• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Jumat, 1 Maret 2024

Nasional

Ketua Lakpesdam PBNU: Terbuka untuk Perubahan, tanpa Kehilangan Jejak ‎Tradisi

Ketua Lakpesdam PBNU: Terbuka untuk Perubahan, tanpa Kehilangan Jejak ‎Tradisi
Webinar dalam rangka Milad ke-1083 tahun Al-Azhar yang digelar OIAA Cabang Indonesia menghadirkan Ketua Lakpesdam PBNU KH Ulil Absar Abdalla. (Foto: NU Online Banten/Screenshot Zoom Singgih Aji Purnomo)
Webinar dalam rangka Milad ke-1083 tahun Al-Azhar yang digelar OIAA Cabang Indonesia menghadirkan Ketua Lakpesdam PBNU KH Ulil Absar Abdalla. (Foto: NU Online Banten/Screenshot Zoom Singgih Aji Purnomo)

Bogor, NU Online Banten
Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) ‎Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ulil Absar Abdalla mengaku teringat ‎sekaligus kilas balik Muktamar Fikih Peradaban Internasional 1 di Surabaya, Jawa ‎Timur, tahun lalu.‎


‎’’Menurut salah satu tokoh yang hadir saat itu menyebut keunikan sistem ‎pendidikan di Universitas Al-Azhar adalah keterbukaannya. Al-Azhar punya ‎kemiripan dengan Nahdlatul Ulama yaitu semangat untuk membuka diri,’’ ungkap ‎founder Ngaji Ihya Online itu saat webinar dalam rangka Milad ke-1083 tahun Al-‎Azhar yang digelar Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang ‎Indonesia, Kamis (16/3/2023).‎


Kiai yang akrab disapa Gus Ulil itu mengatakan, Al-Azhar adalah meeting point ‎dari berbagai madzhab. ’’Nahdlatul Ulama (NU) meski menganut Madzhab Syafi’i, ‎tapi dalam hal mengenai hukum, NU terbuka untuk madzhab lainnya,’’ kata pria ‎kelahiran Pati, Jawa Tengah, itu.‎


Dijelaskan, keterbukaan yang dimaksud adalah terbuka akan perkembangan pada ‎zaman. ’’Di mana kita hidup tanpa kehilangan jejak atau pondasi dalam tradisi. Ini ‎adalah ciri khas Islam yang menganut Madzhab Sunni,’’ imbuh menantu KH ‎Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, Rembang, itu.‎


Pria yang pernah menimba ilmu di Universitas Harvard Amerika Serikat itu ‎mengilustrasikan, salah satu bentuk dalam praktik moderasi beragama ini  ‎tercermin di Al-Azhar dan Nahdlatul Ulama. “Moderasi beragama dapat terwujud ‎dengan sifat terbuka akan perubahan, tanpa mengesampingkan tradisi yang ada. ‎Ini yang penting,’’ tegas suami Ienas Tsuroiya itu.‎


Nahdlatul Ulama, lanjutnya, yang telah mengadakan Religion of Twenty (R20), ini ‎juga bagian dari semangat keterbukaan. R20 juga sebagai bagian dari ‎implementasi jargon NU, al-muhafadhah ‘alal qadim al-shalih wal akhdzu bil ‎jadidil ashlah (memelihara yang lama yang masih baik dan mengambil yang baru ‎yang lebih baik).‎


Dia juga tak lupa menyampaikan selamat milad Al-Azhar. ’’Semoga Al-Azhar ‎mampu menjadi menara peradaban Islam dan menjadi tempat para sarjana dan ‎pelajar mahasiswa dari Indonesia terus mengembangkan jaringan ilmu,’’ ‎imbuhnya.‎


Gus Ulil juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa Indonesia yang sedang ‎belajar di Universitas Al-Azhar, Mesir. ’’Tuntutlah ilmu setinggi-tingginya di Mesir. ‎Namun ketika kembali ke Indonesia, ilmu itu harus diterjemahkan di dalam ‎konteks Indonesia, karena salah satu ciri khas Ahlusunnah wal Jama’ah ialah ‎kemampuan untuk menerjemahkan pesan-pesan Islam ke dalam konteks yang ‎beragam. Bisa menyesuaikan diri dengan budaya lokal yang ada di seluruh dunia, ‎terkhusus Indonesia,’’ tutup Gus Ulil yang juga penulis NU Online itu.‎


Sekadar diketahui, selain Gus Ulil, diskusi virtual room zoom bertema masyarakat ‎sipil dan moderasi beragama; visi, strategi, dan aksi yang terbuka untuk umum ‎itu menghadirkan sejumlah narasumber. Di antaranya Koordinator Nasional ‎Gusdurian Indonesia Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid dan Ketua Organisasi ‎Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia TGB Dr M Zainul Majdi. ‎


Pewarta: Singgih Aji Purnomo


Nasional Terbaru