• logo nu online
Home Banten Raya Ubudiyyah Warta Nasional Fragmen Keislaman Syariah Tauhid Tokoh Khutbah Sejarah Doa Opini Hikmah Pendidikan Islam Wisata Religi NU Preneur
Kamis, 26 Mei 2022

Tokoh

Aria Wangsakara, Ulama dan Pejuang dari Sumedang Ke Tangerang

Aria Wangsakara, Ulama dan Pejuang dari Sumedang Ke Tangerang
Ilustrasi Lukisan Aria Wangsakara (Dokumentasi : Istimewa).
Ilustrasi Lukisan Aria Wangsakara (Dokumentasi : Istimewa).

Masa depan Kerajaan Sumedang Larang ketika dipimpin Pangeran Kusumadinata tak menentu. Kala itu, Kerajaan Mataram menekan Sumedang Larang untuk tunduk, jika tidak Mataram tentu akan menyerang Sumedang Larang. Sebagian menyetujui dan sebagian tidak.

Ketiga tumenggung muda trah Kerajaan Sumedang paling vokal menolak tunduk. Aria Wangsakara, Raden Suria Diwangsa II atau Pangeran Kartawijaya dan saudaranya Aria Santika. Pasalnya Sumedang Larang digadang menjadi penerus kejayaan tatar sunda oleh Prabu Geusan Ulun setelah memudarnya kejayaan Pajajaran.

Belum diketahui secara pasti, salah satu sumber menyebutkan angka lahirnya Aria Wangsakara sekitar tahun 1024 H atau 1615 H. Dan menyebutkan Ia adalah keturunan dari Raja Sumedang Larang, sewaktu kecil dipanggil Hasan. Merunut Kitab Negara Kertha Bumi dari Cirebon. Aria Wangsakara Bin Ali/Aria Wiraraja I Bin Ja'far/Prabu Geusan Ulun Bin Soleh/Pangeran Santri Bin Muhammad/Pangeran Pamelakaran Bin Abdurrahman/Pangeran Panjunan Bin Syaikh Datuk Kahfi Bin Syaikh Datuk Isa sampai kepada Ja'far Shodiq Bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zaenal Abidin Bin Sayyidina Husen RA. Di dalam dirinya mengalir darah keturunan Sumedang, Cirebon, Malaka, Gujarat, Hadramaut sampai kepada Rasulullah Saw.

Hingga pada 1620, Pangeran Kusumadinata memilih bergabung dan mengikrarkan diri menjadi bagian Kerajaan Mataram yang dipimpin Sultan Agung. Dan merubah Sumedang Larang menjadi Kabupaten di bawah Kerajaan Mataram. Prayangan yang kemudian dikenal Priangan (Tulus-Ikhlas). Kondisi itu mengharuskan Tiga tumenggung muda ini untuk hijrah ke Kesultanan Banten.

Dalam Paririmbon Ke-Ari-an Parahyangan. Pada Tahun 1629 ketiga Tumenggung muda ini menghadap Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdulqodir. Ketiganya disambut bahagia karena masih ada hubungan keluarga dengan pendiri Kesultanan Banten.

Imadudin Utsman dalam bukunya Sejarah Pendiri Tangerang : Raden Aria Wangsakara menguraikan. Ketiga bangsawan Sumedang Larang ini kesemuanya memiliki ikatan kekeluargaan dengan Pangeran Ratu Ing Banten. Pangeran Kartajiwa ber-Ibu Ratu Widara bin Pangeran Widara bin Maulana Yusuf. Raden Aria Wangsakara dan Raden Aria Santika adalah cucu Pucuk Umun Banten dari Ibu Nyimas Nurteja binti Prabu Geusan Ulun. Di kemudian hari tiga bangsawan Sumedang ini dikenal dengan Tigaraksa I.

Melihat saudaranya sedang mengalami kesusahan, Sultan Abdul Mafakhir tentunya harus membantu. Ketiga pangeran tersebut  bisa turut membantu memperkuat basis pertahanan dari ancaman VOC dan Mataram pada waktu itu.

Sultan Abdul Mafakhir sangat menghormati Gelar Bangsawan dalam tatar sunda yang juga bisa menjadi rekonsiliasi pasca penyerangan Banten terhadap Kerajaan Pajajaran. Kesultanan Banten memberikan kekuasaan wilayah perbatasan Pajajaran atau yang disebut "Praksa siti ngongkrong kageungan keruhun nira" (Penjaga tanah tak bertuan peninggalan leluhurmu).

Pada tahun 1632, digelarlah peresmian Tiga pangeran itu bertempat di Pesanggrahan Kadu Agung (Sekarang Tigaraksa) melalui utusan Mangkubumi untuk membacakan surat resmi yang ditulis oleh Sultan Abdul Mafakhir. Dengan berbahasa jawa surat itu menyebut Pangeran Suria Diwangsa II atau Pangeran Kartajati sebagai petinggi wilayah itu.

Surat penunjukan yang ditulis dalam Papakem Lengkong dan diuraikan Lutfi Abdul Ghani dalam Buku Ki Luluhur Rekam Jejak Aria Wangsa Kara ditulis sebagai berikut.


"Milane san tan ngutus Mangkubumi saking kagusten Banten dina rebo pon sasi ba'da mulud taun 1042 H. Ing Ki Suriadiwangsa ing pasanggrahan kadu agung dipun katur ngraksa siti ngongkrong kagengan karuhun nira kang wawatese Cidurian lan Cipamugas. Kang kalih dipun katur ngjaga basakala glagah kesatron saking bungas wetan. Serta dipun pasrahaken Kettomas gena wewakil kabantenaning siti anyar lan sawudune."

"Saya mengutus Mangkubumi dari Kerajaan Banten hari Rabu Pon bulan Rabiul Akhir tahun 1042 H kepada Ki Suriadiwangsa di Pasanggrahan Kayu Agung agar dapat menjaga 'siti ngongkrong' (Tanah tak berpejabat) keagungan leluhurmu yang batasnya sungai Cidurian dan Sungai Cipamugas (Cisadane). Kedua, agar dapat menjaga ancaman musuh dari Bungas Wetan (Mataram). Juga diserahkan Kettomas untuk mewakili kebantenan tanah baru seharusnya dan seperlunya."

Pada tahun 1632, Walaupun penunjukan Pangeran Kartajati menjadi penguasa, Tapi yang menjalankan tugas adalah Raden Aria Wangsakara dan Raden Aria Santika. Karena Pangeran Kartajati langsung mengumpulkan pasukan untuk kembali ke Sumedang Larang. Mengembalikan kejayaan tahta yang menjadi haknya. Pewaris sah kerajaan dari garis keturunan Ayahnya, Prabu Suriadiwangsa.

Setelah mencari tempat dan sering berpindah-pindah. Pada akhirnya Aria Wangsakara mendapatkan tempat yang strategis. Lengkong Kyai, Tertutup oleh hutan bambu dan dikelilingi oleh sungai Cisadane. Persis menghadap ke arah Barat. Wangsakara menetap bersama istrinya Nyi Mas Nurmala anak dari Bupati Karawang Singaprabangsa.

Masjid menjadi bangunan pertama yang dibangun. Pondasi awalnya kayu, menggunakan atap genteng dan sebagian temboknya memakai bilik dari bambu. Sampai sekarang Masjid al-Muttaqin inu masih ada. Namun beberapa kali mengalami renovasi dan menjadi saksi bisu perjuangan Aria Wangsakara melakukan dakwahnya. Lokasinya berada di tengah pemukiman penduduk Desa Lengkong Kulon, Pagedangan, Kabupaten Tangerang.

Selanjutnya pemukiman santri dibangun. Mengikuti posisi masjid yang mengarah Kiblat. Seiring perkembangannya,  Lengkong Kyai perlahan menjadi pusat mencari ilmu para santri sekitaran Tangerang. Hingga sewaktu Belanda menyerang Pesantren Gerendeng di Karawaci. Sebagian mengungsi dan bergabung dengan Aria Wangsakara. Lengkong Kyai pun menjadi basis pertahanan.

Kesultanan Banten berganti setelah Sultan Abdul Mafakhir wafat digantikan oleh Sultan Ageng Tirtaya dengan mengalami perkembangan pesat. Dihadapkan juga oleh hambatan dari serangan VOC. Puncaknya tahun 1655, VOC menawarkan pembaharuan perjanjian dagang dengan Kesultanan Banten. Karena banyak merugikan, Sultan Ageng Tirtayasa menolak lantang pembaharuan perjanjian itu. Dua tahun berselang. Sultan Ageng Tirtayasa mengumpulkan basis-basis gerilya untuk melakukan perlawan terhadap Belanda, Salah satu yang dipersiapkan adalah Aria Wangsakara.

Pasca momentum Tugu Tangerang, peristiwa yang menjadi muasal penyebutan daerah Tangerang. Sebagai penanda batas wilayah, Sebuah bangunan tugu berbahan dasar bambu yang didirikan Pangerang Soegiri, putra Sultan Ageng Tirtayasa dari Kesultanan Banten. Terletak di bagian Barat Sungai Cisadane, diyakini saat ini berada di wilayah Kampung Gerendeng. Oleh masyarakat sekitar, bangunan tugu tersebut disebut tengger atau tetengger yang dalam bahasa sunda berarti tanda atau penanda.

Masa itu, Raden Senopati Ingalaga, Aria Wangsakara dan santrinya sering terlibat gerilya menghadapi pasukan Belanda. Puncaknya Mei 1658 sampai Juli 1659. Penyerangan dilakukan ke Batavia melalui daerah Angke. Namun sayang, kabar penyerangan itu bocor diketahui oleh Belanda sehingga bisa diantisipasi. Tak kenal takut pasukan memerangi Belanda sampai berhari-hari.

Sultan Ageng Tirtayasa mendapati kabar pasukan mengalami kelelahan, lalu mengirim pasukan tambahan untuk membantu. Karena kegigihannya, pasukan melawan sampai mendekati batas Batavia. Pada akhirnya Belanda terdesak lalu mengajukan gencatan senjata pada 10 Juli 1659.

Pasca peperangan melawan Belanda. Banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak. Aria Wangsakara mengumpulkan keluarga korban dan menyantuninya di Bale Kambang dan mushola-mushola. Setelah itu, Aria Wangsakara memilih untuk menyerahkan tahta pada 12 Januari 1666. pemerintahan Tangerang diserahkan kepada anaknya Aria Yudhanegara.

Wangsakara lebih memilih untuk mengajar agama kepada masyarakat. Ketokohan Aria Wangsakara semakin tersohor. Banyak masyarakat sering meminta nasihat padanya. Ariaan sekitaran Banten dan Aria Yudhanegara juga sering mengunjungi ayahnya. Meminta nasihat dan petunjuk dalam menjalankan amanahnya sebagai Aria Tangerang II.

Sampai pada 2 Sya'ban 1092 H atau 14 Agustus 1681 M. Aria Wangsakara wafat pulang pada keharibaan. Duka mendalam menyelimuti Tangerang dan seluruh Banten. Sang ulama dan pejuang lalu dimakamkan di dataran tinggi dekat Bale Kambang, Lengkong Kyai yang sekarang sudah dijadikan situs makam pahlawan oleh pemerintah Kabupaten Tangerang.

Sepeninggalan Aria Wangsakara tidak memadamkan perjuangan dan semangat dakwah Islam. Semangat itu diteruskan oleh Aria Yudhanegara. Berlanjut kepada adiknya Aria Raksanegara. Anak sulung Aria Wangsakara yakni Raden Ciliwulung dipercaya oleh Kesultanan Banten menjadi Senopati.

Beberapa keturunan Aria Wangsakara menjadi Tumenggung dibeberapa wilayah Kesultanan Banten. Tumenggung Kamil, Tumenggung Tanuwinata, dan Raden Mahmud. Beberapa yang lainnya Aria Sutadewangsa yang menjaga wilayah Gerendeng. Raden Tanuwisanta yang menjadi Kapten di Lengkong hingga keturunannya Raden Suradewangsa menjadi Demang Parung.


(Diolah dari berbagai Sumber)


Editor:

Tokoh Terbaru