• logo nu online
Home Banten Raya Ubudiyyah Warta Nasional Fragmen Keislaman Syariah Tauhid Tokoh Khutbah Sejarah Doa Opini Hikmah Pendidikan Islam Wisata Religi NU Preneur
Senin, 15 Agustus 2022

Opini

AIS dan Akselerasi Gerakan Literasi Santri Digital Bagi Peradaban Dunia Masa Kini

AIS dan Akselerasi Gerakan Literasi Santri Digital Bagi Peradaban Dunia Masa Kini
Sekretaris AIS Nusantara, Putri Septiana Ningrum. (Foto: Istimewa)
Sekretaris AIS Nusantara, Putri Septiana Ningrum. (Foto: Istimewa)

Sikap pesantren-pesantren Nahdlatul Ulama sejalan dengan konsepsi formalisasi penerapan pengajaran atau pembelajaran di era digitalisasi. Ini merupakan respons atas polemik dari dampak disrupsi digital. Sebab pemerintahan masih perlu dikritisi. Kegiatan organisasi AISNU (Arus Iinformasi Santri Nusantara) sebagai lokomotif moderasi dari formalisasi Literasi Santri dan juga literatur islam di masa kini, serta sebagai gerakan pembangunan masyarakat Nahdliyin (khususnya) dan masyarakat umum pengguna media sosial. 


Berhasil tidaknya gerakan ini tergantung kepada semua pihak termasuk ulama dan umaro. Umaro sudah sepatutnya bertanggung jawab di level legislasi, karena kegiatan pengembangan Akhlakul Karimah semestinya merata di segala ranah, termasuk ranah pendidikan di lingkungan pesantren. Karena, pesantren sudah mengakar dalam tradisi masyarakat digital. 


Sosialisasi atau penyuluhan materi-materi dari 'Ngaji Kitab Sosmed' yang diselenggarakan oleh AISNU dalam program AISTalk bahwa ajaran-ajaran Islam dan literatur islam itu secara penuh dapat diterapkan di masyarakat. Sekalipun melalui proses virtual. 


Dengan latar-belakang kultural tradisional itulah sudah dapat dipastikan bahwa peran pesantren dan Kaum Santri mendukung setiap program dalam menanggulangi dan menghadapi era disrupsi digital. Sehingga kegiatan pengembangan masyarakat lebih menekankan kepada kajian-kajian keagamaan yang berlandaskan kemanusiaan. 


Masyarakat Islam telah mengalami kemajuan di dalam peradaban keilmuan dan teknologi serta dalam mengimplementasikan syariat Islam sebagaimana aspek ekonomi syariah yang meng-upgrade sistem perbankan, perpajakan, serta peminjaman modal usaha mikro. Begitu juga dengan bidang literasi yang berbasis digital. 


Gagasan yang didasari kepada realitas akan pentingnya kehidupan yang damai, serta tidak adanya paksaan. Agama sudah semestinya tidak disebarkan melalui paksaan. Dengan demikian persoalan-persoalan agama bisa dipecahkan melalui tokoh agama. Karena masyarakat Islam juga harus memerangi kemiskinan di mana yang paling banyak mengalami dan menderita adalah umat Islam. 


Peran perempuan NU atau santriwati dalam rangka menyongsong satu abad NU, di dalam kemasyarakatan dapat meningkatkan efektivitas birokrasi dalam memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat secara transparan dan jujur. Watak Islam yang rahmatan lil alamin tentu menjadi pondasi utama yang kuat bagi masyarakat Nahdliyin.
 

Misi kemanusiaan dalam menyebarkan literasi santri digital berangkat dari munculnya isu-isu etnis dan agama yang diyakini sebagai polemik dari kondisi pola-pola mobilitas sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan peradaban literasi. Sehingga civil society dapat melakukan tekanan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah.

Oleh karena itu, peran perempuan NU menggunakan gerakan damai, seperti; dialog, publikasi, atau seminar yang diselenggarakan oleh AISNU dengan mengusung tema "LITERASI SANTRI DIGITAL." Program acara AIS Talk tersebut diadakan secara live streaming di channel edukasi Sabtu, 26 Februari 2022 pukul 19.30 WIB. 


Dengan begitu sudut pandang terhadap demokrasi dan persepsi yang bertemakan literasi santri bagi kemanusiaan lebih diprioritaskan dalam kegiatan pengembangan kemasyarakatan. Pengisi acara dalam program AIS Talk diisi oleh Putri Septiana Ningrum, (Pegiat AISNU Jawa Tengah). 


Sehubungan dengan kegiatan diskusi tersebut, Rasulullah pun selalu mempersilahkan para ahli untuk mengurusi bidang yang dipahaminya untuk dikerjakan. Beliau bersabda;


"Antum a'lamu biumuridunyakum, kamu lebih tahu atas persoalan duniamu." 

 

Atau secara implisit dapat dikatakan bahwa penguat demokrasi adalah kewajiban masyarakat muslim di Indonesia mesti menjaga dan merawat tradisi literasi dan budayanya yang telah lama melekat di dalam nilai-nilai filosofis berkehidupan masyarakat Nusantara, serta sebagai langkah konkret dan akselerasi perempuan NU dalam berkontribusi untuk peradaban literasi. 

 

Sebagaimana yang dipaparkan Pegiat AISNU Jawa Tengah Putri, menyampaikan AIS merupakan wadah untuk memproduksi konten-konten Islam berbasis kepesantrenan yang  ramah dan rahmah baik secara tampilan visual akun AIS per daerah maupun afiliasinya. Dengan begitu, dapat memfasilitasi para santri untuk secara bersama bergerak di ranah media sosial dan sebagai bentuk kontribusi mereka (santri) terhadap kemajuan literasi digital baik secara tim inti maupun kolaborasi dengan pihak ketiga. 

 

Lanjutnya lagi, AIS (Arus Informasi Santri) Nusantara sangat concern terhadap isu-isu terkini sebagaimana polemik pelemahan daya kreativitas terhadap peran para santri yang sebenarnya kaum santri (kaum sarungan) tidaklah 'alergi' terhadap modernisasi, serta kemanusiaan, gender, lingkungan dan isyu lainnya yang sangat krusial, yang diwujudkan tidak hanya dengan konten namun juga edukasi kepada tim AIS Nusantara. Hal ini bertujuan untuk santri "ora kagetan, ora gumunan". Serta pernyataan sikap yang solid atas isu tersebut." tegas Sekretaris AIS Nusantara, Putri Septiana Ningrum.

 

Karena memang sudah saatnya kekuatan literasi santri tidak sekedar menjadi bahan obrolan dan pembahasan, inilah waktu yang pas untuk mengkonsolidasikan peran santri di bidang literasi secara keseluruhan. Termasuk di jagat media sosial. (27/02). 

 


Abdul Majid Ramdhani, Alumni Pondok Pesantren Al-Hamidiyah Depok dan Pegiat Lembaga Seninan Budayawan Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (LESBUMI) Tangerang Selatan
 


Editor:

Opini Terbaru