Nasional

Dapat Paten Senyawa Antidiabetes dan Antikanker, Ini Harapan Ilmuwan UIN Sunan Kalijaga

Rabu, 12 Maret 2025 | 23:22 WIB

Dapat Paten Senyawa Antidiabetes dan Antikanker, Ini Harapan Ilmuwan UIN Sunan Kalijaga

Fahrul Nurkolis, ilmuwan UIN Sunan Kalijaga yang berhasil meraih hak paten senyawa antidiabetes dan antikanker. (Foto: Dok pribadi)

Jakarta, NU Online Banten

Fahrul Nurkolis patut berbahagia. Ilmuwan Biologi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jogjakarta itu meraih hak paten senyawa antidiabetes dan antikanker oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum Republik Indonesia pada 24 November 2024.


Fahrul mengatakan, penelitiannya saat ini berada pada tahap karakterisasi senyawa baru dari ketiga jenis tanaman yang digunakan dengan pendekatan metode metabolomik dan proteomik. “Saya bersama teman-teman terus berupaya mengidentifikasi senyawa bioaktif yang berpotensi digunakan dalam pengobatan terutama pada diabetes dan kanker,” ujar Fajrul yang hak patennya berlaku selama 10 tahun atau sampai November 2034 itu kepada NU Online Rabu (12/3/2025).


Dia menjelaskan, penelitiannya dilakukan melalui tiga pendekatan. Pertama, metode in silico menggunakan molecular docking dan dynamic simulation untuk memprediksi bagaimana interaksi senyawa dengan target molekuler.  Kedua, tahap in vitro. Tahap ini, lanjutnya, dilakukan dengan menguji senyawa pada kultur sel guna mencari konfirmasi efektivitasnya, terutama dalam menghambat pertumbuhan sel kanker dan mengontrol kadar gula dalam darah. 


Ketiga, tahap in vivo dengan menggunakan hewan model berupa tikus. Tahap ini mengevaluasi efektivitas serta keamanan senyawa sebelum melangkah lebih jauh ke uji klinis pada manusia. Secara keseluruhan, menurutnya, tantangan dalam penelitian ini ada pada isolasi dan identifikasi senyawa. 


“Senyawa bioaktif sering ditemukan dalam jumlah kecil dan memerlukan teknik ekstraksi canggih. Pada proses validasi dan uji klinis yang panjang sebelum produk bisa dikomersialkan adalah tantangan tersendiri,” ungkapnya.


Alumnus SMA Negeri 2 Mejayan, Madiun, Jawa Timur, itu menyampaikan bahwa penelitiannya dapat berpotensi besar dalam menghasilkan obat berbasis bahan alam yang efektif dan berasal dari sumber daya lokal Indonesia. 


“Tinggal langkah selanjutnya, saya merinci, optimasi proses isolasi, validasi biologis lebih lanjut, serta eksplorasi kemitraan dengan industri farmasi. Dan itu butuh waktu beberapa tahun ke depan,” ucapnya.


Fahrul menambahkan, banyak tanaman di Indonesia yang memiliki potensi sebagai bahan baku obat.  “Persoalan adalah bagaimana riset bisa berlanjut hingga tahap produksi dan komersialisasi, sehingga manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat,” ucapnya.


Dia berharap bahwa ilmu pengetahuan sains bukan sekadar teori, tetapi juga harus berdampak nyata. "Pandangan ini menjadi motivasi bagi saya dalam meraih berbagai penghargaan dan inovasi riset," tegasnya, dilansir NU Online.


Sebelumnya, Fahrul pernah menjadi delegasi termuda di Nordic Nutrition Conference di Finlandia dan menerima penghargaan dari Ikatan Dokter Indonesia atas inovasi risetnya. Ia juga pernah mendapatkan Young Travel Investigator pada Asian Congress of Nutritrion 2023 di Chengdu, Tiongkok. (Rikhul Jannah)