• logo nu online
Home Banten Raya Ubudiyyah Warta Nasional Fragmen Keislaman Syariah Tauhid Tokoh Khutbah Sejarah Doa Opini Hikmah Pendidikan Islam Wisata Religi NU Preneur
Senin, 15 Agustus 2022

Opini

Tabayyun: Perintah Lawas tetapi Masih Relevan

Tabayyun: Perintah Lawas tetapi Masih Relevan
Ilustrasi
Ilustrasi

Media sosial hari ini bisa dibilang sebagai fakta kedua setalah dunia nyata yang sehari-hari dijalani. Misalnya begini, ketika seseorang post di media sosial bahwa ia seolah sedang singgah di suatu tempat di hari itu, netizen akan berpikir bahwa orang tersebut detik itu sedang benar-benar ada di lokasi tersebut. Padahal, pada faktanya gampar lokasi yang baru saja diunggah diambil di waktu yang berlainan. Begitu kira-kira yang dimaksud dengan “fakta kedua setelah dunia nyata.

 

Karena sudah terlanjur dianggap sebagai dunia kedua, maka informasi apapun yang ada di dalamnya sering kali ditelan mentah-mentah tanpa menunggu tabayyun dari sang pengirim informasi.

 

Bahkan, banyak sekali informasi yang berseliweran dengan nada meyakinkan bahwa apa yang tertulis adalah benar diikuti dengan perintah “untuk disebarkan,” dan juga, tidak jarang diikuti oleh (semacam) ancaman, misalnya “sebarkan jika kalian tidak mau hal buruk menimpa kalian.”

 

Padahal, tabayyun belum didapat dari “si” penyebar informasi, tetapi ancaman semacam di atas sudah dilontarkan terlebih dahulu agar informasi tersebut secepat kecepatan cahaya tersebar ke mana-mana.

 

Sementara dalam Islam, perintah untuk melakukan tabayyun mengenai informasi yang didapat tertulis dalam Q.S al-Hujurat (49):6 “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

 

Secara eksplisit, ayat di atas mengharuskan kita melakukan tabayyun terlebih teliti ketika menerima informasi dan pencarian bukti-bukti yang terkait dengan informasi yang beredar. Jangan sampai informasi tersebut berdampak fatal bagi sebagian pihak, sehingga ada pihak yang dirugikan karena informasi tersebut tidak sesuai dengan fakta. Dan, sayangnya kadung ditelan mentah-mentah. 

 

Tabayyun juga merupakan peringatan, jangan sampai ummat Islam melakukan tindakan yang menimbulkan dosa dan penyesalan akibat keputusan yang tidak didahului dengan tabayyun  yang bisa mencelakakan dan merugikan orang lain. Selain itu, tabayyun dalam kehidupan sosial menjadi sangat penting dalam ihwal mencegah hal-hal yang dapat merenggangkan sendi-sendi persatuan dan kerukunan.

 

Jadi, sederhananya tabayyun merupakan kegiatan penelitian untuk mencari informasi secara hati-hati dengan tujuan untuk mendapatkan berbagai fakta dalam rangka menguji kebenaran.

 

Lebih jauh lagi, tabayyun merupakan perintah yang sudah disampaikan berabad-adab lalu yang tertulisa dalam firman Allah di atas ternyata masih sangat relevan dengan kondisi hari ini. Kandungan ayat tersebut secara langsung memberikan perintah kepada umat muslim untuk meneliti atau memeriksa kembali terkait berita yang disebarkan oleh siapapun.


Memang, kebebasan menyampaikan pendapat sudah menjadi bagian dari kehidupan, khususnya di Indonesia. Hal ini tercermin dengan banyaknya informasi yang tersebar, baik yang merupakan fakta atau sekadar informasi pembuat gaduh seperti hoax yang memiliki potensi merugikan pihak lain, bahkan memecah kesatuan dan kerukunan.

 

Media sosial yang merupakan gerbang masuk segala informasi terdapat pada genggaman kita. Melalui gadget atau smartphone yang nyaris dimiliki oleh semua kalangan dan usia. 

 

Hebatnya, dunia kita sekarang bagaikan tanpa jarak dan sekat, sehingga segala sesuatu yang terjadi di belahan bumi lain pun akan mudah diketahui melalui gadget secara mudah tanpa perlu datang ke lokasi tersebut. 

 

Pada dasarnya smartphone adalah teknologi mutakhir yang multifungsi; dapat digunakan untuk berkomunikasi melalui WhatsApp, Facebook, Instagram, Twitter dan lainnya yang biasanya dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Atau dapat digunakan untuk menunjang aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dengan mengunduh aplikasi Gojek yang memiliki berbagai fitur layanan seperti pemesanan ojek atau pemesanan makanan secara daring. 

 

Keuntungan dari kecanggihan teknologi dan media sosial adalah memberikan kemudahan, murah, dan cepat untuk berkomunikasi secara efektif. Sementara itu, penyebaran informasi secara luas dan cepat terjadi di media sosial tanpa ada batasan. 

 

Akibat kecepatan akses tersebut timbul dampak negatif disamping sisi positifnya. Sisi positif dari kecepatan informasi di media sosial seperti informasi terkini seperti berita, kejadian baru, dan pengetahuan secara luas dapat tersebar dengan cepat. Sementara sisi negatifnya yaitu sebaran informasi yang tidak terbendung, nir tabayyun, dan daya kritis yang tumpul sehingga informasi apapun, sekali lagi, ditelan mentah-mentah.

 

Misalnya saja ketika mencari data dan informasi tentang keterangan suatu ayat di dalam al-Qur’an melalui mesin pencari atau melalui media sosial yang pasti terdapat banyak pilihan. Banyaknya pilihan tersebut setidaknya dapat dikategorikan kepada dua kelas, yaitu keterangan dengan sumber yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, dan, keterangan yang berisi sumber yang tidak jelas dan diragukan.

 

Jika daya kritis kita kuat, maka dua kategori tersebut akan autopilot ada dalam benak pembaca, namun jika tidak memiliki daya kritis, maka lagi dan lagi informasi akan diserap dengan mentah-mentah yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan atau kerap kali disebut dengan informasi hoax.

 

Fenomena hoax bukanlah sesuatu yang baru melainkan sudah ada sejak zaman awal penciptaan manusia. Iblis membohongi Nabi Adam AS sehingga dirinya diturunkan ke bumi oleh Allah Swt. merupakan hoax pertama yang sering dikisahkan.

 

Dinamika seperti ini menjadi keharusan untuk menerapkan tabayyun. Jika tidak, akan melahirkan budayaan kebohongan atau hoax karena seluruh aspek kehidupan seperti lini ekonomi dan politik pun tidak lepas dari potensi kebohongan. 

 

Aktualisasi tabayyun di kalangan umat Islam amat rendah, terlebih budaya membaca dan berpikir kritis yang lemah turut memperparah lemahnya kemauan dan kemampuan tabayyun. Sebagaian besar masyarakat Indonesia cenderung memilih menjadi penerima informasi atau berita tanpa melalui penyaringan atau proses tabayyun.

 

Penyaringan berita atau informasi sangat membutuhkan orang lain sebagai pihak yang dikonfirmasi. Tidak semua pihak bisa dijadikan verifikasi dari berita melainkan harus memiliki integritas dan kejujuran yang tinggi, sebab tingkat kebenaran tidak bisa ditetapkan berdasarkan banyaknya individu yang mengedarkan informasinya. 

 

Maka, pentingnya menerapkan tabayyun memberikan manfaat bagi kita agar dapat meminimalisir kesalahpahaman, tidak saling menuduh, mencegah permusuhan, dan menciptakan kerukunan antar perbedaan.

 

Keharusan dalam melakukan tabayyun memberikan dampak yang baik dalam mengambil suatu informasi yang berseliweran baik di media sosial atau di dalam sumber lainnya, diantaranya:

 

Mendapatkan Informasi Yang Valid dan Terpercaya

Perlunya ketelitian dan kehati-hatian dalam menyikapi informasi yang datang, komunikan haruslah mengetahui terlebih dahulu kevalidan dari informasi tersebut. Sebagaimana dijelaskan dalam surat an-Nisā’ ayat 94 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, Maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan "salam" kepadamu: "Kamu bukan seorang mukmin" (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. begitu jugalah Keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, Maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

 

Dalam surah al-Hujurat ayat 6 dan surah an-Nisa’ ayat 94 di atas sama-sama menerangkan Allah SWT menyuruh untuk meneliti sesuatu yang belum tampak jelas keadaanya dan tidak buru-buru dalam mengambil keputusan. 

 

Dua ayat di atas hampir sama dari apa yang diperintahkan Allah SWT yaitu melakukan penelusuran lebih jauh, tetapi kedua ayat ini memiliki perbedaan dari segi obyek. Q.S al-hujurat mempunyai obyek bagaimana sikap seseorang ketika menerima berita, sementara Q.S an-Nisa’ memiliki obyek bagaimana keadaan ketika bertemu musuh yang tidak diketahui latar belakangnya.

 

Perlunya berhati-hati dalam menerima berita adalah untuk menghindarkan penyesalan akibat berita yang tidak diteliti atau berita bohong itu. Penyesalan yang akan timbul sebenarnya dapat dihindari, jika bersikap teliti dan lebih berhati-hati.

 

Terhindar Dari Penyampaian Berita dan Informasi Yang Salah

Penelusuran informasi sangat berkaitan dengan unsur-unsur komunikasi, yaitu pengirim dan penerima informasi. Informasi apa yang dikirim atau disebarkan, dan bagaimana tanggapan penerima terhadap informasi tersebut. Untuk mencari suatu kebenaran atau suatu data dan fakta dari informasi itu diperlukan kehati-hatian dan ketelitian. 

 

Untuk menentukan kebenaran suatu informasi juga perlu memperhatikan unsur-unsur pemikiran yaitu dengan menyadari kevalidan informasi, mengamati hubungan-hubungan variabel informasi dan mengambil kesimpulan. Kesimpulan yang benar berdasarkan pada kenyataan yang benar, berpikir beberapa saat sebelum mengambil kesimpulan, waspada terhadap prasangka-prasangka, jangan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, berhati-hati dan bersikap kritis, jujur dalam membaca dan menelaah informasi yang ada serta bekerja dan berpikir secara teratur. 

 

Hal ini dikaitkan juga dengan kondisi berpikir yang baik, seperti halnya mencintai kebenaran, harus tahu dan menyadari apa yang sedang dikerjakan, mengetahui dengan sadar apa yang sedang kita katakan, membuat pembagian atau perbedaan yang semestinya, memahami definisi yang benar, mengetahui dengan sadar kenapa kita menyimpulkannya demikian, dan menghindari kekeliruan dengan mengetahui jenis-jenis, macam-macam dan sebab-sebab kesalahan pelajaran terhadap informasi yang dihadapi.

 

Tidak Terjadi Kerugian Sebagai Akibat Kesalahan Informasi

Berkenaan dengan informasi, baik untuk membuat atau yang menerimanya, perlu kehati-hatian, ketelitian serta pemahaman, sebab banyak informasi yang tidak keruan dalam dunia maya menyebabkan kekeliruan dalam kenyataan yang ada, ini merupakan informasi yang salah. Maka, menjaga kebenaran berita dan informasi adalah kewajiban. Ini disebabkan apabila terjadi kesalahan informasi maka akan berakibat fatal dan akan menimbulkan kerusakan dan fitnah.

 

Untuk menyebar atau menerima informasi yang ada perlu ketelitian dan dapat membedakan, apakah informasi tersebut betul atau salah. Sebelum informasi tersebut diterima sepenuhnya, perlu disediliki, sebab semua informasi yang berkembang di media sosial, dunia maya belum tentu seluruhnya benar. 

 

Untuk mengevaluasi informasi tersebut sangat diperlukan kekritisan terhadap keakuratan data dan faktanya. Jika seseorang mengetahui suatu informasi, tetapi tidak memahaminya, lebih baik diam dan tidak menyebarkan informasi tersebut,  karena dikhawatirkan akan terjadi kekacauan, untuk itu disebutkan dalam Hadis Nabi “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ucapkan perkataan yang baik atau lebih baik diam”. 

 

Apabila seseorang tidak mengerti tentang suatu informasi, lebih baik diam daripada berbicara, jika berbicara akan muncul berbagai kekeliruan atau fitnah, hasad dan sebagainya, karena itulah dikatakan dalam kaidah bahwa “Fitnah itu lebih kejam dari Pembunuhan”.

 

Tabayyun adalah solusi kontekstual dan faktual dalam menghadapi dunia yang selalu diwarnai dengan modernisasi. Melalui tabayyun dapat mengetahui keaslian dan kebenaran dari informasi yang sudah tersebar. Selain itu bisa mencegah terjadinya perpecahan di Indonesia melalui proses tabayyun. Ditambah sebagian besar masyarakat Indonesia sangat mudah percaya jika terdapat informasi atau berita yang belum diketahui kebenarannya. Dalam konteks ini tabayyun sebagai urgensi penting selain metode untuk menemukan kebenaran juga sebagai tindakan preventif untuk menguatkan Indonesia.

 


Kamil Assyakiri, Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang


Opini Terbaru