tersebut disebut tengger atau tetengger yang dalam bahasa sunda sebagai tanda atau penanda.


Masa itu, Raden Senopati Ingalaga, Aria Wangsakara dan santrinya sering terlibat gerilya menghadapi pasukan Belanda. Puncaknya Mei 1658 sampai Juli 1659. Penyerangan dilakukan ke Batavia melalui daerah Angke. 

 

Namun sayang, kabar penyerangan itu bocor diketahui oleh Belanda sehingga bisa diantisipasi. Tak kenal takut pasukan memerangi Belanda sampai berhari-hari.

 

Sultan Ageng Tirtayasa mendapati kabar pasukan mengalami kelelahan, lalu mengirim pasukan tambahan untuk membantu. Karena kegigihannya, pasukan melawan sampai mendekati batas Batavia. Pada akhirnya Belanda terdesak lalu mengajukan gencatan senjata pada 10 Juli 1659.

 

Pasca peperangan melawan Belanda. Banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak. Aria Wangsakara mengumpulkan keluarga korban dan menyantuninya di Bale Kambang dan mushola-mushola. Setelah itu, Aria Wangsakara memilih untuk menyerahkan tahta pada 12 Januari 1666. pemerintahan Tangerang diserahkan kepada anaknya Aria Yudhanegara.

 

Aria Wangsakara lebih memilih untuk mengajar agama kepada masyarakat. Ketokohan Aria Wangsakara semakin tersohor. Banyak masyarakat sering meminta nasihat padanya. Ariaan sekitaran Banten dan Aria Yudhanegara juga sering mengunjungi ayahnya. Meminta nasihat dan petunjuk dalam menjalankan amanahnya sebagai Aria Tangerang II.

 

Sampai pada 2 Sya'ban 1092 H atau 14 Agustus 1681 M. Aria Wangsakara wafat, duka mendalam menyelimuti Tangerang dan seluruh Banten. Sang ulama dan pejuang lalu dimakamkan di dataran tinggi dekat Bale Kambang, Lengkong Kyai yang sekarang sudah dijadikan situs makam pahlawan oleh pemerintah Kabupaten Tangerang.

 

Sepeninggalan Aria Wangsakara tidak memadamkan perjuangan dan semangat dakwah Islam. Semangat itu diteruskan oleh Aria Yudhanegara. Berlanjut kepada adiknya Aria Raksanegara. Anak sulung Aria Wangsakara yakni Raden Ciliwulung dipercaya oleh Kesultanan Banten menjadi Senopati.

 

Beberapa keturunan Aria Wangsakara pun menjadi Tumenggung beberapa wilayah Kesultanan Banten. Tumenggung Kamil, Tumenggung Tanuwinata, dan Raden Mahmud. Beberapa yang lainnya Aria Sutadewangsa yang menjaga wilayah Gerendeng. Raden Tanuwisanta yang menjadi kapten di Lengkong hingga keturunannya Raden Suradewangsa menjadi Demang Parung.

 


Editor : Rahmat Ferdian Andi Rosidi


Editor:

Sosok Terbaru