• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Senin, 17 Juni 2024

Keislaman

Islam Mengajarkan Umatnya Bekerja Keras

Islam Mengajarkan Umatnya Bekerja Keras
Ilustrasi sejumlah petani melakukan aktivitas di sawah. (Foto: Freepik)
Ilustrasi sejumlah petani melakukan aktivitas di sawah. (Foto: Freepik)
ISLAM mengajarkan umatnya untuk bekerja dengan penuh kesungguhan dan mencari rezeki yang halal. Bekerja bukan hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada Allah swt.   
 
Dilansir NU Online, Islam memandang bekerja sebagai sebuah amalan yang mulia. Hasil kerja keras yang halal dan tulus akan menjadi berkah dan mendatangkan pahala dari Allah swt.   
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam QS at-Taubah ayat 105:
 
وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ   
 
Wa quli‘malū fa sayarallāhu ‘amalakum wa rasūluhū wal-mu'minūn(a), wa saturaddūna ilā ‘ālimil-gaibi wasy-syahādati fa yunabbi'ukum bimā kuntum ta‘malūn(a). 
 
Artinya: "Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan.”   
 
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan kata "amal" dalam ayat tersebut, maknanya dalam bahasa Indonesia berarti pekerjaan, usaha, perbuatan, atau keaktifan hidup. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surat Al-Isrâ ayat 84, yang memerintahkan umat Islam untuk bekerja sesuai dengan bakat dan kemampuan yang kita miliki. (Hamka, Tafsir Al-Azhar, [Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD, tt] Jilid IV, halaman 3118) 
 
Lebih jauh lagi, di era modern ini, penting bagi kita untuk merenungkan kembali makna ayat yang menekankan pentingnya meningkatkan produktivitas. Ayat ini mendorong kita untuk menjadi individu yang menghasilkan karya nyata dan memahami peran kita masing-masing dalam masyarakat. Tidak ada pekerjaan yang hina selama halal dan tidak menjauhkan diri dari Allah.   
 
Kehidupan manusia membutuhkan berbagai profesi. Ada yang bertani, beternak, menjadi buruh, pegawai, tentara, negarawan, penulis, pedagang, dan lain sebagainya. Ada ayah yang mendidik anak, ibu yang mengurus rumah tangga, murid yang belajar, dan guru yang mengajar. Pekerjaan tersebut bisa sederhana seperti memotong rumput atau besar seperti membangun perusahaan.   
 
Lebih jauh lagi, QS at-Taubah ayat 105 melarang untuk malas dan membuang-buang waktu. Harus bekerja dengan sebaik-baiknya dan selalu meminta petunjuk dari Allah. Bahkan, senyuman dan keramahan terhadap orang lain pun bisa menjadi sedekah. Nabi Muhammad saw juga pernah bersabda bahwa menyingkirkan duri, pecahan kaca, atau paku dari jalan raya termasuk sedekah.   
 
Intinya, ayat ini memerintahkan kita untuk menjadi pribadi yang produktif dan berkontribusi bagi masyarakat. Tidak ada pekerjaan yang hina selama pekerjaan itu halal dan tidak menjauhkan kita dari Allah. Pilihlah pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan kemampuan kita, kerjakan dengan sungguh-sungguh, dan jangan lupa untuk selalu bersedekah dan berbuat baik kepada sesama.   
 
Tafsir Marah Labib 
Meskipun manusia dianjurkan untuk bekerja dan mencari nafkah, penting untuk diingat bahwa ada batasan yang harus dipatuhi. Bekerja memang mulia, namun jangan sampai kita terjerumus dalam pekerjaan yang tidak halal dan bertentangan dengan hukum.   
 
Pekerjaan yang tidak halal dapat membahayakan diri sendiri, orang lain, dan bahkan merugikan masyarakat. Contohnya, pekerjaan yang melibatkan penipuan, perjudian, atau perdagangan narkoba. Dampak negatifnya bisa sangat luas, mulai dari kesehatan fisik dan mental, hingga kerusakan hubungan sosial dan ekonomi.   
 
Di sisi lain, pekerjaan yang bertentangan dengan hukum juga dapat membawa konsekuensi serius, seperti hukuman penjara. Oleh karena itu, penting untuk memilih pekerjaan yang baik dan sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku. Pilihlah pekerjaan yang halal, aman, dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Dengan bekerja secara bertanggung jawab dan sesuai aturan, kita dapat mencapai keseimbangan antara mencari nafkah dan menjaga nilai-nilai moral dan hukum.   
 
Syekh Nawawi Banten dalam Kitab Tafsir Marah Labib mengatakan bahwa seyogyanya manusia menyadari, bahwa setiap langkah dan perbuatan, tak peduli baik atau buruk, selalu dalam pengawasan Allah swt. Tidak ada satupun yang tersembunyi dari pandangan-Nya. 
 
Di dunia fana ini, balasan dari perbuatan manusia akan disaksikan oleh Allah swt, Rasulullah saw, dan para Mukmin. Jika kita senantiasa berbuat baik dan taat, maka kita akan dilimpahi pujian yang tinggi di dunia dan pahala yang berlimpah di akhirat. Sebaliknya, jika kita sering berbuat maksiat, maka kita akan dicela di dunia dan mendapat siksaan yang berat di akhirat. Dengan demikian, ini menjadi sebuah motivasi bagi orang yang berbuat baik dan ancaman bagi pelaku dosa.
 
   أما حكمه في الدنيا فإنه يراه الله والرسول والمسلمون، فإن كان طاعة حصل منه الثناء العظيم في الدنيا والثواب العظيم في الآخرة، وإن كان معصية حصل منه الذم العظيم في الدنيا، والعقاب الشديد في الآخرة، وهذا ترغيب عظيم للمطيعين وترهيب عظيم للمذنبين
 
Artinya: “Adapun penilaiannya di dunia, maka Allah, Rasul, dan umat Islam yang melihatnya. Jika perbuatannya adalah ketaatan, maka dia akan mendapatkan pujian yang besar di dunia dan pahala yang besar di akhirat. Dan jika perbuatannya adalah maksiat, maka dia akan mendapatkan celaan yang besar di dunia dan siksaan yang berat di akhirat. Dan ini adalah dorongan yang besar bagi orang-orang yang taat dan ancaman yang besar bagi orang-orang yang berdosa.” (Syekh Nawawi Al-Bantani, Tafsir Marah Labib, [Beirut: Darul Kutub al-'Ilmiyah, 1417 H], Jilid I, halaman 467).   

 
 
Tafsir Al-Misbah Quraish Shihab 
Profesor Quraish Shihab dalam Kitab Tafsir Al-Misbah mengatakan, jika ayat sebelumnya berbicara tentang Allah yang menerima taubat. Ayat 105 di Surat at-Taubah ini melanjutkan dengan perintah untuk beramal saleh. Meskipun taubat telah diterima, manusia telah kehilangan waktu yang bisa diisi dengan kebajikan. Oleh karena itu, penting untuk giat beramal agar kerugian tersebut tidak terlalu besar. (Profesor Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, [Ciputat: Lentera Hati, 2002] Jilid V, halaman 712).   
 

 
Lebih lanjut, ayat ini bertujuan untuk mendorong manusia agar mawas diri dan mengawasi amalnya. Setiap amal, baik atau buruk, memiliki hakikat yang tidak dapat disembunyikan. Allah, Rasul, dan kaum Mukmin adalah saksi yang mengetahui dan melihat hakikatnya. Di hari kemudian, Allah akan membuka tabir yang menutupi mata mereka sehingga mereka pun akan mengetahui dan melihat hakikat amalnya.   
 

 
Tafsir Ibnu Katsir 
Dalam Tafsir Al-Qur'an al-Azhim, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan manusia untuk bekerja. Allah swt, Rasul, dan orang-orang beriman akan melihat semua amal perbuatan yang dilakukan. Nantinya, manusia akan dikembalikan kepada Allah swt, Yang Maha Mengetahui hal gaib dan nyata. Semua yang dikerjakan akan dilaporkan kepada-Nya.   
 

 
Menurut Mujahid, ayat ini adalah peringatan dari Allah swt kepada orang-orang yang durhaka. Segala amal mereka, baik maupun buruk, akan ditampilkan di hadapan Allah swt, Rasul, dan orang-orang beriman. Hal ini diyakini pasti terjadi pada Hari Kiamat, sebagaimana firman Allah swt di ayat lain yang menjelaskan tidak ada satupun hal yang tersembunyi dari-Nya. 
 
  قَالَ مُجَاهِدٌ: هَذَا وَعِيدٌ يَعْنِي مِنَ اللَّهِ تَعَالَى لِلْمُخَالِفِينَ أَوَامِرَهُ بِأَنَّ أَعْمَالَهُمْ ستعرض عليه تبارك وتعالى وعلى الرسول صلى الله عليه وسلم وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ. وَهَذَا كَائِنٌ لَا مَحَالَةَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ    

 
 
Artinya: “Menurut Mujahid, ayat ini merupakan ancaman dari Allah swt bagi mereka yang melanggar perintah-Nya. Allah swt akan memperlihatkan amal perbuatan mereka di hadapan-Nya, di hadapan Rasulullah saw, dan di hadapan orang-orang mukmin. Hal ini pasti akan terjadi pada Hari Kiamat.” (Ibnu Katsir, al-Qur'an al-Azhim, [Beirut: Daril Kutub Ilmiyah, 1419 H], Jilid IV, halaman 183)   
 

 
Lebih jauh lagi, kata Ibnu Katsir, Hari Kiamat digambarkan sebagai hari ketika semua rahasia akan terbongkar. Segala yang tersimpan dalam hati manusia akan diungkapkan. Hukuman dan balasan akan diberikan sesuai dengan amal perbuatan masing-masing.   
 
Imam Ahmad berpendapat bahwa terkadang Allah swt menampilkan amal perbuatan manusia di dunia ini. Beliau meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah saw yang menyebutkan bahwa amal seseorang, walaupun dilakukan di tempat tersembunyi seperti dalam batu besar, akan Allah swt keluarkan kepada semua orang.   
 
Ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa amal orang yang masih hidup bisa ditampilkan kepada sanak saudara dan kerabat mereka yang telah meninggal di alam barzakh. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud At-Tayalisi dari Jabir bin Abdullah. 
 
  قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَعْمَالَكُمْ تُعْرَضُ عَلَى أَقَارِبِكُمْ وَعَشَائِرِكُمْ مِنَ الْأَمْوَاتِ فَإِنْ كَانَ خَيْرًا اسْتَبْشَرُوا بِهِ وَإِنْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ قَالُوا اللَّهُمَّ لَا تُمِتْهُمْ حَتَّى تَهْدِيَهُمْ كَمَا هَدَيْتَنَا
 
Artinya: “Nabi Muhammad SAW bersabda: Sesungguhnya amal-amal kalian akan diperlihatkan kepada kerabat dan sanak saudara kalian yang telah meninggal. Jika amal itu baik, mereka akan bersukacita karenanya. Dan jika amal itu buruk, mereka akan berkata: 'Ya Allah, jangan Engkau wafatkan mereka sampai Engkau berikan hidayah kepada mereka seperti Engkau memberikan hidayah kepada kami." (Ibnu Katsir, al-Qur'an al-Azhim..., halaman 184)   
 

 
Alhasil, sebagai manusia kita harus selalu beriman dan beramal saleh. Semua yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt. Baik amal yang terlihat maupun yang tersembunyi, semuanya akan dihitung dan dibalas sesuai dengan kehendak-Nya.   
 
Oleh karena itu, marilah kita senantiasa bekerja dengan penuh semangat dan dedikasi. Ingatlah bahwa bekerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga untuk mendapatkan ridha Allah swt.   
 
Zainuddin Lubis, Pegiat Kajian Islam


Keislaman Terbaru