• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Sabtu, 20 April 2024

Ramadhan

Kunci Ketenangan Hidup

Kunci Ketenangan Hidup
Dzikir. (Foto: Freepik)
Dzikir. (Foto: Freepik)

Dalam hidup, ketenangan banyak dicari. Ya, ketenangan hidup. Banyak uang, jabatan mentereng, ‎rumah bagus, kendaraan mahal tak menjamin hidup tenang. Dalam kondisi sebaliknya, juga tak jadi ‎garansi hidup tenang. Lalu seperti apa Islam mengajarkan? Allah berfirman: ‎
‎ 

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ‎   ‎

‎ 
Artinya: ‎‏“‏Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan ‎beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan ‎dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.’’ (QS an-Nahl: ‎‏97‏‎)‎
‎ 

Dalam ayat ini Allah menjamin akan memberikan kehidupan yang bahagia dan sejahtera di dunia ‎kepada hamba-Nya, baik laki-laki maupun perempuan, yang mengerjakan amal saleh. Yaitu segala ‎amal yang sesuai petunjuk Al-Qur’an dan Sunah Rasul, sedang hati mereka penuh dengan keimanan.‎
‎ 

Orang yang hatinya penuh keimanan maka akan senantiasa merasa bersama Allah, baik dalam ‎keadaan lapang maupun sempit, dan ini berlaku untuk kaum muslimin muslimat, mukminin ‎mukminat, laki-laki atau perempuan. ‎
‎ 

Selain dengan menguatkan iman, senantiasa berdzikir menjadi kunci ketenangan hidup. Dzikir ‎sebagaimana yang disarankan ulama adalah dengan cara shalat lima waktu dan menjaga shalat ‎sunnahnya. Berdzikir juga bisa dilakukan dengan senantiasa mengucapkan kalimat thoyyibah atau ‎bershalawat. Juga berdoa dengan kerendahan hati dan keyakinan doa dikabulkan.‎
‎ 

Menurut Quraish Shihab dalam buku Al-Qur'an & Maknanya, salah satu surat penenang hati dan ‎pikirannya adalah Surat Al Furqon. Sebab, surat tersebut meneguhkannya dalam menghadapi siksa ‎keras kepala kaum musyrik Makkah. ‎
‎ 

Berdzikir juga dapat dilakukan dengan memperbanyak bacaan istigfar sebagaimana disebut dalam ‎hadits Rasulullah:‎
‎ 

أكْثِرُوْا مِنَ الْاِسْتِغْفَارِ، فَمَنْ أَكْثَرَ مِنْهُ جَعَلَ الله لَهُ مِنْ كُلِّ غَمٍّ وَهَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

‎ 
Artinya: ’’Barangsiapa memperbanyak istigfar, niscaya Allah melegakan setiap kegundahan mereka, ‎melepaskan kesempitan mereka, dan memberikan rezeki secara tidak diduga-duga." (HR Abu ‎Dawud)‎

‎ 
Rasulullah juga mengajarkan kepada umatnya agar mendapatkan ketenagan hidup:‎
A.‎ Menjaga lisan, selamatnya dan tenang seorang hamba disebabkan lisannya. Sahabat Abu Bakar ‎Asshiddiq suatu saat menutupi mulutnya dengan kedua tangannya. Lalu Umar bin Khattab yang ‎melihat hal tersbut, bertanya, apa yang Anda lakukan wahai Abu Bakar? Sahabat Abu Bakar ‎menjawab, saya sedang menjaga lisan saya agar tidak menghancurkan hidup saya.‎
‎ 
‎ 
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam shahihnya dari Sahl bin Sa'id bahwa Rasulullah bersabda:‎
‎ 

مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

‎ 
‎"Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua ‎janggutnya dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga".‎

‎ 
Yang dimaksud dengan apa yang ada di antara dua janggutnya adalah mulut. (membiasakan berkata ‎jujur menghindari berkata bohong) Sedangkan apa yang ada di antara kedua kakinya adalah ‎kemaluan.‎
‎ 

Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari bersabda bahwa, keselamatan manusia ‎tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.‎
‎ 

سلامة الإنسان في حفظ اللسان

‎ 
Penting untuk menjaga lisan. Sebab lisan diibaratkan pisau yang apabila salah menggunakannya ‎akan melukai banyak orang. Di zaman modern, ketajaman lisan kadang juga mewujud dalam ‎aktivitas di media sosial melalui status-status yang ditulis.‎
‎ 

B.‎ Bertakwa kepada Allah dengan cara melaksanakan perintahnya menjauhi laranganNya. ‎secara mudah dicontohkan dalam hal makan dan minum, agar seseorang dalam makan dan minum didapat dari yang halal. Halal mencarinya, halal bahan yang diolahnya, halal cara ‎membuatnya, dan seterusnya.‎
‎ 

Wallahu a'lam

‎ 
Abdulah Faqih, Wakil Sekretaris Lembaga Dakwah NU Tangsel
Editor: M. Izzul Mutho


Editor:

Ramadhan Terbaru