• logo nu online
Home Banten Raya Ubudiyyah Warta Nasional Fragmen Keislaman Syariah Tauhid Tokoh Khutbah Sejarah Doa Opini Hikmah Pendidikan Islam Wisata Religi NU Preneur
Senin, 15 Agustus 2022

Khutbah

Keberkahan dan Keutamaan Bulan Sya'ban

Keberkahan dan Keutamaan Bulan Sya'ban
Sumber Gambar: NU Online
Sumber Gambar: NU Online

Khutbah I

 

اَلْحَمْدُ  ِللهِ  الْعَزِيزِ  الرَّحْمَنِ ، الَّذِ ي جَعَلَ  الْبَرَ كَا تِ  فِيْ  شَهْرِ  شَعْبَانَ ، وَ جَعَلَهُ  مِضْمَا رَ  الزَّ مَا نِ ، وَ ضَمِنَ  فِيْهِ  لِلتَّا ئِبِيْنَ الْأَ مَا نَ ، مَنْ  عَوَّ دَ  نَفْسَهُ  فِيْهِ

بِالْإِحْسَانِ،  فَازَ فِيْ رَمَضَانَ بِحُسْنِ الْخِتَامِ، أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

اللهم صَلِّ عَلَى مَنْ تَحَلَّى بِجُودِهَا جَيِّدُ الزَّمَانِ، مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ. فَيَا عِبَادَ اللهِ،

اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ، وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، أَمَّا بَعْدُ.

 

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah

 

Mengawali khutbah pada Jumat kali ini, perkenankanlah khatib berwasiat pada diri pribadi juga untuk segenap jamaah sekalian, agar kita sama-sama senantiasa meningkatkan kadar keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt. Sungguh ketakwaan merupakan modal penting bagi setiap Muslim untuk kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sehingga wajar, di setiap Jum’at tiba, khatib selalu mewasiatkannya dalam khutbahnya.

 

Allah Swt. menyeru kita untuk bertakwa kepada-Nya di manapun dan dalam keadaan apapun. Lebih-lebih pada bulan mulia, bulan Syakban ini. Rasulullah Saw. pun bersabda sebagaimana dalam riwayat Imam at-Tirmidzi:

 

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

 

“Bertakwalah kepada Allah di manapun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan itu akan menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.”

 

Jama’ah Jumat yang dimuliakan Allah Swt.

 

Kini kita tiba pada bulan Sya'ban, bulan yang dilupakan oleh banyak orang lantaran redup oleh bayang-bayang Rajab dan silau akan datangnya bulan Ramadan nan mulia. Rajab menjadi salah satu dari empat bulan yang mulia. Sementara Ramadhan telah memiliki kemualiaan yang berlipat ganda. Di antara keduanya terdapat Sya'ban yang sejatinya juga menyimpan banyak keutamaan dan keberkahan.

 

Maka seyogyanya ketiga bulan itu, yakni Rajab, Sya'ban, dan Ramadan, dimuliakan dan diperhatikan oleh setiap Muslim. Salah seorang sufi kenamaan, Dzunnun al-Misri berkata:

 

“Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban adalah bulan menyiram sementara Ramadan adalah bulan memanen. Semua akan memanen apa yang dia tanam dan mendapatkan balasan dari apa yang dilakukan. Siapa yang menyia-nyiakan kesempatan menanam, maka dia akan menyesal di waktu panen, hasilnya di luar harapan dan ujungnya adalah keburukan.”

 

Siapapun yang berharap panen pahala di bulan Ramadan, maka hendaknya jauh-jauh hari ia bersiap diri dengan memetik keberkahan Rajab dan tidak melupakan Sya'ban. Salah satu doa yang populer dari Rasululullah Saw. yang meskipun kualitasnya lemah namun boleh diamalkan adalah:

 

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَب، وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

 

“Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta pertemukan kami dengan bulan Ramadhan.”

 

Ma’asyiral muslimin yang dimuliakan Allah Swt.

 

Sya'ban  berasal dari kata syu’b yang di antaranya berarti cabang. Dinamakan demikian karena pada bulan ini, kebaikan bercabang-cabang hingga banyak jumlahnya. Di antara cabang kebaikan dan keutamaannya adalah sebagaimana terungkap dalam hadis Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i:

 

هُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيْهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِيْ وَأَنَا صَائِمٌ

 

“Sya'ban adalah bulan di mana amal-amal manusia diangkat untuk dilaporkan kepada Tuhan semesta alam, dan saya ingin ketika amal diangkat, saya dalam keadaan puasa.”

Atas dasar inilah Rasulullah Saw. gemar berpuasa pada bulan tersebut. Hampir-hampir kuantitas puasanya menyamai puasa Ramadhan. Suatu saat beliau ditanya, “puasa apakah yang paling utama setelah Ramadan?”, maka beliau menjawab:

 

شَعْبَانُ لِتَعْظِيْمِ رَمَضَانَ

 

“yaitu puasa di bulan Sya’ban untuk memuliakan Ramadan.”

 

Ma’asyiral muslimin yang dimuliakan Allah swt.

 

Yang tak kalah spesial adalah bahwa bulan Sya'ban juga dijuluki sebagai bulan salawat. Hal itu karena di bulan tersebutlah, ayat perintah salawat diturunkan:

 

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

 

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

 

Melalui ayat ini kita dapat menemukan derajat kemuliaan shalawat kepada Nabi Saw. Dalam banyak ibadah, umumnya, Allah Swt. memerintahkan hamba-Nya untuk melaksanakannya. Berbeda halnya dengan shalawat, tidak hanya hamba yang diperintahkan, akan tetapi Allah Swt sendiri dan para malaikatnya pun melaksanakannya.

Atas seruan Allah Swt. untuk bersalawat yang terjadi di bulan Sya'ban inilah, tidak berlebihan jika Rasulullah Saw. sebagaimana riwayat ad-Daylami, menyatakan bahwa:

 

رَجَبُ شَهْرُ اللهِ، وَشَعْبَانُ شَهْرِيْ، وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِيْ

 

“Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.”

Untuk itu, wahai para jama’ah sekalian, marilah kita perbanyak bershalawat kepada baginda Nabi Saw., khususnya pada bulan Sya'ban yang mulia ini. Shalawat menjadi bukti betapa mulia dan tinggi derajat Nabi, serta menjadi bukti akan cinta kita kepadanya. Dengan beshalawat bukan berarti Rasulullah Saw butuh doa dan pertolongan kita. Justru sebaliknya, kitalah yang butuh syafaatnya dan mengambil pahala dari bershalawat kepadanya. Satu saja shalawat kita kepada Nabi akan dibalas oleh beliau dengan 10 kali lipat.

 

اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

 

 

Khutbah II

 

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا امَّا بَعْدُ.

فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ صَلَّى عَلَى نَبِيِّهِ قَدِيْمًا وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ سَيِّدِناَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِناَ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ. اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَب، وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ.

 

 

 

Ulin Nuha Mahfudhon, Dosen Darus Sunnah dan Penulis Buku-buku Keislaman

 


Khutbah Terbaru