• logo nu online
Home Banten Raya Ubudiyyah Warta Nasional Fragmen Keislaman Syariah Tauhid Tokoh Khutbah Sejarah Doa Opini Hikmah Pendidikan Islam Wisata Religi NU Preneur
Senin, 26 September 2022

Ubudiyyah

Riya' Menghapus Pahala

Riya' Menghapus Pahala
Ilustrasi : NU Online
Ilustrasi : NU Online

Tauladan 
Mengamati kehidupan kiai pesantren seperti melihat pribadi yang sempurna, tapi ditutupi oleh ketawadhuanya dengan tidak memamerkan simbol-simbol kesalehan. Rupanya tidak ingin dilihat oleh manusia, karena ibadah dan kesalehan adalah pelaksanaan yang didasari cintanya pada Allah SWT.

 

Bahkan untuk sampai terlihat saja, para kiai kita begitu merasa malunya, dan identitasnya tidak ingin dikenali publik secara terbuka di ruang-ruang publik. Itu pribadinya apalagi sikap kesalehannya, keta'atannya. Meski perlu sesekali sikap taat dan perilaku saleh ditampakkan demi dakwah bil hal, tapi ini jarang sekali diperbuat oleh kebanyakan kiai. 

 

Kita muslim di Indonesia masih harus dibimbing oleh ulama kita, kiai kita, guru-guru ngaji kita agar beragama tidak menjadi simbol dan sekedarnya, melainkan hidup beragama adalah tujuan hidup, dengan maksud berharap pahala dan ridlo Allah, tanpa perlu orang lain memuji, tanpa harus orang lainnya terpaksa memuliakan. 

 

Ibadah adalah upaya kita mendekati Tuhan yang maha rahman dan maha rahim, upaya syukur kita sebagai hamba pada Tuhannya. Ibadah pula adalah rangkaian ketaatan makhluk pada kholiknya hingga akhir hidupnya. Ibadah adalah kenikmatan khusyu' bermahabbah dengan sang pencipta alam semesta. 

 

Riya'
Dalam bahasa Arab, arriya’ ( الرياء ) berasal dari kata kerja raâ ( راءى ) yang bermakna memperlihatkan. Riya’ merupakan memperlihatkan sekaligsu memperbagus suatu amal ibadah dengan tujuan agar diperhatikan dan mendapat pujian dari orang lain. Riya’ termasuk karena meniatkan ibadah selain kepada Allah SWT. Dalam surat Al-Baqarah ayat 264, Allah telah berfirman. 

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

 

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. ( Q.S. Al-Baqarah : 264 ). 

 

Dalam surat al-Anfal ayat 47, Allah SWT telah berfirman. 

 

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَرِئَاءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

 

Artinya : Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan ( Q.S. al-Anfal : 47 )

 

Pandangan Ulama Tentang Riya'
Syekh Muhammad Nawawi Banten di dalam kitabnya Nashoihul Ibad membagi keikhlasan ke dalam 3 (tiga) tingkatan. Ini pula sikap untuk menghindari riya', ikhlas adalah cara bagaimana menghilangkan rasa dan sikap riya' pada manusia lainya. Dalam kitab tersebut beliau memaparkan bahwa tingkatan pertama yang merupakan tingkat paling tinggi di dalam ikhlas sebagai berikut:

 

 فأعلى مراتب الاخلاص تصفية العمل عن ملاحظة الخلق بأن لا يريد بعبادته الا امتثال أمر الله والقيام بحق العبودية دون اقبال الناس عليه بالمحبة والثناء والمال ونحو ذلك 

 

Artinya: “Tingkatan ikhlas yang paling tinggi adalah membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk (manusia) di mana tidak ada yang diinginkan dengan ibadahnya selain menuruti perintah Allah dan melakukan hak penghambaan, bukan mencari perhatian manusia berupa kecintaan, pujian, harta dan sebagainya. 

 

Sebagai muslim harusnya paham soal perasaan terpaksa jika tidak didasarkan keikhlasan. Karena itulah dasarnya ikhlas inilah untuk menjauhi riya'. Sebab riya' justeru menghapus pahala. Maka menghindari riya' dalam hal ibadah adalah wajib. 

 

Menurut Imam Izzuddin bin Abdus Salam, ketika riya menghantui orang yang mau atau tengah beribadah, ada beberapa tindakan yang perlu dilakukan supaya amalannya tetap bernilai di mata Tuhan. Ketiga hal ini disebutkan dalam kitabnya Maqashidur Ri‘ayah Li Huquqillah.

 

لخطرة الرياء ثلاثة أحوال إحداهن أن يخطر قبل الشروع في العمل لاينوي بعمله إلا الرياء فعليه أن يترك العمل إلى أن يستحضر الإخلاص، الثانية أن يخطر رياء الشرك فيترك ولايقدم على العمل حتى يمحض الإخلاص، الثالثة أن يخطر في أثناء العمل الخالص فليدفعها ويستمر في العمل فإن دامت الخطرة ولم يجب نفسه إلى الرياء صح عمله استصحابا لنيته الأولى 

 

Artinya : Terdapat tiga bentuk riya, pertama yaitu orang yang terbesit riya sebelum mengerjakan amalan dan dia mengerjakan amalan tersebut hanya semata karena riya. Agar selamat, orang semacam ini harus menunda amalannya sampai timbul rasa ikhlas. Kedua, orang yang timbul di dalam hatinya riya syirik (mengerjakan ibadah karena ingin mengharap pujian manusia serta ridha Allah SWT). Orang seperti ini juga dianjurkan menunda amalan hingga benar-benar ikhlas. Ketiga, riya yang muncul di saat melakukan aktivitas/amalan. Orang yang dihadang riya di tengah jalan seperti ini, dianjurkan untuk menghalau gangguan itu sambil meneruskan amalannya. Kalau godaaan riya terus hadir, ia tidak perlu menggubrisnya. Insya Allah amalannya diterima karena tetap berpijak pada niatnya semula.

 

Menghindari Riya'
Ibadah apapun baik sholat, zakat, puasa bahkan haji itu harus didasari ikhlas karena Allah semata. Ini kunci untuk memperoleh pahala. Ikhlas itu takhollush al-qolbi an syai'in siwa Allahi ( mengosongkan hati dari sesuatu selain Allah ). 

 

Belakangan, kita melihat fenomena bebrapa kecil umat Islam yang dengan yakinnya mempertontonkan kesalehan, ketaatan dan sikap religiusnya dengan dalih dakwah bil hal, padahal hanya kedok yang membungkus wajah busuk niatan untuk dipuji, seolah ingin dikatakan yang paling taat, paling saleh, paling agamis, paling muslim. 

 

Soal membaca kitab suci Al-Qur'an itu dimanapun boleh, dan yang tidak boleh itu di tempat najis, kotor dan khobaits. Yang utama adalah di masjid, karena masjid sebaik-baiknya tempat. Lalu untuk apa bergeser ke jalan, ke gang dan ke trotoar hanya mengganggu ketertiban umum, sementara ada tempat yang paling baik yaitu masjid. 

 

Memperlihatkan bagaimana ngaji Qur'an kita kepada orang-orang, tidaklah ada unsur dakwah sama sekali, melainkan hanya ingin mempertontonkan suatu sikap agamis agar dipuji. Bahkan hanya sia-sia belaka, karena riya' menghapus pahala. Lalu untuk apa dilakukan. Maka kembali ke masjid untuk kemudian menta'mirkan dengan ibadah, baca Qur'an, dzikiran, shalawatan itu sikap dan perbuatan yang tepat sesuai ajaran Rasulullah SAW

 

Hamdan Suhaemi, Ketua PW Rijalul Ansor Banten, dan Wakil Ketua GP Ansor Banten


Ubudiyyah Terbaru