• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Jumat, 1 Maret 2024

Tokoh

KH Ulfi Zaini Thohir, Pondok Pesantren Moderat At-Thohiriyah Pelamunan (1)

Berangkat ke Makkah sebelum Usia 14 Tahun untuk Haji dan Belajar

Berangkat ke Makkah sebelum Usia 14 Tahun untuk Haji dan Belajar
KH Ulfi Zaini Thohir (Foto: NU Online Banten/M Izzul Mutho)
KH Ulfi Zaini Thohir (Foto: NU Online Banten/M Izzul Mutho)

Rambutnya terlihat sudah memutih. Kopiah berwarna cenderung kuning melekat di kepalanya. Memakai kaus putih. Juga sarung bermotif dengan warna dasar putih. Duduk di sofa ruang tamu sembari ngobrol dengan seorang tamu. Sesekali kedua matanya melihat beberapa bocah; cucunya, bermain.


Namanya KH Ulfi Zaini Thohir. Meski usianya sudah 68 tahun, terlihat masih segar. Bicaranya relatif lancar dan terdengar jelas. Begitu juga pendengarannya. Meski demikian, generasi ketiga dari pendiri Pondok Pesantren Pelamunan, Kabupaten Serang, Banten, itu saat ini praktis lebih banyak ’’mengawasi’’ saja. Kegiatan mengajar santri pesantren semuanya diserahkan kepada saudara dan anak-anaknya. 


’’Mata saya kalau lihat kitab hurufnya ada dua,’’ ujarnya kepada NU Online Banten di kediamannya, Kompleks Pondok Pesantren Moderat At-Thohiriyah Pelamunan, Jl Raya Serang Cilegon, Km 6, Pelamunan, Kramatwatu, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (13/5/2023) pagi.


Kiai Ulfi adalah orang tua Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Serang KH M Robi UZT, yang saat ini ikut serta mengurus dan mengajar di pesantren. Gus Robi—sapaan akrab KH M Robi UZT—menceritakan, Pondok Pesantren Moderat At-Thohiriyah Pelamunan yang diasuh sejumlah generasi ketiga KH Muhammad Thohir, di antaranya KH Ulfi Zaini dan generasi keempat, termasuk dirinya, merupakan kelanjutan dari Pondok Pesantren Pelamunan yang berdiri sekitar 1929. 


Pendirinya adalah kakek dari Abah Kiai Ulfi atau cicit dari Gus Robi, KH Muhammad Thohir. Zaman dulu, tidak ada nama spesifik pesantren. Hanya memakai nama daerah, Pondok Pesantren Plamunan. ’’Diteruskan anak dan cucunya. Kemudian diberi nama masing-masing,’’ ujar Gus Robi yang pagi itu sembari menyuapi buah hatinya.


KH Muhammad Thohir adalah putra KH Sayyidi asal Balai Batu, Taktakan, Kota Serang dan Nyai Khomsah atau Hafshah asal Sukalila, Kelapa Dua, Kota Serang. Kiai Thohir lahir di Balai Batu, Taktakan, sekitar 1898. ’’Abah Yai Thohir juga belajar di Makkah. Di antaranya dengan Syekh Mahfudz at Tarmasi,’’ kata Kiai Ulfi.


Gus Robi menceritakan, Kiai Thohir lama nyantri di Abuya KH Husain Carita, berbaiat tarekat ke Abuya Agung KH Asnawi Caringin, talaqqi Al-Qur’an ke Syekh Tb Makmun Kaujon, lalu ke KH Abbas Buntet, Cirebon. 


’’Tabarrukan mengaji kepada KH Abdul Halim, ulama sekaligus bupati Pandeglang ketika itu. Juga ke Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari Jombang, Jawa Timur, Syekh Mahfudz Termas, selama bermukim di Makkah Al-Mukarromah, serta beberapa alim-ulama lainnya,’’ terang Gus Robi yang pernah menimba ilmu di Yaman itu.


Kiai Thohir menikah dengan Siti Wasi'ah asal Pengoreng, Pulo Ampel, Kabupaten Serang dan beberapa lainnya. Dengan Nyai Siti Wasi’ah dikaruniai keturunan, KH Juwaini, wafat syahid di Lampung saat Agresi Militer II. Lalu KH M. Zaini, ayahnya KH Ulfi, yang wafat pada 2006. ’’Keduanya santri KH Abbas Buntet, Cirebon,’’ imbuhnya.


Selain Kiai Juwaini dan Kiai Zaini, ada Siti Maryam yang menikah dengan KH Amin bin Umar Gunung Sari dan KH M Lujaini wafat pada 2008, perintis Pondok Pesantren Madarijul Ulum, cabangnya menyebar hingga ke Lampung. 


Sedangkan dengan istri bernama Nyai Anjar Ketengahan, Kiai Thohir memiliki tiga putri dan satu putra. Nyai Hj Nadrah yang menikah dengan Abuya KH Tb Hasyuri, pendiri Pesantren At-Thahiriyah Kaloran, Kota Serang; Nyai Hj Fiddhoh menikah dengan Abuya KH Muhammad Ro`suddin; Nyai Hj Jannah yang menikah dengan KH Nawawi Cikarang-Jabar. ’’Satu-satunya keturunan Abuya Thohir yang masih hidup dan tinggal di Cikarang,’’ tambahnya.


Lalu ada Prof KH Yumni Thohir, pernah sebagai a'wan dan mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), seorang penceramah ulung dan politisi. Selain dengan Nyai Wasiah dan Nyai Anjar, Kiai Thohir juga menikah dengan Nyai Halimah dan Nyai Shofiah. Namun, dari keduanya, tidak memiliki keturunan. ’’Abah Kiai Thohir wafat pada 25 Ramadhan. Kalau tahun masehinya 1961,’’ kata pria berusia 31 tahun yang pernah menimba ilmu di Ar Risalah Lirboyo, Jawa Timur, itu.


KH Muhammad Zaini Thohir dikenal sebagai jawara sekaligus kiai didikan KH Abbas Djamil Buntet, Cirebon, Jawa Barat. Kiai Zaini meneruskan pesantren yang didirikan, bersama dengan saudara-saudara dan sejumlah menantu Kiai Thohir. ’’Menikah dengan Nyai Robi`atul Adawiyyah, putri H Sa`ad, seorang saudagar pada zamannya,’’ ujarnya. 


Pernikahan tersebut dikaruniai beberapa keturunan. KH A Ulfi Zaini Thohir, lahir pada 1955 dan menikah dengan Hj Ratu Raudatul Farihah pada 1988. Setelah menikah ini, karena latar belakangnya adalah hafal Qur’an, dibuka madrasah Al-Qur’an di Pondok Pesantren Moderat At-Thohiriyah Pelamunan. ’’Memiliki enam anak,’’ terangnya.


Keturunan Kiai Zaini yang lain adalah almarhum KH A Hilmi ZT. Menikah dengan Hj Ida Farida Depok. Memiliki satu putra, dan empat putri. Lalu almarhumah Hj Khosyi`ah, dinikahi oleh Tb H Khoironi, melahirkan delapan anak. Semuanya lahir dan besar di Arab Saudi. Makam Hj Khosyiah di Jannatul Ma'la-Makkah Al-Mukarramah.


Kemudian H M Munifi ZT, menikah dengan putri Gedongan, Cirebon, Hj Nukhbatul Maula. Melahirkan satu putri dan dua putra. Almarhumah Hj Fulayyah menikah dengan almarhum KH Najihun Asnawi yang memiliki silsilah nasab ke Syekh M Nawawi, Tanara Al-Bantani. Keduanya telah wafat, memiliki dua putra dan tiga putri. Ada juga Hj Farhiyyah, dinikahi oleh KH Murtadho, Merak. Dikaruniai satu putri.


Kemudian ada Abdullah yang memilih single hingga kini. Lalu almarhum KH Muhtadi, menikah dengan Hj Nadbah. Dikaruniai dua putra  dan dua putri. ’’Jadi setelah Kiai Zaini meninggal, keturunannya, termasuk saya yang meneruskan. Nama pesantren yang dulu Pondok Pesantren Pelamunan, pada akhirnya punya nama masing-masing,  sekitar generasi ketiga menuju keempat. Dari awal spesifikasinya pesantren kitab kuning. Mulai ada sekolah ya, belakangan ini. Kitab kuningnya masih,’’ imbuh Kiai Ulfi sembari terkadang memegangi handphone NU Online Banten untuk merekam wawancara yang diletakkan di pinggir sofa yang didudukinya.


Sewaktu kecil, Kiai Ulfi yang lahir 1955, mengaji kepada orang tuanya. Setelah itu, menimba ilmu di Warung Gunung, Rangkasbitung. ’’Di Kiai Syukra. Lanjut ke Kadukaweng, Pandeglang, takhassus Alfiyah. Dan pada 1975 sewaktu usia masih di bawah 14 tahun ’’dibuang’’ ke Makkah untuk menunaikan haji dan menimba ilmu. Berangkat dengan adik, M Hilmi,’’ cerita Kiai Ulfi yang kini mempunyai 13 cucu itu. (bersambung)


Pewarta: M Izzul Mutho, Singgih Aji Purnomo


Tokoh Terbaru