• logo nu online
Home Banten Raya Ubudiyyah Warta Nasional Fragmen Keislaman Syariah Tauhid Tokoh Khutbah Sejarah Doa Opini Hikmah Pendidikan Islam Wisata Religi NU Preneur
Senin, 15 Agustus 2022

Opini

Filantropi Solusi Sindrom Shopaholic

Filantropi Solusi Sindrom Shopaholic
Ilustrasi
Ilustrasi

Hasrat yang dijebak zaman
Kita belanja terus sampai mati

 

Demikian sepenggal lirik lagu ‘Belanja Terus Sampai Mati’ milik Efek Rumah Kaca. Belanja mulanya diperuntukan manusia dalam memenuhi kebutuhan. Di sisi lain, sebagian orang melampaui makna belanja. Ada orang yang berbelanja karena tegang dan stress. Ada juga yang berbelanja demi kepuasan dengan mendapatkan barang yang diinginkan. Beberapa orang lainnya bahkan kesulitan mengontrol hasrat untuk membeli sesuatu hingga tidak sadar tanpa perencanaan dan pertimbangan apa yang mendasari pembelian tersebut.

 

Perilaku ekonomi remaja, dewasa hingga orang tua sekarang pada umumnya dipengaruhi perilaku konsumtif. Kecenderungan membutuhkan uang lebih banyak karena bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok namun lebih kepada keinginan seseorang. Akibatnya tidak sedikit mereka terkena sindrom shopaholic

 

Shopaholic berasal dari kata shop yang artinya belanja dan aholic yang memiliki arti sesuatu ketergantungan yang disadari atau tidak. Shopaholic atau gila belanja merupakan gambaran mereka yang tidak mampu mengontrol keinginan untuk berbelanja, apapun alasannya.

 

Ironisnya perilaku belanja berlebihan tersebut tidak hanya dilakukan oleh mereka yang berpenghasilan. Generasi milenial anak muda dan remaja juga turut menjadi shopaholic. Munandar dalam bukunya Psikologi Industri dan Organisasi tahun 2001 menyebut ‘kecenderungan mereka yang mudah terpengaruh bujukan dan iklan’. Sementara itu penelitian Henrietta dalam Journal of Psychology Faculty tahun 2012 menggungkapkan ‘minat mereka yang besar untuk berbelanja’.

 

Lantas, apa yang menjadi faktor penyebab muncul sindrom shopaholic? Beberapa studi menyebut shopaholic disebabkan antara lain karena adanya gaya hidup mewah dan hedonis, mengikuti tren, pengaruh keluarga, iklan, dan pusat perbelanjaan yang lengkap. Pertama, gaya hidup seseorang yang terbiasa mewah dan mengagungkan barang-barang yang mahal dan mengikuti tren. Gaya hidup ini cenderung dekat dengan hedonis yang merupakan faktor internal perilaku shopaholic.

 

Kedua, tren bisa dijadikan penentu status dan pengakuan atas diri seseorang di lingkungannya. Alih-alih agar tidak ketinggalan zaman atau tidak dicap kudet ‘kurang update’ para remaja acapkali mudah dipengaruhi lingkungan pertemanan yang pada akhirnya akan berusaha mengikuti suatu tren yang dekat dengan perilaku shopaholic.

 

Ketiga, keluarga memegang peran penting dalam membentuk kebiasaan dan pola pikir seseorang. Keluarga yang terbiasa hidup mewah dapat menyuburkan perilaku shopaholic, hal ini karena membiasakan anaknya menerima dan dibelikan barang-barang secara berlebihan.

 

Keempat, iklan yang menghiasi gadget baik melalui website, aplikasi belanja online hingga iklan di media televisi makin menggiring perilaku shopaholic. Bagaimana tidak, hanya dengan memainkan jempol yang lihai menelusuri barang-barang baru, bermerk dan mengikuti gengsi tentunya dengan mudah dipesan, beli dan antar sampai tujuan tanpa perlu pergi ke toko atau mall.

 

Kelima, pusat perbelanjaan yang lengkap ditambah kemudaan akses melalui platform belanja online seringkali mendorong perilaku membeli seseorang. Alhasil mendorong perilaku shopaholic.

 

Sindrom shopaholic ini dapat diminimalisir bahkan diarahkan menjadi hal yang positif dengan memaknai tren filantropi Indonesia dan membiasakan perilaku dermawan ‘filantropi’. Pertama, memaknai tren filantropi Indonesia yang kembali dikukuhkan sebagai negara paling dermawan di dunia versi World Giving Index 2021.

 

Charities Aid Foundation (CAF) 2021 World Giving Index (WGI) menunjukkan Indonesia di peringkat pertama dengan skor 69%, naik dari skor 59% di indeks tahunan terakhir yang diterbitkan pada tahun 2018. Pada saat itu, Indonesia juga menempati peringkat pertama dalam WGI. Ini artinya kita perlu mengupayakan perilaku dermawan dengan cara membelanjakan yang berlebihan itu dengan menyedekahkan atau juga menginfakan uang pada orang lain yang lebih membutuhkan.

 

Kedua, membiasakan perilaku dermawan. Tahun 2010 pada kegiatan Annual Conference on Islamic Studies (AICiS) ke-10 di Banjarmasin pakar filantropi Asep Saepudin Jahar Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan saat ini juga sebagai Pembina NU Care – LAZISNU Kota Tangerang Selatan menyatakan filantropi bukan hanya sekedar konsep, tetapi juga berarti amalan dalam bentuk donasi, pelayanan dan perkumpulan (himpunan penyelenggara).

 

Ketiga praktik amal ini dilakukan oleh para filantropis untuk membantu mereka yang membutuhkan, terutama yang membutuhkan infrastruktur, dan oleh warga sipil yang secara sukarela berkumpul dan berorganisasi untuk menciptakan komunitas yang mandiri. Landasan filantropi Islam dalam praktiknya dapat ditemukan dalam al-Qur’an surat At-Taubah/9: 60.

 

۞ اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعٰمِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغٰرِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ ٦٠

 

Artinya:

Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) para hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan (yang memerlukan pertolongan), sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

 

Dari kedua hal di atas, gerakan filantropi baik itu berupa zakat, infak ataupun shodaqoh perlu dimaksimalkan pada era sekarang. Kondisi pandemi yang belum juga usai membuat banyak orang mengalami kesulitan ekonomi. Tidak ada salahnya shopaholic ini diarahkan pada perilaku yang positif misalnya dengan cara membelanjakan uang untuk membeli buku, alat tulis, sarana pendidikan untuk didonasikan ke sekolah-sekolah atau pondok pesantren dan menginfakan kelebihan uang belanja ke lembaga NU Care-LAZISNU agar nanti di tasyarufkan kepada orang yang membutuhkan.

 

Mari bersama kenali diri dan tumbuhkan empati melalui gerakan filantropi!


 

 

Singgih Aji Purnomo, Wakil Ketua NU Care-LAZISNU Kota Tangerang Selatan dan Dosen STAI Muslim Asia Afrika
 


Opini Terbaru