• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Jumat, 1 Maret 2024

Ramadhan

Islam Rahmatan lil ‘Alamin

Islam Rahmatan lil ‘Alamin
Islam Damai. (Foto: NU Online)
Islam Damai. (Foto: NU Online)

Agama Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Agama yang memberikan kebaikan, kenyamanan, keselamatan, dan kedamaian bagi seluruh alam. Namun masih banyak orang belum bisa memahami secara utuh  tentang makna dan aktualisasinya dalam kehidupan sehari-hari sehingga memunculkan gesekan-gesekan di antara masyarakat disebabkan pemahaman yang belum utuh. Untuk itu menjadi hal yang penting untuk memberikan pemahaman yang utuh dan maksimal tentang pemahaman rahmatan lil ‘alamin dalam teori dan praktiknya.


وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ


“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia.” (QS Al Anbiya: 107)


Rahmatan lil ‘alamin artinya rahmat bagi seluruh alam, kasih sayang bagi semesta alam. Islam artinya damai. Jadi, Islam rahmatan lil ‘alamin artinya Islam yang kehadirannya di tengah kehidu¬pan masyarakat mampu mewujudkan kedamaian dan kasih sayang bagi manusia maupun alam. Bahkan dalam keadaan mengancam dan genting sekalipun Nabi Muhammad tetap menunjukkan dirinya sebagai seorang pembawa rahmat Allah. Nabi Muhammad tetap menampakkan kasih sayangnya yang tinggi termasuk pada mereka yang menolak dan menyerangnya.


Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai universal, dinamis, humanis,  kontekstual,  dan  abadi  sepanjang  masa.  Dan agama  Islam  merupakan  agama  yang  sudah Allah  sempurnakan untuk menjadi pedoman hidup manusia yang sudah Allah sampaikan dalam Al-Qur’an dan Allah tegaskan bahwa Nabi Muhammad sebagai rasul terakhir dan penutup para nabi sebelumnya melalui Malaikat Jibril sebagaimana firmanNya: 


مَا كَانَ مُحَمَّدٌ اَبَآ اَحَدٍ مِّنْ رِّجَالِكُمْ وَلٰكِنْ رَّسُوْلَ اللّٰهِ وَخَاتَمَ النَّبِيّٖنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا


’’Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.’’ (QS Al-Ahzâb/33: 40)


Menurut kakak mantan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi yaitu KH Abdul Muchith Muzadi bahwa Islam rahmatan lil aalamin merupakan konsep yang komprehensif dan holistic. Di dalamnya terdapat nilai persaudaraan, perdamaian, dan kebijaksanaan yang mudah diterima oleh masyarakat ketika disebarkan oleh para mubaligin (penyebar dan pembawa agama) melalui ustad, ulama, dan habib di Indonesia.


Bahwa di Indonesia banyak keanekaragaman baik secara suku, budaya, agama maupun paham keagamaan, hal ini bukan menjadi alat atau bahan untuk memperuncing perbedaan. Tetapi dijadikan sebuah alat untuk saling menhormati, menghargai dan memperkaya potensi bangsa di mata bangsa lain. Dan keanekaragaman adalah merupakan bagian dari fitrah manusia, sebagaimana firmanNya:


فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ


Artinya: ’’Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.’’ (QS Ar-Rum: 30)


Perdamaian dan kerukunan beragama dapat melahirkan kesejukan dan kedewasaan dalam beragama. Hal tersebut merupakan salah satu cita-cita Islam rahmatan lil ’alamin yang diharapkan menjadi rahmat bagi seluruh alam bukan hanya lintas suku, agama, ras, dan antargolongan. 


Pemahaman Islam rahmatan lil ‘alamin menjadi sangat urgent untuk diejawantahkan kepada masyarakat agar kelak tidak terjadi gesekan antarbangsa atau minimal bisa terkontrol sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi sangat kondusif. Adapun langkah-langkah yang bisa diambil menuju rahmatan lil ‘alamin adalah: 


1. Menumbuhkan kepemilikan ilmu yang luas
Mencari ilmu menjadi hal yang sangat penting agar manusia bisa memiliki ilmu yang lebih banyak dan lebih bermanfaat. Semakin banyak memiliki ilmu, seseorang akan bisa menilai sesuatu dari berbagai sudut pandang sehingga pada ujungnya dia akan lebih bijak dalam menilai atau bersikap dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.


Banyak dorongan Alah untuk memiliki ilmu yang luas dan mumuni adalah dimulai dari perintah membaca, yang merupakan wahyu pertama turun sebanyak 5 ayat,


اِقۡرَاۡ بِاسۡمِ رَبِّكَ الَّذِىۡ خَلَقَۚ‏ ١ خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ عَلَقٍۚ‏ ٢ اِقۡرَاۡ وَرَبُّكَ الۡاَكۡرَمُۙ‏ ٣ الَّذِىۡ عَلَّمَ بِالۡقَلَمِۙ‏ ٤ عَلَّمَ الۡاِنۡسَانَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡؕ‏ ٥


’’Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,(1) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.(2), Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,(3), Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,(4), Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(5),’’ (QS Al ‘Alaq : 1-5)


Dan masih banyak ayat lagi yang mendorong ummat islam untuk banyak membaca.diantaranya: QS Al ’Ankabut/29: 45; QS Al-Ahzab/33: 34; QS Fathir/35: 29; QS  Al-A’la/87: 6. 


2. Kontrol yang kuat dalam berucap dan bertindak
Ada istilah mulutmu adalah harimaumu. Ini hal yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Istilah tersebut menjadi kontrol kepada semua masyarakat di dalam bermasyarakat dan bernegara. Mengingat di negara Indonesia yang merupakan negara yang masyarakatnya sangat heterogen dalam semua bidang. 


Allah sudah memngingatkan kepada umat Islam bahwa kebaikan yang diucapkan atau diperbuat akan mendapat balasan sesuai dengan yang dilakukan baik di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman:


فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ    وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ


’’Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.(7) Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula”.(8) (QS Az Zalzalah Ayat: 7-8)


3. Menjunjung tinggi persaudaraan dan persatuan
Dalam berbangsa dan bernegara seringkali gesekan terjadi bukan karena ketidakpahaman tentang masalah yang sedang diperselisihkan, tetapi bisa saja terjadi karena adanya kepentingan kelompok tertentu yang ingin digolkan agar kelompok tersebut bisa eksis atau lebih dari itu.


Untuk menetralisasi gesekan tersebut yang sudah ditunggangi oleh berbagai kepentingan apalagi di negara yang heterogen dalam berbagai bidang, dibutuhkan perekat yang baik agar mereka masih bisa berdekatan dan bekerja sama. Persaudaraan dan persatuan adalah satu nilai yang perlu dijunjung tinggi dan dikedepankan untuk menetralisasi gesekan di antara mereka walau banyak kepentingan, termasuk gesekan kelompok radikal. Hal ini sudah Allah sampaikan bahwa kita adalah saudara yang memerlukan persatuan dan memang sebelumnya sudah terpecah belah. Firman Allah:


وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ


’’Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.’’ (QS Ali Imran/3: 103)


KH Ahmad Misbah, Ketua Lembaga Dakwah NU Tangerang Selatan
Editor: M. Izzul Mutho


Editor:

Ramadhan Terbaru