Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023

Keislaman

Halalkah Sembelihan Orang yang Mengaku Muslim, tetapi Tidak Ngerti Ajaran Islam?

Ilustrasi kambing. (NUO)

MENYEMBELIH hewan tidak sekadar hanya bisa menyembelih. Tapi ada aturan yang perlu diketahui dan dikuasai. Berikut hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim:

 

 


Baca Juga:
Rayakan Idul Adha, PCNU Tangsel Sembelih Hewan Kurban Bersama NU Care LAZISNU

أخرج مسلم في كتاب الصيد والذبائح وما يؤكل من الحيوان 3615: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي الْأَشْعَثِ عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ ثِنْتَانِ حَفِظْتُهُمَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

 


’’Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh (dalam proses sanksi qishah), maka berbuat baiklah (lakukan dengan baik) dalam cara membunuh dan jika kalian menyembelih, maka berbuat baiklah dalam cara menyembelih, dan hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan sembelihannya.’’


Baca Juga:
Apa Boleh Panitia Mengambil Bagian Kurban?

 


Nah فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ (berbuat baiklah dalam menyembelih) dipahami bahwa tidak hanya pada saat menyembelih hewan tersebut dengan pisau yang paling tajam dan dengan cara yang singkat serta cepat saja. Melainkan juga berbuat baik sebelum proses penyembelihan.

 


Lalu jika ada pertanyaan, halalkah sembelihan seorang yang mengaku dirinya Muslim, tetapi tidak mengerti ajaran-ajaran Islam dan kadang-kadang shalat dan puasa, namun tidak mengetahui syarat dan rukunnya?


Baca Juga:
Khutbah Idul Adha: Berhaji dan Berkurban untuk Diridhai Allah



Muktamar Nahdlatul Ulama ke-5 di Pekalongan, Jawa Tengah, yang dilaksanakan 13 Rabius Tsani 1349/7 September 1930, seperti dikutip dari Juz Awal Ahkamul Fuqaha fi Muqarrarat Mu’tamirat Nahdlatil Ulama, Kumpulan Masalah Diniyah dalam Muktamar Nahdlatul Ulama PBNU, Penerbit CV Toha Putra Semarang, menjawab sebagai berikut:


Halal, asal tidak terlihat tanda-tanda yang menunjukkan kekafirannya, baik dari kata-kata, perbuatan, maupun kepercayaannya.

Rujukan: Kitab Thabaqatus Syafiiyyah


تحل ذبيحته اذا لم يظهر منه ما يدل على الكفر من قول او فعل او اعتقاد كما فى الجزء الثانى من طبقات الشافعية ونصه: فنحن نحكم لجميع عوام المسلمين بانهم مؤمنون مسلمون فى الظاهر ونحسن الظن بهم ونعتقد ان لهم نظرا واستدلالافى افعال الله وانهم يعرفونه سبحانه . والله اعلم بما فى قلوبهم وليس كل ما يحكم به على الناس باحكام المسلين هو عين الايمان . فان الدار اذا كانت دار اسلام ووجدنا شخصا ليس معه عيار الكفار فانا نأكل ذبيحته ونصلى خلفه ولو وجدناه ميتا لغسلناه ونصلى عليه وندفنه فى مقابر المسلمين اه.

 

Wallahu a’lam bis shawab

Editor: Izzul Mutho

Artikel Terkait