• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Sabtu, 20 April 2024

Keislaman

Tradisi Ruwahan hingga Nyadran dalam Pandangan Islam

Tradisi Ruwahan hingga Nyadran dalam Pandangan Islam
Ziarah kubur jelang Ramadhan biasanya makin ramai. (Foto: NOJ/Pry)
Ziarah kubur jelang Ramadhan biasanya makin ramai. (Foto: NOJ/Pry)

RAMADHAN 1445 Hijriah semakin dekat. Banyak tradisi yang sudah akrab di masyarakat. Sebut saja ruwahan. Seperti apa dalam pandangan Islam? Wakil Katib Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta KH Taufik Damas menjelaskan, tradisi ruwahan menjadi salah satu amal jariyah. Sesuai dengan hadist Nabi Muhammad, ruwahan termasuk ke dalam kategori anak saleh yang mendoakan kedua orang tuanya.



"Ruwahan adalah bentuk amal shaleh untuk orang tua yang sudah meninggal yang dilakukannya menjelang momen Ramadhan setelah Nisfu Sya'ban," katanya seperti dilansir NU Online Jakarta, Sabtu (4/3/2023).



Kiai Taufik menyebutkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

 

 إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

 

“Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali 3 (perkara) : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa baginya.”

 


Kiai Taufik menjelaskan bahwa ketiga kategori tersebut adalah golongan yang dipastikan mendapat pahala jariyah yang didapatkan setelah kematian.



"Dalam hadist Nabi juga ditegaskan, orang meninggal itu sudah selesai dosa dan pahalanya. Tapi ada pahala yang disebut dengan pahala jariyah, artinya orang yang meninggal mendapatkan pahala dari tiga jalur, yang pertama amal jariyah. Mungkin dia pernah membangun masjid atau tempat-tempat bermanfaat lainnya, kedua melalui ilmu yang bermanfaat, entah itu mengajar atau sampai menulis buku, dan buku-bukunya sampai dipajang orang, itu juga mendapat pahala jariyah," jelasnya.




"Kemudian yang terakhir melalui doa anak shaleh yang mendoakan kedua orang tuanya, salah satu caranya dengan melakukan doa secara masing-masing setiap setelah shalat. Tapi di momen tahlilan dan ruwahan adalah bentuk amal saleh untuk orang tua yang sudah meninggal, tapi dilakukannya menjelang momen Ramadhan, ada yang melakukan hanya mengundang keluarga dan ada juga yang mengundang orang banyak," terangnya.




Kiai tamatan Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir itu mengungkapkan, tradisi ruwahan sebetulnya bukan tradisi asal orang Betawi. Ruwahan juga sudah menjadi tradisi dan dilakukan di banyak tempat terutama di Pulau Jawa. "Sebetulnya bukan hanya tradisi orang Betawi, sebetulnya di Jawa juga dilakukan," jelasnya.



Kiai Taufik menjelaskan arti kata ruwahan, menurutnya, kata tersebut diambil dari bahasa Arab yaitu arwah. "Kata ruwah sendiri sebetulnya berasal dari bahasa arab yaitu arwah kemudian berubah menjadi ruwahan. Ruwahan diniatkan untuk berdoa dan berdzikir bersama kemudian pahalanya dikirimkan kepada orang-orang yang sudah meninggal dunia," jelasnya.


Mengenai pelaksanaan ruwahan, Kiai Taufik mengungkapkan tradisi tersebut umumnya dilakukan secara kolektif (bersama) baik lingkup keluarga maupun masyarakat umum.


"Ruwahan dilakukan secara kolektif, kadang-kadang sekeluarga melakukan ruwahan, tapi di zaman sekarang orang-orang melakukan ruwahan secara kolektif jadi warga atau masyarakat yang ingin ikut dalam acara tersebut. Ikut memberikan bantuan kemudian menyetor nama yang sudah meninggal untuk didoakan bersama-sama dalam acara ruwahan akbar atau ruwahan masal. Jadi ini bukan tradisi orang Betawi," jelasnya.

 

Kiai kelahiran Jakarta pada tahun 1974 ini menyebut bahwa tradisi ruwahan ini sama seperti tradisi nyadran, hanya saja sudah diislamisasikan kegiatan dengan membacakan doa yang ditujukan kepada Allah bukan yang lain.



"Tradisi sebelum Islam datang itu bernama nyadran. Kalau dulu mungkin meminta berkah kepada leluhur, di-Islam-kan jadi mendoakan orang yang sudah meninggal dunia agar mereka itu bahagia di akhirat. Biasanya dibarengi dengan kunjungan ke makam atau kuburan dan membersihkan kuburan dan menabur bunga," ungkapnya.


Kiai Taufik juga berpesan untuk melestarikan tradisi ruwahan ini, karena mengandung banyak nilai-nilai baik untuk kehidupan bersama dalam bermasyarakat.

 

"Ini adalah tradisi baik dalam artian ada tahlilan, sedekah, berdoa bersama-sama dan bersilaturahmi dalam tradisi ruwahan ini. Dalam keyakinan kita untuk berbakti kepada orang tua bukan cuma ketika mereka hidup tapi ketika mereka juga sudah meninggal dunia," pungkasnya.



Sementara itu, selain nyadran dan ruwahan, ada tradisi nyekar jelang Ramadhan. Nyekar adalah istilah yang merujuk pada ziarah kubur yang dibarengi penaburan bunga di pusara makam. Dalam pandangan Islam, bahwa ziarah kubur dianjurkan. Lebih-lebih ke makam leluhur atau orang tua. (Haekal Attar)


Keislaman Terbaru