• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Jumat, 1 Maret 2024

Khutbah

Khutbah Jumat: Menggapai Al ’Aidin wal Faizin

Khutbah Jumat: Menggapai Al ’Aidin wal Faizin
Idulfitri. (Foto: NU Online)
Idulfitri. (Foto: NU Online)

Khutbah I


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الصَّوْمَ حِصْنًا لِأَوْلِيَائِهِ وَ جُنَّةً، وَفَتَحَ لَهُمْ بِهِ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ قَائِدِ الْخَلْقِ وَمُمَهِّدِ السُّنَّةِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِيْ الْأَبْصَارِ الثَّاقِبَةِ وَالْعُقُوْلِ الْمُرَجِّحَةِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ


Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah,
Pertama sekali marilah kita bersyukur kehadirat Allah yang telah memberikan berjuta kenikmatan kepada kita sekalian, sehingga kita masih bisa melaksanakan Shalat Jumat di masjid yang mulia ini.


Shalawat serta salam, semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi besar Muhammad, yang telah membingbing kita menuju dunia yang terang dan jelas, yaitu addiinul Islam. Semoga kita selalu mencintainya dan bershalawat kepadanya sehingga diakui sebagai umatnya yang mendapatkan syafaatnya di hari akhir nanti, amin.


Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah,
Selaku khotib kami mengajak kepada hadirin sekalian dan diri kami pribadi, marilah kita selalu berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah dengan terus berusaha menjalankan seluruh perintahNya dan menjauhi semua laranganNya. Semoga Allah selalu memberikan bimbingan dan kekuatan kepada kita sehingga kita selau dalam keimanan dan ketakwaan kepadanya. Amin.


Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah,
Alhamdulillah saat ini kita sudah sampai pada pengujung Ramadhan. Itu artinya kita hampir sampai pada Syawal yang pada tanggal satu umat islam merayakan Hari Raya Idul Fitri 1444H


Pernahkah kita mengucapkan minal ‘aidin wal faizin, terutama saat Lebaran? Ucapan tersebut memiliki sejarahnya sendiri, terutama terkait Perang Badar. Dilansir dari berbagai sumber, dalam sejarah Islam, perayaan Idul Fitri kali pertama adalah pada 624 Masehi atau tahun kedua hijriyah. Waktu tersebut bertepatan dengan selesainya Perang Badar yang dimenangkan oleh kaum Muslimin.


Perang Badar sendiri terjadi pada 17 Ramadhan dan pasukan Rasulullah hanya berjumlah sedikit dibandingkan musuh. Namun berkat perlindungan dan bantuan Allah, Perang Badar bisa dimenangkan oleh Rasulullah dan para pasukannya.


Kemenangan Perang Badar lantas dirayakan secara besar-besaran, sebagai bentuk syukur kepada Allah. Dari kemenangan inilah, muncul ungkapan “Minal ‘Aidin wa Faizin” yang versi lengkapnya, “Allahummaj ‘alna minal ‘aidin walfaizin”. Artinya: “Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang kembali (dari Perang Badar) dan mendapatkan kemenangan.”


Pada perayaan Idul Fitri pertama ini, kaum muslimin merayakan dua kemenangan perdana. Adalah pencapaian ritual puasa Ramadhan setelah berjuang menahan lapar, haus, dan hawa nafsu, sekaligus keberhasilan dalam Perang Badar.


Lalu bagaiman agar kita mendapatkan predikat kembali fitrah dan beruntung, ada beberapa hal yang perlu kita lakukan:


1. Berpuasa Ramadhan
Berpuasa Ramadhan adalah suatu ibadah yang diwajibkan bagi orang-orang yag beriman, yang juga diwajibkan kepada umat-umat sebelum kita.


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ‏"‏‏.‏


’’Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda siapa yang melakukan puasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.’’ (Hadits Bukhari No 38)


أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ "‏ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ‏"‏ ‏.‏


’’Bahwa Rasulullah bersabda siapa yang melakukan puasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan siapa yang melakukan shalat sunnah di malam lailatul qodar maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.’’ (HR. Muslim no 760)


2. Memperbanyak sedekah saat Ramadhan
Bersedekah adalah memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain dengan ikhlas. Jika kita memiliki harta sedekahlah dengan hartanya, jika kita memiliki pikiran cerdas sedekahlah dengan pikiran cerdasnya. Jika kita memiiki tenaga sedekahlah dengan tenanganya,. Jika tidak memiliki semuanya, sedekahlah dengan senyum.


 تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ


Artinya: “Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu.” (HR Tirmidzi)


3. Menjalankan ibadah Shalat Tarawih
Ibadah yang langka dan tidak biasa dan waktunya hanya satu tahun sekali adalah salah satunya ibadah Shalat Tarawih. Alhamdulillah kita sudah melaksanakannya dengan baik, insyaallah kita akan mendapatkan balasan dari Allah dengan diampuni dosa-dosa kita, sebagaimana hadist Nabi:


مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ


"Barangsiapa melakukan ibadah puasa Ramadan karena iman dan mencari pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)


4. Memberbanyak Dzikir
Berdzikir kepada Allah merupakan hal yang diperintahkan Allah, di mana pun dan kapan pun. Ketika kita berdzikir kepada Allah, maka Allah pun akan mengingat kita sebagai hamba yang sedang mengingatNya. Dengan berdzikir sesuatu yang boleh jadi tidak mungkin terjadi, bisa terjadi, sebagaimana Nabi Yunus yang dimakan ikan 40 hari masih bisa hidup dan keluar dari ikan yang memakannya. Allah berfirman


فَلَوۡلَاۤ اَنَّهٗ كَانَ مِنَ الۡمُسَبِّحِيۡنَۙ   لَلَبِثَ فِىۡ بَطۡنِهٖۤ اِلٰى يَوۡمِ يُبۡعَثُوۡنَ‌ۚ


’’Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berdzikir (bertasbih) kepada Allah,(143) niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari kebangkitan.(144) (QS AShoffat: 143-144)


5. Iktikaf
Iktikaf atau duduk di masjid dengan melakukan tafakkur, tadarrus Al-Qur’an ataupun mengakaji sebuah ilmu, serta berdzikir ataupun shalat sunnah menjadi sangat indah dan baik untuk dilaksanakan khususnya di akhir Ramadhan. Saking baiknya, Rasulullah pun membangunkan keluarganya untuk ibadah ataupun iktikaf di hari sepuluh terakhir  Ramadhan. Rasulullah bersabda:


عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ 


’’Aisyah radhiallahu 'anha, ia berkata; Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melakukan I'tikaf pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadlan.’’ (HR Muslim)


6. Membaca Al-Qur’an
Al-Qur’an berarti bacaan, dan Al-Qur’an adalah pedoman hidup ummat Islam. Karenanya menjadi penting membaca Al-Qur’an. Apalagi di bulan suci Ramadhan. Orang orang yang membeca Al-Qur’an, dia tidak akan merugi perniagaannya. Sebagaimana firman Allah yang artinya; 


“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.’’ (QS Fathir: 29-30)


Semoga Allah memberikan ridha dan predikat al ‘aidin wal faizin (kembali ke fitrah dan keberuntungan).


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَجَعَلَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاِت وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. إِنَّهُ هُوَ البَرُّ التَّوَّابُ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ


Khutbah II


اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَييُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْممٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْممِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّددٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَااءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


KH Ahmad Misbah, Ketua Lembaga Dakwah NU Tangsel


Khutbah Terbaru