• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Jumat, 1 Maret 2024

Ramadhan

Orang yang Beruntung dan Bahagia

Orang yang Beruntung dan Bahagia
Bahagia. (Foto: Freepik)
Bahagia. (Foto: Freepik)

Keberutungan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kemujuran atau keberhasilan. Sedangkan menurut M. Quraish Shihab yang dikutip oleh Yanuar Fahmi: Keberuntungan (al- falāḥ) berarti memperoleh apa yang diinginkan (kebahagiaan). Kebahagiaan yang dimaksud adalah sesuatu yang didambakan berdasarkan kenyataan dan substansinya. Sedangkan Menurut Ahmad Mustafa al-Marāgī yang dikutip oleh Yanuar Fahmi: al-falāḥ (keberuntungan) adalah tercapainya tujuan yang dicita-citakan berdasarkan ilham yang diberikan Allah pada orang-orang yang senantiasa bertakwa untuk mencapai keberhasilan.


Bahagia itu adalah sebuah pikiran atau perasaan yang ditandai dengan rasa kecukupan, kepuasan, serta cinta terhadap suatu hal. Sedangkan bahagia menurut pandangan Islam adalah saat kita sebagai umat muslim dapat mempertahankan keimanan atau keyakinan dan mampu melaksanakan perilaku yang sesuai dengan keyakinan tersebut. Tentu, hal ini berkaitan dengan sejauh apa seseorang yakin terhadap ketentuan-ketentuan yang Allah berikan di setiap langkah kehidupan, baik atau buruknya dijalani.


Seperti yang sudah diketahui secara umum, bahwa kebahagiaan di dunia itu sifatnya hanyalah sementara. Ada pun kebahagiaan di dunia, itu hanyalah perhiasan duniawi yang tidak bisa dibandingkan dengan kebahagiaan di akhirat nanti yang jauh lebih baik dari seisi dunia. Sebagaimana janji Allah,


مَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الْاٰخِرَةِ نَزِدْ لَهٗ فِيْ حَرْثِهٖۚ وَمَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهٖ مِنْهَاۙ وَمَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ نَّصِيْبٍ 


“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu padanya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, maka Kami berikan padanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagia pun di akhirat.” (QS Asy-Syura ayat 20)


Jika merujuk kepada Kitabullah, maka Allah membagi orang-orang yang bahagia menjadi enam macam. Yang pertama adalah orang yang khusyuk dalam shalatnya. Kedua, orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna. Ketiga, orang yang menunaikan zakat. Keempat, orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap istri atau budak yang dimilikinya. Kelima, orang yang memelihara amanah dan janji yang dipikulnya. Keenam, orang yang memelihara shalatnya, yang juga telah Allah jelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al Mu’minun Ayat 1-9.


(1). قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ(2). الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ(3). وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ   (4). وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (5). وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ   (6). إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ   (7). فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ   (8). وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ   (9). وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ


’’Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,(1) (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya,(2) dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,(3) dan orang-orang yang menunaikan zakat,(4) dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, (5) kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.(6) Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.(7) Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, (8) dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.(9) (QS Al Mu’minun ayat 1-9)


Ketika seseorang bahagia, Allah memberikan tanda-tanda yang ditunjukan yang Allah sampaikan didalam Al-Qur’an:


1. Hati yang Selalu Bersyukur
Yaitu orang orang yang pandai bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana Allah sampaikan di dalam Al-Qur’an,


فَاذۡكُرُوۡنِىۡٓ اَذۡكُرۡكُمۡ وَاشۡکُرُوۡا لِىۡ وَلَا تَكۡفُرُوۡنِ


’’Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.’’ (QS Al-Baqarah:152)


2. Pasangan yang Saleh
Setiap orang yang normal pasti ingin memiliki pasangan hidup baik. Pasangan yang baik akan membuat pangannya nyaman dan Bahagia. Allah berfirman, 


وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ – ٤٩


“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).” (QS. Azzariat: 49)


3. Anak yang Saleh
Anak yang saleh merupakan harapan sekaligus investasi dunia akhirat. Keberadaan anak saleh merupakan idaman semua orang tua, diakal orang tua sudah tidak mampu melakukan banyak hal untuk kehidupannya, maka anak saleh menjadi sangat penting untuk kelasungan hidupnya,baik didunia maupun di akhirat. Doa anak yang saleh sangat diharapkan orang tua selagi sudah meninggal, karenanya anak saleh sangat penting bagi setiap keluarga.


وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا


Artinya: ’’Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.’’ (QS Al-Isra/17: 23)


4. Lingkungan yang Baik
Lingkungan di mana sebuah keluarga berada akan terpengaruh sampai 75 persen, sehingga jika lingkungan tempat tinggalnya baik, maka keluarga akan baik. Sebaliknya, jika lingkungan kurang baik, maka akan tidak baik juga sekeluarga. Untuk itu lingkungan yang baik menjadi sangat penting bagi sebuah keluarga. Rasulullah pun menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang saleh yang selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan bila kita salah.


وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا 


’’Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.’’ (QS Annisa/4: 69)


5. Harta yang Halal
Memiliki harta yang banyak merupakan idaman banyak orang. Tetapi sebagai seorang Muslim bukan hanya harta banyak, tapi banyak dan halal. Harta yang halal akan menjauhkan setan dari hati. Hati menjadi bersih, suci dan kokoh sehingga memberi ketenangan dalam hidup.


يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡفِقُوۡا مِنۡ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبۡتُمۡ وَمِمَّاۤ اَخۡرَجۡنَا لَـكُمۡ مِّنَ الۡاَرۡضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الۡخَبِيۡثَ مِنۡهُ تُنۡفِقُوۡنَ وَلَسۡتُمۡ بِاٰخِذِيۡهِ اِلَّاۤ اَنۡ تُغۡمِضُوۡا فِيۡهِ‌ؕ وَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰهَ غَنِىٌّ حَمِيۡدٌ


’’Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji.’’ (QS Al-Baqarah/2: 267)


6. Memiliki Ilmu yang Banyak
Seseorang yang memiliki ilmu, akan bersikap bijak, semakin ilmunya bertambah, semakin bijak. Belajar merupakan cara untuk mendapatkan ilmu yang banyak, karenanya jangan sampai hilang semangat untuk belajar. Dengan belajar ilmu agama akan semakin cinta kepada agama dan semakin tinggi cintanya kepada Allah dan RasulNya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya.


هٰذَا بَصَاۤىِٕرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ


‘’(Al-Qur'an) ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.’’ (QS Al-Jasiyah/45: 20)


KH Ahmad Misbah, Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama Tangerang Selatan

Editor: M. Izzul Mutho


Editor:

Ramadhan Terbaru