• logo nu online
Home Banten Raya Ubudiyyah Warta Nasional Fragmen Keislaman Syariah Tauhid Tokoh Khutbah Sejarah Doa Opini Hikmah Pendidikan Islam Wisata Religi NU Preneur
Senin, 15 Agustus 2022

Ubudiyyah

Haji Mabrur, Demonstrasi Kemanusiaan Universal

Haji Mabrur, Demonstrasi Kemanusiaan Universal
Ilustrasi (NU Online)
Ilustrasi (NU Online)

Puncak dari keagamaan adalah perikemanusiaan. Itulah yang harus ditangkap ketika orang pergi haji. Karena haji tidak lain merupakan demonstrasi kemanusiaan universal, semua orang, kaya-miskin, tua-muda, laki-perempuan, hitam-putih, tidak ada bedanya. 

 

Haji merupakan ritus keagamaan yang sangat tegas menekankan masalah persamaan. Haji adalah drama kemanusiaan yang luar biasa. Dan makna ini harus bisa ditangkap, karena hanya dengan begitulah haji kita nanti akan menjadi haji mabrur.

 

Secara keseluruhan, haji berdimensi vertikal dan horizontal sekaligus. Kenyataannya bahwa sebagian besar ritual haji adalah tindakan-tindakan memperingati pengalaman Ibrahim, Hajar, dan Isma'il. Ketiga orang tersebut sangat berjasa dalam meletakkan dasar-dasar tauhid. 

 

Maka sebenarnya dimensi haji yang terutama adalah vertikal, tetapi efek yang diharapkan darinya sangat horizontal. Inilah yang dimaksudkan dalam haji mabrur: adanya keterkaitan antara segi vertikal (hablum minallah) dalam ibadah, dengan segi horizontal (hablum minannas) dalam kerja-kerja kemanusiaan.

 

 

Pesan Universal Ibadah Haji

Thawaf (mengelilingi Ka’bah) sebanyak tujuh kali putaran melambangkan tasbih kehidupan yang mengharuskan jemaah haji berada di orbit tauhid. Artinya, kehidupan ini harus dilandasi akidah tauhid yang benar dengan konsistensi orientasi perjuangan mulia dalam menatap kiblat kebenaran dan memperjuangkan kemanusiaan.

 

Thawaf mendidik jemaah haji untuk melepaskan segala ikatan dan atribut keduniaan, fanatisme, dan egoisitas sektoral, aneka kepentingan ideologi politik, dan ekonomi materialistik menuju poros kehidupan yang terkoneksi dengan sang pemilik kekuasaan langit dan bumi.

 

Thawaf merupakan simbol gerak dinamis spiritual menuju tauhid sejati; tauhidullah (pengesaan Allah dalam beribadah) dan tauhid al-ummah (penyatuan umat manusia).

 

Pesan kasih sayang kemanusiaan didemonstrasikan melalui sai antara bukit Safa dan Marwa. Keikhlasan, kegigihan, dan perjuangan tanpa mengenal lelah Hajar, ibunda Nabi Ismail AS, dalam mencari dan menemukan 'air kehidupan' bagi buah hatinya yang kehausan menjadi pesan universal bagi jemaah haji untuk tidak pernah lelah dan menyerah dalam menyayangi dan mengantarkan anaknya meraih cita-citanya. 

 

Sa'i merupakan simbol etos perjuangan demi kasih sayang kemanusiaan yang harus bergerak dari Safa (ketulusan hati dan kejernihan pikiran) menuju Marwa (cita-cita dan prestasi tinggi memberi kepuasan hati bagi diri sendiri dan orang lain).

 

Pesan universal dari wukuf di Arafah ialah pentingnya kearifan personal dengan 'berhenti sejenak sambil makrifat diri' sehingga dapat merasakan kehadiran Allah SWT. Arafah merupakan simbol miniatur padang mahsyar, yang dapat menumbuhkan kesadaran eskatologis tentang pentingnya evaluasi diri dan 'pengadilan diri sendiri' sebelum diaudit dan diadili oleh Allah yang Maha Adil.

 

Wukuf di Arafah harus dijadikan sebagai momentum puncak kesadaran personal untuk mengambil keputusan yang arif dan adil; apakah selama ini jemaah yang berwukuf sudah menjadi hamba-Nya sejati ataukah masih menjadi pengabdi hawa nafsu dan setan? Apakah yang berwukuf itu sudah meneladani akhlak Allah atau masih selalu mementingkan syahwat keduniaan?

 

Pesan universal dari pelemparan tugu simbolik jamarat di Mina ialah pentingnya eliminasi egoisitas keduniaan dengan etos perjuangan dan pengorbanan. Mina merupakan simbolisasi cita-cita dan cinta. Karena cinta yang sangat tulus kepada Allah, Nabi Ibrahim AS rela 'mengorbankan' anak yang dicintainya, Ismail. 

 

Berjuang melawan setan dan hawa nafsu hanya bisa dimenangi rasa cinta yang tulus kepada Allah. Kadar cinta Nabi Ibrahim begitu murni dan tulus kepada Allah sehingga dia lebih memilih Allah daripada anak yang dicintainya.

 

Dengan cinta karena mengharap ridha-Nya, Nabi Ibrahim sukses meraih cita-citanya; sang anak tidak jadi korban penyembelihan ayahnya sendiri. Namun, diganti oleh Allah dengan domba besar karena manusia seperti Nabi Ismail memang tidak seharusnya disembelih dan dikorbankan.

 

Nabi Ismail ialah penerus perjuangan ayahnya yang harus diselamatkan, dimerdekakan dari tradisi pengorbanan manusia, dan dicerahkan masa depannya.

 

Andik Kuswanto, Alumni UIN Syahid Jakarta


Ubudiyyah Terbaru