• logo nu online
Home Banten Raya Ubudiyyah Warta Nasional Fragmen Keislaman Syariah Tauhid Tokoh Khutbah Sejarah Doa Opini Hikmah Pendidikan Islam Wisata Religi NU Preneur
Rabu, 30 November 2022

Banten Raya

Gelaran Diskusi Forma SKSG UI : Kepemimpinan Perempuan dalam Islam di Era Digital

Gelaran Diskusi Forma SKSG UI : Kepemimpinan Perempuan dalam Islam di Era Digital
Sumber Gambar: NU Online Banten
Sumber Gambar: NU Online Banten

Tangerang Selatan - NU Online Banten

Forum Mahasiswa Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia menyelenggarakan diskusi publik dengan tajuk “Peran Kepemimpinan Perempuan dalam Islam”.

 

Diskusi publik dan bedah buku dilaksanakan pada hari Selasa (26/4/2022) di Rumah Surabi 74 Ciputat dengan rangkaian acara diskusi dan dilanjutkan dengan buka puasa bersama. Hadir dalam diskusi tersebut mahasiswa dari berbagai Universitas di sekitar Tangerang Selatan, seperti UIN Jakarta, UMJ, UI dan UNPAM.

 

Bahal Siregar, selaku Ketua Umum Forma SKSG Universitas Indonesia, menjelaskan tujuan diskusi ini untuk melihat ulang benang merah kepemimpinan perempuan pada masa lampau dengan peran-peran keperempuan saat ini. Selain itu, untuk menegaskan peran perempuan dalam ranah kepemimpinan mempunyai porsi yang sama dengan laki-laki sebagai sering kali diasosiasilan sebagai seorang pemimpin.

 

Hadir sebagai keynote speaker, Dr. Siti Ma’rifah, MM, Ketua Komisi KPRK MUI Pusat ia menyampaikan “Potensi perempuan di era digital sangat besar. Teknologi digital secara masif memperkuat peran perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. Kedudukan perempuan dalam perspektif islam pun memiliki posisi yang setara. Islam sangat mendukung dan menghormati peran perempuan.”

 

Sejarah kepemimpinan perempuan di Timur Tengah dan di Indonesia seperti sejarah Ratu Kalinyamat, RA Kartini, dan sejarah Perempuan lainnya memperlihatkan koherensi antara peran perempuan dan support sistem dari laki-laki. Maksudnya bukan untuk mengalahkan posisi laki-laki, tapi untuk mewujudkan cita-cita masa depan yang cerah. Tanpa adanya support laki-laki yang harmonis, mustahil semua yang diperjuangkan dapat terwujud,” Lanjut Ma’rifah.

 

Selanjutnya diskusi dilanjutkan dengan penyampaian pandangan oleh Dr. Hj. Diana Mutiah, M. Si, aktivis yang sudah malang melintang di isu kepemimpinan Perempuan. Ia memberikan selayang pandang tentang esensi kepemimpinan dari buku yang dibedah.

 

"Buku tersebut membahas tentang hakikat kepemimpinan perempuan yang ditulis oleh 8 penulis dengan 12 perspektif dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda. Ilmu-ilmu tersebut terangkai dari lintasan sejarah, perspektif hadits, perspektif ekonomi, perspektif antropologi, perspektif politik, perspektif tasawuf, perspektif jabatan publik, perspektif keluarga, konsep leadership perempuan ideal, perspektif tafsir, perspektif fiqih islam, dan perspektif dakwah.

 

“Tidak ada satu dalil pun yang menyebutkan bahwa perempuan tidak boleh menjadi pemimpin. Islam sangat menunjung tinggi dan menghormati peran perempuan. Adanya larangan perempuan untuk menjadi seorang pemimpin karena pemangku kepentingan yang mempolitisi kedudukan perempuan,” tegas Diana.

 

Pandangan berikutnya disampaikan oleh Nurul Mudrika, Ketua PC Fatayat Tangerang Selatan. Ia menegaskan, pemimpin perempuan seringkali menjadi hal yang sangat disepelekan, karena pada umumnya masyarakat Indonesia menilai perempuan hanya memiliki peran dalam ranah domestik saja, padahal perempuan juga telah menjadi pelopor yang baik dalam hal kepemimpinan.

 

Selain itu Nurul menyampaikan “Jika berbicara tentang kepemimpinan, perempuan tidak akan menjadi pemimpin tanpa adanya circle atau lingkungan sekitar yang mendukung perempuan dalam hal memimpin, proses perempuan menjadi pemimpin tidak hanya mendapat pengaruh dari lingkungan, ada hal yang sangat penting selain proses dari lingkungan, yaitu proses dari diri sendiri,” Tegas Nurul.

 

Lebih lanjut Nurul juga menyampaikan, Salah satu syarat menjadi pemimpin bukan dilihat dari laki-laki maupun perempuan, tetapi pemimpin dilihat dari kinerjanya, dan apakah dia dicintai disukai dan dapat menempatkan dirinya sebagai pemimpin yang mengayomi semua kalangan,” ujarnya.

 

Pandangan terakhir disampaikan oleh Nopa Supensi, Sekretaris Kopri PB PMII, "Kedudukan perempuan dalam pandangan fundamental selalu dipertanyakan dan di nomor duakan. Pandangan ini tentu merugikan posisi perempuan karena selalu mencampuradukkan antara kodrat dengan peran yang seharusnya dilakukan.

 

Nopa juga melanjutkan “Padahal kedudukan perempuan di ruang publik sudah mendapatkan tempat yang luar biasa. Perempuan sudah menduduki ruang legislatif sekitar 30%. Oleh karena itu, perempuan sebagai seorang pemimpin harus peka terhadap lingkungan sekitar. Yang lebih penting dari semua yang telah dibahas oleh pembicara sebelumnya adalah bahwa kita sebagai perempuan harus mempersiapkan diri, baik kualitas maupun kuantitas diri kita, dalam mengahadapi kenyataan bahwasannya pemimpin itu tidak harus laki-laki,” tegasnya.

 

Pemimpin pada saat ini tidaklah melihat dari jenis gendernya, perempuan masa kini memiliki pemikiran yang kritis dalam hal memimpin dan mengayomi layaknya seorang pemimpin laki-laki. Jangan sampai perempuan berani menentang atau berargumen, tetapi tidak memiliki landasan yang kuat.

 

Kontributor : Dedy

Editor : Sofwatul Ummah


Banten Raya Terbaru