• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Jumat, 1 Maret 2024

Tokoh

KH Ulfi Zaini Thohir, Pondok Pesantren Moderat At-Thohiriyah Pelamunan (2)

Setelah dari Makkah, Keliling ke Sejumlah Pesantren untuk Mengkhatamkan Kitab

Setelah dari Makkah, Keliling ke Sejumlah Pesantren untuk Mengkhatamkan Kitab
KH Ulfi Zaini Thohir (kiri). (Foto: NU Online Banten/Singgih Aji P)
KH Ulfi Zaini Thohir (kiri). (Foto: NU Online Banten/Singgih Aji P)

KH Ulfi Zaini Thohir mengaku, dirinya tidak sesabar adiknya, M Hilmi, yang saat di Makkah menimba ilmu di Darul Ulum. ’’Di sana ada Syekh Yasin. Saya orangnya tidak sabaran. Ngaji dua tahun. Ketika situasi di sana sedang ketatnya ighamah. Untuk mendapatkan itu, akhirnya terpaksa ikut sekolah di Masjidilharam selama 6 tahun. Di luar itu, ngaji dengan sejumlah guru,’’ terang kiai yang sekitar 9 tahun di Makkah itu.


Di antara guru ngaji Kiai Ulfi di Makkah adalah Syekh Alawy Maliki, ahli hadits dan tafsir. ’’Saya dulu ngaji ke Syekh Alawy. Habis Magrib Tafsir Jalalain dan Kitab Muslim. Kebanyakan yang ngaji orang Jawa Timur. Habis Magrib sampai Isya di Masjidilharam, tepatnya Babussalam dan habis Asar,’’ kenangnya.


Tak hanya itu, Kiai Ulfi juga mengaji Riyadus Shalihin setiap habis Isya ke Syekh Abdul  Karim Al Banjari yang ahli hadits. Juga ngaji fiqih ke Syekh Yasin setiap malam Jumat  dan Syekh Ismail Al Yamani, ahli fiqih, waktunya habis Asar. Minhajut Thalibin. Sanad keilmuan nyambung, alhamdulillah,’’ imbuhnya.


Pada 1984, Kiai Ulfi pulang ke Indonesia. Tak langsung mengajar di Pelamunan. Kiai yang punya enam anak itu haus ilmu. Berguru dari pesantren satu ke pesantren lainnya, ikut kilatan, pasanan, menghatamkan sejumlah kitab kuning. 


Di antaranya ngaji kilatan ke Kaliwungu, Jawa Tengah, yang diasuh KH Dimyati. ’’Menamatkan Kitab Bukhari. Lalu ke Sayung, Demak, ngaji Asybah Wan Nadhair dan  Minhajut Thalibin ke Kiai Sulhan, anak muridnya Kiai Muslih Mranggen. Lalu di Tegal ke Kiai Khudhari, ngaji Iqna’. Ke Kaliwungu lagi, mengaji Mizanul Kubra, Jam’ul Jawami’, ke Kiai Dimyati. Lalu ke Salatiga, ngaji ke Kiai Baidhawi Kitab Muslim dan Kiai Ma’mun Kitab Muslim. Jadi gantian. Lalu juga ke Kiai Fadhil, ngaji Asybah Wan Nadhair,’’ ungkapnya.


Setelah menimba ilmu ke sejumlah pesantren tersebut, Kiai Ulfi balik ke Pelamunan dan menikah pada 1988. ’’Saat itu mulai mengajar di pesantren. Misalnya habis Subuh baca Minhajut Thalibin setiap hari. Juga Asybah Wan Nadhair, Muslim, Minhajul Abidin, dan Fathul Qarib. Mulai mengurangi mengajar sejak 5 tahun lalu. Penglihatan tidak jelas, baca sekarang lihat huruf ada dua. Sekarang dipegang anak-anak, saya hanya mendoakan,’’ ungkap kiai yang mengaku belum punya karya kitab itu. 


Dia berpesan, agar terus belajar menurut risalah Allah dan Rasulullah. Tak heran, Kiai Ulfi menanamkan putra-putrinya giat belajar. ’’Pada 1990-an dikarunia anak. Ulin Nuha, Muhammad Robi, M Thohir, M Imaduddin, Ni’matul Maula, dan M Nawarus Syarif,’’ tambahnya. 


Kiai Ulfi berharap, pesantren yang ada sekarang ini terus berkembang. Luas tanah yang di dalamnya didirikan pesantren 1,5 hektare. Di dalamnya ada sejumlah bangunan selain sekolah dan pesantren. Seperti kantin, mushala, dan rumah pengasuh. ’’Selama ini membesarkan pesantren, khususnya gedung, praktis dari usaha sendiri. Dari pemerintah ala kadarnya,’’ tambahnya.


Kiai Ulfi melihat tantangan pesantren saat ini kian berat. ’’Lain dulu waktu mondokkan anak. Pasrah saja sama kiainya. Kalau sekarang, orang tua santrinya kadang tidak begitu. Guru saya, Syekh Abdul Karim Al Banjari pesan, kalau memesantrenkan anak, pasrahkan ke guru. Doakan saja,’’ imbuhnya. Apa ada resep khusus? Resepnya banyak bismillah dan membaca Surat Ikhlas ’’Itu dari Syekh Yasin,’’ imbuhnya.


Sekadar diketahui, Kepala Bidang Pendidikan Pesantren Pondok Pesantren Moderat At-Thohiriyah Pelamunan Gus Robi menjelaskan, Pondok Pesantren Moderat (PPM) At-Thohiriyah Pelamunan merupakan salah satu pusat kajian Islam  tertua di Banten, karena secara geneologi-historis, pesantren tersebut dirintis oleh Al Mukarram KH Muhammad Thohir sekitar 1929.


Pada 1990-an, PPM At-Thohiriyah mulai membuka takhassus hifdhil Qur’an untuk santri putri. ’’Demi pengabdian masyarakat lebih mendalam, PPM At-Thohiriyah juga menyelenggarakan pendidikan untuk anak-anak. Mulai Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an (TKQ), Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), dan Madrasah Diniyah Takmiliyah Awwaliyah (MDTA),’’ tambah pria yang pernah kuliah di Malaysia itu. Jumlahnya ada 600 anak. Belajarnya mulai pukul 13.00-17.00 WIB,.


Dan pada 2019, PPM At-Thohiriyah menyambut tantangan era global dengan mendirikan SMP Plus 30 Juz dan pelajarnya wajib tinggal di pesantren. Tak hanya itu. Seiring perkembangan dakwah yang makin kompleks, pada 2021, PPM At-Thohiriyah mendirikan SMA Plus 30 Juz dan Balai Latihan Kerja Multimedia. Saat ini, santri yang ikut SMP dan SMA berjumlah 300an pelajar. Sisanya ada beberapa yang takhassus Al-Qur’an dan kitab kuning saja, tidak sekolah. ’’Yang Al-Qur’an putri, yang kitab kuning putra. Tapi kebanyakan yang merangkap sekolah. Yang sekolah pun dibekali kitab kuning,’’ jelasnya. (habis) 


Pewarta: M Izzul Mutho, Singgih Aji Purnomo


Tokoh Terbaru