• logo nu online
Home Banten Raya Ubudiyyah Warta Nasional Fragmen Keislaman Syariah Tauhid Tokoh Khutbah Sejarah Doa Opini Hikmah Pendidikan Islam Wisata Religi NU Preneur
Senin, 15 Agustus 2022

Wisata Religi

Makam Waliyullah Kiai Agung Caringin yang Tidak Pernah Sepi Peziarah

Makam Waliyullah Kiai Agung Caringin yang Tidak Pernah Sepi Peziarah
Gapura Makam Syekh Asnawi Caringin. (Foto: Laduni.id)
Gapura Makam Syekh Asnawi Caringin. (Foto: Laduni.id)

Berwisata religi ke daerah Pandeglang kurang lengkap rasanya jika tidak menyempatkan berziarah ke makam Kiai Asnawi atau biasa disebut dengan Kiai Agung Caringin. 


Ia merupakan ulama kharismatik asal Pandeglang yang getol mendakwahkan Islam di bumi Banten pada abad ke-20. Berkat kegigihannya mendakwahkan Islam dan terlibat dalam perjuangan mempertahankan tanah air, wilayah Caringin dan Banten masyhur dikenal sebagai pusat dakwah Islam dan perjuangan.


Lumrahnya, wisata religi Caringin ini menjadi destinasi yang wajib dikunjungi dan selalu masuk dalam list destinasi para peziarah dari berbagai wilayah, tidak hanya datang dari Banten, tapi datang juga dari luar Banten. 


Lokasi komplek makam Caringin, pesarean terakhir Kiai Agung Caringin yang berada di pesisir Pantai Caringin, hal itu memberikan nilai tambah untuk destinasi wisata religi ini. Para peziarah bisa menikmati matahari terbenam jika kebetulan mengunjungi Caringin pada sore hari. 


Sembari menikmati matahari terbenam para peziarah dapat menyempatkan duduk-duduk di tepi pantai atau tenda-tenda yang tersedia sembari menikmati kudapan. Seperti menyelam minum air, selain berziarah ke makam Aulia Allah menikmati semilir dan jingga matahari pantai Caringin juga terlaksana. 


Tidak heran mengapa pesarean Kiai Agung caringin tidak pernah sepi dari para peziarah. Hal ini karena kelebihan dan karomah Kiyai Agung Caringin terlihat sejak ia masih hidup. Bahkan ketika ia sudah wafatpun karomahnya masih dapat dirasakan penduduk bumi yang masih hidup. 


Begitulah para Aulia Allah yang sebetulnya tidak benar-benar meningalkan dunia, memang jasadnya telah terkubur tetapi karomahnya akan terus hidup bahkan bisa memberikan sumber penghidupan dunia bagi manusia-manusia yang masih hidup. 


Para peziarah ramai berdatangan mengunjungi makam Kiyai Agung Caringin biasanya bertambah ramai bulan Rabiul Awal atau bulan-bulan menjelang Ramadan. Masyarakat Pandeglang biasa menyebut tradisi berziarah ke makam-makam aulia sebelum bulan ramadan tiba dengan sebutan munggahan


Memang tidak semua mengetahui manaqib Kiai Agung Caringin, tetapi karomahnya mampu mengundang para peziarah dari berbagai penjuru untuk mengunjungi makam Kiyai Agung Caringin, entah untuk mengingat kematian, karena berziarah adalah salah satu cara untuk mengingat kematian, atau berdoa memohon kepada Allah melalui perantara para Aulia Allah.


Kiai Agung Caringin lahir pada tahun 1865 M, ia merupakan putra dari seorang ‘alim, yaitu KH Abdurrahman yang ke’alimannya masyhur, sehingga KH Abdurrahman menduduki posisi penghulu di Kabupaten Caringin kala itu. Sementara ibu Kiai Agung Caringin bernama Nyai Hj Ratu Sabi’ah, seorang putri keturunan Kesultanan Banten. 


Penghulu adalah sebutan bagi seseorang ahli di bidang agama. Pada masa Kesultanan Banten, petinggi kesultanan yang ahli di bidang agama disebut dengan penghulu, bahkan satelah Kesultanan Banten runtuh, istilah tersebut masih dipakai untuk menyebut orang-orang ‘alim yang memiliki kapasitas keilmuan di bidang agama.


Karomah dan keutamaan Kiai Agung Caringin sudah terilhat sejak ia masih usia anak-anak. Pada usia 11 tahun ia mampu menyelesaikan hafalan al-Qur’an dengan sangat baik di bawah bimbingan ayahnya. Selian itu, dalam usia yang masih amat belia ia sudah menguasi berbagai cabang ilmu keagamaan. 


Sayangnya, Ayahandanya wafat pada saat Kiai Agung Caringin masih berusia belia dan tentunya masih memerlukan bimbingan dan arahan dari ayahandanya. Setelah itu sang Ibu melanjutkan dan menggantikan posisi ayahanda demi memenuhi kebutuhan nutrisi jiwa dan ruhaninya. 


Namun, sang ibu gelisah apa yang diajarkan kepada Kiai Agung Caringin pada waktu itu tidak maksimal, sehingga sang ibu melepas Kiai Agung Caringin untuk meneruskan pendidikannya ke Makkatul Mukarromah pada tahun 1862 M di bawah bimbingan Syaikhul Hijaz, Syekh Nawawi al-Bantani al-Jawi (1813-1897 M).


Selain itu, Kiai Agung Caringin muda juga berguru kepada Syekh Hasbullah al-A’ma dan juga memperlajari ilmu al-Qur’an dan juga ilmu Tafsir secara khusus kepada seorang al-Hafiz Syekh Abdul Hamid al-Makki. 


Tidak puas sampai di situ, Kiai Agung Caringin muda juga berguru kepada Syekh Ahmad Khatib as-Syambasi dalam bidang ilmu Tasawuf dan ilmu Thoriqoh. Setelah Syekh Ahmad Khatib as-Syambasi wafat, ia melanjutkan berguru kepada salah satu murid Syekh Khatib as-Syambasi, ulama asal Banten yaitu Syekh Abdul Karim al-Bantani.


Meski Kiai Agung Caringin hanya bermukim selama tiga tahun di Makkah al-Mukarromah namun kualitas keilmuan dan pemahamannya sangat mendalam dan menguasai berbagai fan keilmuan Islam. Ia kemudian dipersilakan pulang ke kampung halamannya pada tahun 1865 M. Padahal pada tahun tersebut Kiai Agung Caringin muda baru berusia 15 tahun. 

 

Tidak heran mengapa makam Kiai Agung Caringin menjadi destinasi wisata religi. Kedalaman ilmu, perjuangan menyebarkan Islam, dan karomahnya sudah terlihat sejak ia masih berusia belia. 


Karomah lain yang dimiliki Kiai Agung Caringin adalah dapat melihat liang lahat Syekh Arsyad, kakak sepupu sekaligus pendiri Pesantren Mathla’ul Anwar Li Nahdlotil Ulama Menes terhubung dengan makam Rasulullah Saw, di Madinah pada saat pemakaman Syekh Arsyad di Menes. Sehingga tangis karena ditinggalkan teman seperjuangan berubah menjadi senyum bahagia melihat kelebihan Syekh Arsyad tersebut. 

 

 

Penulis : Sofwatul Ummah
Editor : Arfan Effendi
 


Editor:

Wisata Religi Terbaru