• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Jumat, 1 Maret 2024

Ramadhan

Sudahkah Kita Muhasabah?

Sudahkah Kita Muhasabah?
Dzikir. (Foto: NU Online)
Dzikir. (Foto: NU Online)

Seperti yang kita maklumi bahwa tidak ada satu manusia pun yang terlepas dari dosa. Maka hal yang baik  jika selalu berusaha introspeksi diri atau dalam Islam disebut dengan istilah muhasabah. Muhasabah merupakan salah satu perbuatan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Muhasabah perlu dijadikan sebagai kewajiban dalam diri manusia, karena memberi banyak kebaikan dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Muhasabah sangat perlu untuk dilakukan untuk sarana menilai dan memeriksa ulang apa yang sudah dilakukan, sehingga kemudian memperbaiki diri agar menjadi lebih baik.


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), muhasabah adalah bahasa Arab dari introspeksi. Muhasabah adalah peninjauan atau koreksi terhadap perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan, dan sebagainya pada diri sendiri. Arti muhasabah diri adalah salah satu cara membersihkan diri dari kesalahan-kesalahan yang pernah dibuat. Sementara itu, menurut Ahmad Warson Munawir dalam Al-Munawir Kamus Arab-Indonesia, muhasabah adalah perhitungan atau introspeksi.


Menurut Imam Al-Ghozali, muhasabah adalah upaya i'tisham dan istiqamah, seperti dikutip dalam buku yang berjudul Rekonsiliasi Psikologi Sufistik dan Humanistik pengarang Abdullah Hadziq i'tisham merupakan pemeliharaan diri dengan berpegang teguh pada aturan-aturan syariat. Sedangkan istiqamah adalah keteguhan diri dalam menangkal berbagai kecenderungan negatif.


Ada beberapa dalil yang melandasi muhasabah bagi umat Islam. Di antaranya adalah:
1.    Surah Al Hasyr Ayat 18


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ


"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Al-Hasyr: 18)


2. Surah At-Taubah Ayat 126


اَوَلَا يَرَوْنَ اَنَّهُمْ يُفْتَنُوْنَ فِيْ كُلِّ عَامٍ مَّرَّةً اَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوْبُوْنَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُوْنَ


"Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?" (QS At-Taubah: 126)


Mengingat bahwa muhasabah diri perlu dilakukan agar tidak terjebak ke dalam kemaksiatan dan kesesatan perlu melakukan muhasabah dengan baik dan benar. Adapun cara muhasabah diri menurut Islam yakni sebagai berikut:


1. Membatasi diri dalam bermuhasabah
Salah satu bentuk evaluasi serta introspeksi diri yang berguna adalah dengan menyendiri untuk bermuhasabah. Diriwayatkan dari Umar bin al-Khatthab:


حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ


“Koreksilah diri kalian sebelum kalian dihisab dan berhiaslah (dengan amal saleh) untuk pagelaran agung (pada hari kiamat kelak).” (HR. Tirmidzi)
 
Selain itu, dari Maimun bin Mihran:


لَا يَكُونُ العَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يُحَاسِبَ نَفْسَهُ كَمَا يُحَاسِبُ شَرِيكَهُ


“Hamba tidak dikatakan bertakwa hingga dia mengoreksi dirinya sebagaimana dia mengoreksi rekannya” (HR Tirmidzi)


2. Berkumpul dengan orang-orang saleh
Salah satu nikmat yang Allah berikan kepada seorang Muslim adalah dengan dikelilingi oleh sahabat yang baik dan saleh. Mereka akan mengingatkan dan menasihati kekeliruan yang kita lakukan. Rasulullah bersabda:


إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ، أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي


“Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian. Aku lupa sebagaimana kalian lupa. Oleh karenanya, ingatkanlah aku ketika diriku lupa.” (HR Bukhari)


Untuk itu menjadi sangat elok, jika kita berusaha membudayakan sikap saling mengiingatkan dan menasihati di antara sesama yang tentunya dengan cara yang baik.


إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِالْأَمِيرِ خَيْرًا جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ صِدْقٍ، إِنْ نَسِيَ ذَكَّرَهُ، وَإِنْ ذَكَرَ أَعَانَهُ


“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi diri seorang pemimpin/pejabat, maka Allah akan memberinya seorang pendamping/pembantu yang jujur yang akan mengingatkan jika dirinya lalai dan akan membantu jika dirinya ingat.” (HR Abu Dawud)


3. Siap menerima saran dan kritik
Terkadang seseorang melakukan kesalahan yang tidak mereka sadari. Ketika bersama teman dan saudara yang saleh, mereka bisa saling mengingatkan agar senantiasa bermuhasabah dan mengevaluasi diri.


Dalam suatu riwayat, Imam Bukhari menceritakan usul Umar kepada Abu Bakr dalam mengumpulkan Al-Qur’an. Saat itu, Abu Bakr menolak usul tersebut namun Umar terus mendesak dan mengatakan bahwa hal itu adalah kebaikan. Akhirnya, Abu Bakr menerima usul tersebut dan mengatakan:


فَلَمْ يَزَلْ عُمَرُ يُرَاجِعُنِي فِيهِ حَتَّى شَرَحَ اللَّهُ لِذَلِكَ صَدْرِي، وَرَأَيْتُ الَّذِي رَأَى عُمَرُ


“Umar senantiasa membujukku untuk mengevaluasi pendapatku dalam permasalahan itu hingga Allah melapangkan hatiku dan akupun berpendapat sebagaimana pendapat Umar.” (HR Bukhari)
Semoga bermanfaat, amin


KH Ahmad Misbah, Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama Tangerang Selatan
Editor: M. Izzul Mutho


Editor:

Ramadhan Terbaru