• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Jumat, 1 Maret 2024

Tokoh

Sinyal Tongkat dan Tasbih dari Mbah Kholil untuk Mbah Hasyim

Sinyal Tongkat dan Tasbih dari Mbah Kholil untuk Mbah Hasyim
Rombongan PCNU Tangsel ziarah ke makam Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura. (Foto: NU Online Banten/ Ade Adiyansah)
Rombongan PCNU Tangsel ziarah ke makam Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura. (Foto: NU Online Banten/ Ade Adiyansah)

Bangkalan, NU Online Banten
Perjalanan rombongan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Tangerang Selatan (Tangsel) berlanjut ke Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Senin (6/2/2023) sekitar pukul 06.55 WIB, rombongan yang dipimpin oleh Ketua PCNU Tangsel H Abdullah Mas’ud, tiba di parkir kendaraan  yang tak jauh dari Masjid Kiai Kholil, tempat Syaikhona Kholil dimakamkan. Mbah Kholil merupakan mahaguru para ulama ada kiai Nusantara, termasuk Hadratussyekh KH Hasyim Asya’ari. Bahkan para pendiri NU adalah murid Syaikhona Kholil.


Al-'Aalim Al-'Allaamah Asy-Syekh Al-Hajji Muhammad Kholil bin Abdul Lathif al-Bangkalani al-Maduri al-Jawi asy-Syafi'I punya nama kecil Muhammad Kholil. Dihimpun dari sejumlah sumber, Syekh Kholil lahir di Bangkalan, Madura, 7 Januari 1820 dari pasangan KH Abdul Latif dan Syarifah Khadijah. Dari pasangan ulama itu pula, kholil kecil mendapatkan ajaran agamanya. Ia punya silsilah dengan dengan ulama-ulama di tanah Jawa dan memiliki pertalian darah dengan Sunan Gunung Jati. Dari kecil, dia belajar dari para kiai dan pesantren di Pula Jawa. Dia juga belajar dari Kiai Muhammad Nur, kiai kharimastik asal Pesantren Langitan, Tuban.


Saat umur 24 tahun, belajar ke Makkah-Madinah ke beberapa ulama seperti Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Mustafa bin Ahmad Al-Afifi Al-Makki di Mekkah dan sebagainya. Setelah pulang dari Makkah, tidak lantas mendirikan pesantren, tapi bekerja di Kadipaten Bangkalan pada malam hari. Ketika berjaga itu, waktunya dipakai untuk membaca hingga akhirnya terdengar oleh Adipati Bangkalan waktu itu, Ludra Putih, yang kemudian mengangkatnya sebagai menantu Syekh Kholil Bangkalan akhirnya mendirikan pesantren yang akhirnya memiliki banyak murid-murid yang juga menjadi ulama-ulama di tanah Jawa.


Beberapa di antaranya adalah Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Wasbullah, tokoh ulama yang mendirikan Nahdlatul Ulama pada 1926. Ketika Syaichona Kholil menjadi ulama besar, kharisma dan namanya sangat dihormati di seluruh kalangan masyarakat Islam, khususnya pesantren.


Saat organisasi Nahdlatul Ulama (NU) akan didirikan sebelum 1926, Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari dilanda kebimbangan yang luar biasa. Apakah pendirian NU itu penting bagi umat dan bangsa? Dikisahkan, Syaichona Kholil Bangkalan seperti mampu merasakan keresahan KH Hasyim Asy’ari, lalu mengutus santrinya, Kiai As’ad Syamsul Arifin, kepada KH Hasyim Asy’ari, menyerahkan tongkat dan tasbih. Ini dianggap sebagai hal yang menguatkan hati dari Hadratusyekh saat bimbang. Gurunya, KH Kholil Bangkalan, sudah merestui untuk merapatkan barisan para kiai.


Keresahan yang semula menghinggapi KH Hasyim Asy’ari reda berubah menjadi keyakinan untuk mendirikan organisasi dengan nama Nahdlatul Ulama yang bermakna kebangkitan ulama. Organisasi yang dikenal sekarang menjadi organisasi para ulama terbesar di Indonesia. Selain itu juga dikenal sebagai seorang penulis kitab yang produktif sejak di Mekkah. 


Jelang puncak Resepsi Hari Lahir (Harlah) 1 Abad NU bakal digelar di Gelora Delta Sidoarjo Jawa Timur pada 16 Rajab 1444 atau 7 Februari 2023, volume peziarah di makam wali dan muassis Nahdlatul Ulama meningkat drastis. Seperti yang terlihat di makam Syaikhona Kholil Bangkalan Madura, Senin (6/2/2023).  


NU Online Banten yang ikut rombongan PCNU Tangsel melihat langsung, para peziarah terus mengalir dari berbagai daerah di Indonesia. "Setiap hari ramai. Rata-rata 30 bus dari berbagai daerah. Tadi malam sudah mulai ramai, ada sekitar 100 bus. Nanti sore bisa lebih ramai lagi," kata Abdul Mujib, salah satu pengurus Masjid Syaikhona Cholil dikutip NU Online.  


Pihaknya sudah memprediksi bakal ada peningkatan jumlah peziarah yang jika dihitung naik 200 persen dibanding dari volume hari-hari biasa. Menurut Mustangin, salah satu peziarah dari Lampung, dia beserta rombongan sengaja berangkat lebih awal untuk hadir di acara puncak Resepsi 1 Abad NU dengan memanfaatkan berziarah. ’’Mudah-mudahan mendapat berkah,’’ harapnya.


Pewarta: Ade Adiyansah
 


Tokoh Terbaru