• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Senin, 17 Juni 2024

Keislaman

Sayang Dilewatkan, Ini Keutamaan Puasa Syawal

Sayang Dilewatkan, Ini Keutamaan Puasa Syawal
Ilustrasi Syawal. (Foto: NUO)
Ilustrasi Syawal. (Foto: NUO)

RAMADHAN 1445 H telah berakhir. Saat ini masuk Syawal. Di Bulan Syawal, umat Islam disunnahkan untuk mengerjakan puasa Syawal selama enam hari. Seperti dilansir NU Online, Rasulullah dalam sebuah haditsnya menyebutkan, pahala orang yang melaksanakan puasa Syawal setara dengan berpuasa setahun lamanya. 



"Siapa saja yang berpuasa Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun.” (HR Muslim)



Musyrif Pesantren Darussunnah Jakarta Ustadz Amien Nurhakim dalam tulisannya di NU Online menyebutkan lima keutaman bagi Muslim yang melaksanakan puasa sunnah Syawal dengan mengutip pandangan Imam Ibnu Rajab al-Hanbali. 



Berikut 5 keutamaan puasa Syawal: 



Pertama, penyempurna puasa Ramadhan

Puasa sunnah Syawal sebagai penyempurna puasa Ramadhan. Hal ini sebagaimana shalat yang bila ingin menyempurnakan shalat fardu, maka seseorang dianjurkan untuk melaksanakan shalat sunnah rawatib, yaitu qabliyah dan bakdiyah.  "Begitu pun puasa sunnah Syawal yang dapat menyempurnakan puasa Ramadhan," tulis Amien, dikutip Kamis (11/4/2024).



Kedua, sempurnakan pahala puasa

Puasa sunnah Syawal memiliki keistimewaan untuk menyempurnakan pahala puasa menjadi pahala puasa setahun. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan Rasulullah dalam haditsnya.



Ketiga, tanda puasa Ramadhan diterima

Puasa sunnah Syawal menjadi pertanda puasa Ramadhan diterima oleh Allah. Dijelaskan, umat Islam yang membiasakan puasa setelah selesainya puasa Ramadhan adalah orang yang beruntung. Sebab kebiasaan tersebut menjadi pertanda diterimanya puasa yang dikerjakan sebelumnya.



Keterangan mengenai ini dikutip oleh Amien Nurhakim dari pernyataan ulama yang menyebutkan bahwa ganjaran perbuatan baik adalah perbuatan baik setelahnya. Karena itu, siapa pun yang berbuat kebaikan kemudian mengikutkannya dengan perbuatan baik lainnya, maka hal yang demikian adalah tanda diterimanya kebaikan yang pertama. 



Begitu juga orang yang berbuat baik kemudian mengikutkannya dengan perbuatan buruk, maka yang demikian adalah tanda ditolaknya kebaikan yang ia kerjakan.

 


Keempat, tanda syukur kepada Allah

Puasa sunnah Syawal sebagai tanda syukur kepada Allah. Jamak diketahui bahwa di Bulan Ramadhan banyak anugerah yang diberikan Allah. Seperti ampunan, pahala yang berlipat-lipat, dan seterusnya. Ini ditegaskan juga dalam hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Hurairah ra yang artinya kurang lebih:



"Siapa saja yang berpuasa Ramadhan dengan dasar iman, dan berharap pahala dan ridha Allah, maka dosanya yang lalu akan diampuni.” [dalam riwayat lain]: “Siapa saja yang menghidupkan malam hari Bulan Ramadhan dengan dasar iman, dan berharap pahala dan ridha Allah, maka dosanya yang lalu akan diampuni.” (HR Bukhari dan Muslim)



Karena ampunan inilah patutnya bersyukur kepada Allah dengan melakukan ketaatan berupa puasa Syawal. 



Kelima, tanda ibadah Ramadhan tak terputus

Puasa sunnah Syawal menandakan bahwa ibadah yang dilaksanakan pada Bulan Ramadhan tidak terputus. Spirit beribadah pada Bulan Ramadhan hendaknya tidak sekadar menjadi musiman, melainkan harus dipertahankan di bulan-bulan berikutnya. 


Sedangkan puasa Syawal dapat dikatakan adalah salah satu bentuk usaha yang dapat dilakukan untuk melestarikan ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan. Dengan selesainya Ramadhan, bukan berarti ibadah yang diamalkan selesai sudah, namun hendaknya kita berusaha untuk mempertahankan kualitas dan kuantitas ibadah di bulan-bulan selanjutnya sebagaimana di bulan Ramadhan. (A Syamsul Arifin)


Keislaman Terbaru