• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Sabtu, 20 April 2024

Nasional

Hari Lahir Mbah Hasyim, Melanjutkan Perjuangan di Abad II

Hari Lahir Mbah Hasyim, Melanjutkan Perjuangan di Abad II
Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari. (Grafis: dok NUOB)
Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari. (Grafis: dok NUOB)

Tangerang Selatan, NU Online Banten

Pada 14 Februari 1871, ulama besar lahir. Ya, pria tersebut dikenal dengan Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari. Mbah Hasyim--sapaan Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari di kalangan Nahdliyin—dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU), organisasi keagamaan dan kemasyarakatan terbesar di Indonesia. Bahkan disebut di dunia.



Lahir di Jombang pada Selasa Kliwon. Bertepatan 24 Dzulqa’dah 1287 H. ’’Mbah Hasyim seorang ulama pejuang agama dan kebangsaan yang sangat mencintai tanah airnya. Kedamaian dan kemaslahatan umat yang paling ditonjolkan. Ini harus menjadi teladan kita,’’ ujar Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Asep Saipudin Jahar seperti dilansir dari NU Online Banten pada Selasa (14/2/2023). Kini Asep adalah rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.



Mbah Hasyim merupakan kakek Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur. Dia juga besan dari pendiri NU lainnya, yaitu KH Bisri Syansuri yang makamnya di kompleks Pondok Pesantren Denanyar, Jombang.



Peran Mbah Hasyim yang pernah menimba ilmu di Makkah, Arab Saudi, itu penting sekali bagi perkembangan Islam di Nusantara. Ayahanda Menteri Agama ketika itu KH A Wahid Hasyim, mendirikan Pesantren Tebuireng pada 1899 M. Hampir sebagian besar pesantren di Jawa dan Sumatera lahir dari rahim Pesantren Tebuireng. Para kiainya juga pernah mengaji atau menjadi santri Mbah Hasyim.

 

Selain itu, Hadratussyekh  KH M Hasyim Asy’ari juga berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Rais akbar Nahdlatul Ulama itu mengajak para santrinya untuk berjuang melawan penjajah. Bagi Mbah Hasyim, berjuang melawan penjajah hukumnya fardlu ‘ain, wajib bagi setiap kaum Muslimin Indonesia.

 

Karena peran dan kontribusi Mbah Hasyim dalam kehidupan berbangsa dan negara, pemerintah Indonesia menahbiskan Mbah Hasyim sebagai salah satu pahlawan nasional.

 

Menurut Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) H Abdullah Mas’ud, Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari (Pondok Pesantren Tebuireng), KH Abdul Wahab Chasbullah (Pondok Pesantren Tambak Beras), dan KH Bisri Syansuri (Pondok Pesantren Denanyar) di Jombang, Jawa Timur adalah tiga serangkai muassis (pendiri) NU yang utama dan menjadi simbol pergerakan NU.


Murid dari KH Sholeh Darat Semarang, Jawa Tengah, dan Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura, itu wafat di Jombang dalam usia 76 tahun. Tepat pada 21 Juli 1947 M atau 3 Ramadhan 1366 H. Pendiri NU ini dimakamkan di Kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.  Setiap hari, para ziarah tak pernah surut berziarah ke makam pahlawan nasional tersebut.



Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari tak hanya banyak meninggalkan karya. Tap juga petuah. Banyak petuah yang dijadikan kutipan dan masyhur hingga saat ini. Di antaranya adalah siapa yang mengurus NU, saya anggap santriku. Siapa yang menjadi santriku, saya doakan khusnul khotimah beserta keluarganya.

 

 

Selain itu, petuah lainnya yang terkenal adalah tak ada satu pun di dunia ini yang kekal. Maka, ukirlah cerita indah sebagai kenangan. Karena dunia memang sebuah cerita.

 

 

Menurut Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Tangerang Selatan KH M Alvi Firdausi, Mbah Hasyim seorang ulama yang visioner. Hal ini terbukti dalam berbagai pemikirannya misalnya menggagas sebuah organisasi besar yaitu NU yang dapat mengakomodasi nilai-nilai keislaman dan kebudayaan Nusantara secara harmonis.


’’Selain itu, putusannya yang fenomenal tentang resolusi jihad yang digemakan dalam rangka merealisasikan kemerdekaan atas bangsa Indonesia. Resolusi ini berhasil membakar semangat para santri dan masyarakat Indonesia untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda dan sekutunya hingga terpukul mundur meninggalkan Surabaya,’’ ujarnya kepada NU Online Banten, ketika itu.

 

 

Dijelaskan, pemikiran Mbah Hasyim yang dapat menjadi nasihat untuk Nahdliyin dalam melanjutkan perjuangan pada etape abad kedua ini adalah keteguhan hati untuk tidak ragu dalam mengikuti jejak para ulama dan orang shaleh.



’’Penyandaran langkah ini akan mengantarkan pada terjaminnya hakekat kebenaran. Lebih dekatnya pada ketelitian serta mempermudah akses memeroleh keilmuan. Dalam hal berpolitik Mbah Hasyim mengajak kepada Nahdliyin untuk selalu menjaga nilai-nilai keutuhan dan kesatuan umat,’’ imbuhnya.


Ini, lanjutnya, dalam rangka mewujudkan sebuah keadilan dan kemakmuran masyarakat secara umum. ’’Warga Nahdliyin bebas berpolitik dengan syarat tetap menjaga nilai kejujuran nurani, moral agama, serta konstitusi yang berlaku,’’ tambahnya. (M Izzul Mutho)


Nasional Terbaru