• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Jumat, 1 Maret 2024

Nasional

Kenal Gus Dur, Bill Drayton: Beri Diri Anda Izin Bermimpi-Melakukan Perubahan

Kenal Gus Dur, Bill Drayton: Beri Diri Anda Izin Bermimpi-Melakukan Perubahan
Lakpesdam PBNU bekerja sama dengan Ashoka mengelar talkshow zoominar. (Foto: SS live streaming Youtube)
Lakpesdam PBNU bekerja sama dengan Ashoka mengelar talkshow zoominar. (Foto: SS live streaming Youtube)

Tangerang Selatan, NU Online Banten
Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengelar talkshow zoominar bertajuk "everyone a changemaker" bekerja sama dengan Ashoka, lembaga change makers, Selasa (16/5/2023).


Acara yang dipandu oleh host Ufi Ulfiah ini dimulai paparan talkshow oleh Bill Drayton. Wirausahawan sosial Amerika itu mengatakan, ketika kecil dirinya bermimpi membangun tim dan mengubah sekolah adalah hal yang menyenangkan.


“Jangan dengarkan kata-kata mereka yang bilang ‘kamu tidak bisa mengubah apapun’. Ketika kelas 4 SD, saya membuat koran dengan cara ditempel-tempel. Mulanya hanya di 1 kelas, namun lambat laun 1 sekolah dan menyebar ke sekolah lainnya. Setelah melakukan sekali ini saja Anda pasti akan melakukan lagi, lagi, dan lagi. Ketika saya di SMA, di Harvard, di Yale, saya melakukan inisiatif-inisiatif lain,’’ imbuh CEO Ashoka itu.


Jadi, lanjut social entrepreneur ini, jika di sini memberikan kesempatan untuk melakukan perubahan, itu adalah hal yang sangat baik dan menyenangkan. 


Pria dengan nama William Drayton itu memberikan contoh, Sarah, tinggal di sebuah desa di Tunisia ketika berusia 11 tahun. Dia melihat anak-anak usia 12 tahun keluar dari sekolah karena mereka merasa bahwa tidak aman pergi berjalan ke sekolah. 


’’Kenapa anak-anak ini tidak diupayakan agar bisa naik bus ya? Kemudian Sarah berfikir, bagaimana cara agar anak perempuan ini bisa naik bus ke sekolah. Dia mengorganisasi mengantar teman-temannya ke sekolah, dan beberapa tahun kemudian menjadi Ashoka Fellow yang fokus di bidang isu perubahan iklim di Afrika. Saat ini dia menjadi salah seorang penasihat Presiden Prancis Macron dan dia mulai ketika dia berusia 11 tahun,’’ ucap pria lulusan Harvard ini.


Sarah ini, lanjutnya, berhasil meningkatkan pendapatan petani hingga 16 persen. Dia mengubah petani-petani ini menjadi pembaharu dan memperkenalkan cara menangani krisis iklim, misalnya dengan memperkenalkan pohon yang hanya membutuhkan sedikit air. 


Jadi, lanjutnya, ingin NU dan Ashoka bekerja sama. ’’Kita harus memastikan orang muda memiliki pengalaman menjadi pembaharu dan memberi perubahan. Ini merupakan peluang yang luar biasa. Teman-teman yang menanyakan para pembaharu yang terkenal biasanya mereka mulai ketika remaja dan semua orang harus mengalami pengalaman pembaharu,’’ harap Bill.


Bill menambahkan, tokoh-tokoh besar mengatakan bahwa hidup yang baik adalah hidup yang penuh cinta, hormat dan aksi atau tindakan. ’’Tapi kita tidak akan mencapai hidup yang baik ini jika kita tidak tahu aturan main kehidupan sekarang. Sekarang hidup di era perubahan dan perubahan adalah permainan realita atau aturan baru yang harus kita pahami cara kerjanya. Untuk mencapai kehidupan yang baik kita harus menjadi pemberi, karena hak yang paling baik atau mendasar adalah hak untuk memberi kepada orang lain,’’ tegasnya.


Sedangkan pembicara lain, Ulil Abshar Abdalla, ketua Lakpesdam PBNU, mengatakan, dia pernah bertemu dengan seorang anak muda Belanda, bercerita, seorang sarjana dan wartawan asal Turki ketika bersama keluarganya pergi haji merasa kagum kepada orang Indonesia yang ramah. ‘’Lalu bertanya pada saya, kenapa demikian?” ujarnya menirukan.


Gus Ulil—sapaan akrabnya-- menjawab bahwa kiai atau ulama Indonesia lebih dekat dengan masyarakat ketimbang ulama Timur Tengah yang umumnya tinggal di kota-kota besar. ’’Sangat berbeda dengan kiai Indonesia. Justru yang paling berpengaruh yang tinggal di desa, langsung berinteraksi dengan masyarakat sekitar,’’ terangnya


Kiai Indonesia, lanjutnya, sudah menjadi change maker sejak saat itu. Membuat perubahan-perubahan sesuai kemampuan dan tingkatannya masing-masing 


Bill Drayton pun menanggapi Gus Ulil. “Saya ingin menggarisbawahi apa yang dikatakan Mas Ulil. Kita memulai Ashoka ini sejak 1980-an di India dan Indonesia. Saat itu yang saya kenal adalah Gus Dur, yang memimpin pesantren dan ketika itu tidak di Jakarta. Saya tahu sejak dulu, NU adalah tentang semua orang, NU tidak meninggalkan siapapun di belakang. Kita mulai 1980-an memulai mengenalkan konsep kewirausahaan sosial untuk mencari role model atau panutan untuk kemudian membantu para pembaharu lokal untuk turut melakukan perubahan,’’ terangnya.


Nah, sekarang tugas selanjutnya menularkan semangat pembaharuan ini. ’’Beri diri Anda sendiri izin untuk bermimpi, beri diri Anda ruang untuk melakukan perubahan. Beri diri Anda kesempatan untuk menjadi pembaharu dan kita harus bekerja bersama,’’ tegasnya.


Pewarta: Singgih Aji Purnomo


Nasional Terbaru