• logo nu online
Home Banten Raya Ubudiyyah Warta Nasional Fragmen Keislaman Syariah Tauhid Tokoh Khutbah Sejarah Doa Opini Hikmah Pendidikan Islam Wisata Religi NU Preneur
Senin, 15 Agustus 2022

Opini

Metaverse bagi Pendidikan Islam: Kawan atau Lawan?

Metaverse bagi Pendidikan Islam: Kawan atau Lawan?
Ilustrasi Metaverse (Gambar: Singgih Aji Purnomo)
Ilustrasi Metaverse (Gambar: Singgih Aji Purnomo)

Oleh: Singgih Aji Purnomo

 

Sesungguhnya menarik mengamati gejolak permasalahan dunia saat ini, terutama invansi Negara Rusia terhadap Ukraina. Beberapa tokoh negara saling memberi dukungan, juga kerap kali muncul perbedaan. Kedua pihak yang berseteru saling menunjukkan teknologi yang dimilikinya sebagai bagian dari eksistensi kekuatan Negara. 

 

Namun, pada aktikel ini tidak akan mengulas lebih dalam terkait permasalahan dunia yang sekarang hangat diperbincangkan. Sisi perkembangan teknologi di dunia pendidikan lebih menarik untuk ‘dikata-katain’.

 

Kini yang tidak kalah hangat di dunia pendidikan yaitu metaverse. Metaverse merupakan alam semesta digital yang dibuat dengan menggunakan teknologi yang berbeda seperti VR, MR, AR, cryptocurrency dan Internet. Orang dapat menggunakan metaverse untuk bersosialisasi, membeli produk atau bermain game, atau bahkan berinteraksi dengan rekan-rekan mereka di kantor metaverse virtual berupa avatar-avatar.

 

Metaverse adalah alam semesta pasca-realitas, lingkungan multiuser abadi dan persisten yang menggabungkan realitas fisik dengan virtualitas digital. Hal ini didasarkan pada konvergensi teknologi yang memungkinkan interaksi multisensori dengan lingkungan virtual, objek digital dan orang-orang seperti virtual reality (VR) dan augmented reality (AR).

 

Oleh karena itu, Metaverse adalah jaringan yang saling berhubungan dari lingkungan imersif sosial dan jaringan dalam platform multiuser yang persisten. Ini memungkinkan komunikasi pengguna yang diwujudkan tanpa batas dalam interaksi real-time dan dinamis dengan artefak digital.

 

Iterasi pertamanya adalah jaringan dunia virtual di mana avatar mampu berteleportasi di antara mereka. Iterasi kontemporer metaverse menampilkan platform VR sosial dan imersif yang kompatibel dengan video game online multipemain besar, dunia game terbuka, dan ruang kolaboratif AR.

 

Sejarah hadirnya metaverse tidak luput dari peran Tim Berners-Lee yang menciptakan World Wide Web (www) pada tahun 1989. Berlanjut di tahun 1992 Penulis fiksi ilmiah Neal Stephenson menggunakan 'metaverse' untuk menggambarkan ruang virtual 3-D. Sebelas tahun berselang (2003) Philip Rosedale dan timnya di Liden Lab mengungkapkan kehidupan kedua, dunia virtual online. 

 

Tiga tahun kemudian (2006) Roblox platform online yang memungkinkan pengguna untuk membuat dan berbagi permainan dengan orang lain, diperkenalkan. Tiga tahun berselang (2009) Bitcoin, platform cryptocurrency dan blockchain pertama yang sukses dibuat di dunia. Pada tahun 2011 novel karya penulis fiksi ilmiah Ernest Cline, Ready Player One, memperkenalkan orang-orang ke realitas virtual. 

 

Tiga tahun berurutan (2014) Facebook akuisisi perangkat keras dan platform virtual reality ocolus. Setahun kemudian (2015) Iterasi pertama Decentraland dari dunia virtual dibuat. Berurutan (2016) Pokemon Go, permainan yang menggunakan teknologi augmented reality, membawa dunia oleh badai.

 

Satu tahun berselang (2018) game realitas virtual populer berdasarkan pelatihan dan perdagangan makhluk mitos, axie infinity, diperkenalkan. Ini berjalan di Ethereum. Dua tahun berikutnya (2021) Microsoft memperkenalkan Mesh, platform yang dirancang untuk kolaborasi virtual di beberapa perangkat dan akhir-akhir ini (2021) Mark Zuckerberg mengatakan perusahaan induk Facebook akan mengadopsi nama Meta dan mengungkap rencana untuk metaverse mereka.

 

Dari sejarah perkembangan itu, bagaimana dunia pendidikan Islam menyikapinya? apakah metaverse ini sebagai kawan atau lawan?

 

Sebagaimana diketahui dalam buku-buku pendidikan Islam sekurangnya ada tiga kata yang berkaitan dengan pendidikan Islam, yaitu al-tarbiyah (proses menumbuh kembangkan apa yang ada pada diri peserta didik, baik secara fisik, psikis, sosial, maupun spiritual), al-ta’lim (Prof. M. Quraisy Shihab, mengartikan yuallimu sebagaimana terdapat pada Qs. al-Jumu’ah ayat 2 inti mengajar tidak lain kecuali mengisi benak peserta didik dengan pengetahuan yang berkaitan dengan alam metafisik serta fisika), dan al-ta’dib (al-Naquib al-Attas menyebut pendidikan sebagai transformasi nilai-nilai akhlak mulia yang bersumber pada ajaran agama ke dalam diri manusia, serta menjadi dasar bagi terjadinya proses Islamisasi ilmu pengetahuan).

 

Melihat ketiga makna itu, maka sesungguhnya pendidikan Islam sudah berkawan dengan dunia metafisik. Munculnya term metaverse ini sebaiknya disikapi dengan cepat. Menyiapkan sumber daya mulai dari SDM (Sumber Daya Manusia) hingga perangkat pendukung untuk pengaplikasian metaverse di dunia pendidikan Islam.

 

Keterlambatan menyikapi perkembangan teknologi informasi bisa jadi memandang metaverse sebagai lawan. Bagaimana tidak, kegagapan yang ada di dunia pendidikan Islam yang kurang siap bisa saja merubah cara pandang manusia dalam menyikapi dan memaknai metaverse.

 

Pendidikan Islam kala dimaknai sebagai suatu ilmu pengetahuan ataupun realitas lembaga kependidikan itu tidak lain bersumber dari manusia. Pendidikan Islam sebagai sistem ilmu pengetahuan maupun lembaga kependidikannya tetap saja berasal dari sumber yang sama yaitu manusia. Manusia yang ‘memusatkan perhatian’ atau ‘menciptakan’ suatu sistem ilmu dan atau kelembagaan pendidikan berlatar belakang Islam.

 

Kembali pada pertanyaan: bagaimana pendidikan Islam menyikapinya? apakah metaverse ini sebagai kawan atau lawan?

 

Jawabannya ada pada sikap manusia atau pada diri kita masing-masing. Apakah kita reaktif menyiapkan segala hal yang berkaitan dengan perkembangan metaverse yang akan terjadi di dunia pendidikan Islam masa depan. Jika iya, maka metaverse ini dipandang sebagai kawan.

 

Metaverse sebagai jaringan dunia virtual di mana avatar mampu berteleportasi di antara mereka. Interaksi manusia di dunia pendidikan Islam bisa jadi kelak berbentuk avatar-avatar yang saling terhubung satu sama lain tentu juga perlu dihiasi oleh nilai-nilai akhlak mulia sebagaimana makna pendidikan Islam (al-ta’dib).

 

Meski invasi Rusia ke Ukraina tetap berlanjut, semangat inovasi manusia jangan surut.

 


Singgih Aji Purnomo, Dosen STAI Muslim Asia Afrika, Bidang Kajian dan Riset LAKPESDAM PCNU Jakarta Selatan
 


Opini Terbaru