• logo nu online
Home Banten Raya Ubudiyyah Warta Nasional Fragmen Keislaman Syariah Tauhid Tokoh Khutbah Sejarah Doa Opini Hikmah Pendidikan Islam Wisata Religi NU Preneur
Senin, 26 September 2022

Opini

Mengurai Bahaya Kekerasan Simbolik Verbal

Mengurai Bahaya Kekerasan Simbolik Verbal
Ilustrasi:Freepik
Ilustrasi:Freepik

bisa karena biasa..

 

Begitulah kiranya kondisi saat ini di dunia pergaulan remaja dalam lingkungan pendidikan. Bukan kebaikan yang mereka bisa tiru melainkan keburukan dan akhirnya menjadi kebiasaan. Ya, keburukan itu berupa kekerasan simbolik verbal.

 

Fenomena ini terjadi di lingkungan pendidikan, baik itu di sekolah maupun masyarakat bahkan merambah ke lingkungan virtual medsos. Pada lingkungan itu banyak terjadi kekerasan simbolik dalam penggunaan bahasa yang entah disengaja atau tidak disengaja oleh para remaja (siswa/I setingkat SMP/MTs).

 

Konsep kekerasan simbolik ini dikemukakan oleh Pierre Bourdieu seorang sosiolog asal Perancis. Bourdieu menjelaskan itu bermula dari mekanisme yang digunakan kelompok kelas atas yang mendominasi struktur sosial masyarakat untuk ‘memaksakan’ ideologi, budaya, kebiasaan, atau gaya dampaknya kepada kelompok kelas bawah yang didominasinya. Rangkaian budaya ini oleh Bourdieu disebut juga sebagai habitus.

 

Dampaknya masyarakat kelas bawah, dipaksa untuk menerima, menjalani, mempraktikan, dan mengakui habitus kelas di atas merupakan habitus yang pantas bagi mereka (kelas bawah), disisi lain menganggap habitus kelas bawah merupakan habitus yang sudah seharusnya dimusnahkan. Banyak cara yang digunakan kelompok atas untuk memaksakan habitusnya, salah satu diantaranya melalui lembaga pendidikan.

 

Cara sosialisasi habitus kelompok atas ini pun dapat ditemui dalam berbagai rupa. Kita dapat menyaksikan bagaimana anak-anak di sekolah diwajibkan memakai sepatu, seragam, serta berbagai atribut atau caa berpakaian kelompok kelas atas yang juga harus dilakukan kelompok kelas bawah, ini berarti ada pemaksaan dalam berbusana.

 

Menurut Bourdieu kekerasan simbolik bermakna kekerasan non-fisik yang menggunakan symbol. Kekerasan simbolik merupakan cara tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Ada beberapa faktor penyebab perilaku kekerasan simbolik yaitu faktor eksternal yang berasal dari luar diri pribadi anak yang mempengaruhi kondisi anak diantaranya meliputi pengetahuan, penggunaan bahasa, media informasi, keadaan ekonomi dan pergaulan bebas.

 

Penggunaan bahasa kini disalah artikan ketika menjadi sebuah percakapan/candaan (guyon). Beberapa kata yang mengandung unsur kekerasan simbolik dalam bahasa yang digunakan siswa/I sebagai bahasa gaul dalam lingkungan sekolah. 

 

Pertama, bodoh/tolol/bego (ego), sebutan orang yang kecerdasannya di bawah rata-rata. Sebutan ini berdampak buruk bagi perkembangan psikologis.

 

Julukan atau label bernada bodoh atau tolol atau ego mampu merendahkan kadar intelektualitas orang lain tersebut termasuk bentuk kekerasan verbal. Dampak pemberian ejekan, julukan atau label negatif dapat meruntuhkan dunia seseorang. Efeknya bisa jauh lebih buruk bagi anak-anak dan remaja.

 

Kedua, penyebutan kata-kata kurang pantas. Penyebutan binatang menjadi istilah baru dan panggilan yang paling sering disebutkan. Bahkan memanggil rekannya dengan sebutan kurang pantas menjadi kebiasaan. Hal ini mampu merusak perilaku moral karena menyamakan kedudukan manusia dengan hewan seperti nama anjing.

 

Ketiga, kafir, istilah ini adalah sebutan kepada siswa yang dianggap munafik dan pura-pura suci. Alasan menyebut ini disebabkan oleh rasa tidak suka melihat orang lain berperilaku baik dan mengejek dengan panggilan kafir.

 

Keempat, anak haram, gambaran kekerasan verbal dalam dunia remaja, istilah ini muncul untuk mengejek tanpa alasan. Banyak istilah baru yang tercipta dalam mengartikan bahasa di lingkungan sekolah salah satunya adalah sebutan anak haram yang dianggap lumrah oleh siswa untuk memanggil temannya sambil mengejek.

 

Kelima, setan, panggilan atau ejekan untuk mem-bully dalam bahasa. Penggunaan kata ini dipandang biasa dalam lingkungan pertemanan. Hal ini menjadi pertanda terjadi pergeseran makna bahasa yang sesungguhnya di kalangan remaja. Keenam dan masih banyak lagi, lagi, dan lagi semoga tidak bertambah dan dibiasakan.

 

Pergeseran makna penggunaan bahasa dipergaulan remaja berdampak negatif secara psikologis dan sosial. Di sekolah kekerasan simbolik verbal menjadi permasalahan yang berakibat hilangnya pembentukan moral dalam berperilaku dan berkomunikasi.

 

Tidak berhenti disitu, dampak kekerasan simbolik verbal pada korbannya juga berakibat pertama, merusak kepercayaan diri, merendahkan atau menyebut orang lain dengan nada negatif mampu menggerogoti harga diri seseorang. Apalagi jika dilakukan berulang. Bayangkan seseorang memanggil orang lain bodoh, gendut, jerawatan, anjing dan lain-lain. Lama-kelamaan pemberian label citra diri pada seseorang ini merusak kepercayaan diri.

 

Kedua, krisis identitas, saat seseorang disebut bodoh, secara eksplisit pelakunya juga mengendalikan cara orang lain melihat sang korban. Hal itu nampak saat seseorang menyebut orang lain bodoh di depan umum, ruang publik, atau media sosial. Panggilan bodoh itu memicu orang lain ikut memanggilnya bodoh. Sehingga, banyak orang mengamini sebutan bodoh itu, korban perlahan introspeksi diri (apa iya aku bodoh?).

 

Ketiga, minder dan menarik diri dari sekitar, rasa malu yang berlebih mampu merubah perilaku seseorang. Salah satu dampak langsungnya, seseorang bisa saja menangis seketika ketika diejek. Akhirnya, minder dan menarik diri dari lingkungan sekitar karena merasa tidak puas pada lingkungannya.

 

Melihat itu semua, lalu bagaimana kita sesama manusia merespon?

 

Salah satunya semua kita dapat memulai mendidik anak di lingkungan keluarga dengan membiasakan menggunakan bahasa yang baik dan benar pada anak juga menanamkan prinsip bahwa merendahkan manusia sama saja merendahkan sang pencipta alam semesta. 

 

Hal ini sebagai bekal anak maupun remaja mengarungi lingkungan sekolah, masyarakat terlebih lagi lingkungan virtual medsos (tiktok, instagram, facebook dan lainnya) dengan berperilaku yang baik dan benar selayaknya manusia istimewa bukan binatang dan makhluk halus.

 

Sebagai pelajar maka mulailah bersama sadari dan rubah dari penggunaan bahasa yang mengandung kekerasan simbolik verbal ke bahasa yang baik dan benar.

 

Mari bersama biasakan kebiasaan baik guna mengurangi kebiasaan buruk!

 

Singgih Aji Purnomo, Dosen STAI Muslim Asia Afrika, Bidang Kajian dan Riset LAKPESDAM PCNU Jakarta Selatan


Editor:

Opini Terbaru