• logo nu online
Home Banten Raya Ubudiyyah Warta Nasional Fragmen Keislaman Syariah Tauhid Tokoh Khutbah Sejarah Doa Opini Hikmah Pendidikan Islam Wisata Religi NU Preneur
Senin, 15 Agustus 2022

Opini

Belajar Dari, Pendiri Lesbumi : Usmar Ismail

Belajar Dari, Pendiri Lesbumi : Usmar Ismail
Ilustrasi Umar Ismail (Foto: Istimewa)
Ilustrasi Umar Ismail (Foto: Istimewa)

(Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia), yang dibentuk pada tahun 1962. Lesbumi menghimpun berbagai macam artis: pelukis, bintang film, pemain pentas, dan sastrawan.  Lembaga  ini  juga  beranggotakan  ulama  yang  memiliki  latar belakang seni cukup baik.

 

Kehadiran Lesbumi, yang dalam lingkungan organisasi politik NU dicat sebagai satu penanda kemodernan penting, oleh kalangan NU justru dianggap sebagai kurang menjaga martabat NU. Penanda kemodernan penting disini dilihat dari segi fokus perhatian NU yang dianggap sama sekali baru : seni budaya.

 

Di samping itu, sebagai penanda output dari kemodernan yang sangat penting untuk dilihat dari segi siapa yang terlibat aktif mengurusi lembaga ini. Karena sebagian besar pengurusnya memiliki latar belakang yang berbeda dari orang-orang NU kebanyakan. 

 

Lesbumi hadir di tengah gelombang deras kritik dan suasana polemik kebudayaan di Indonesia, antara Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) di satu pihak dan para pendukung Manifes Kebudayaan (Manikebu) yang dicetuskan pada 17 Agustus 1963 di pihak lain. Keduanya, Lekra dan Manifes Kebudayaan pada akhirnya bubar dalam selisih waktu 2 tahun.

 

Seperti yang sudah diketahui, Lekra ikut dibubarkan bersama Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1966. Lesbumi dibentuk pada 28 Maret 1962. Sebagaimana dikutip dari buku LESBUMI: Strategi Politik Kebudayaan karya Choirotun Chisaan (2008), berdasarkan Surat Keputusan PB Partai NU No. 1614/Tanf/VII-62, tanggal 1 Shofar 1382 H/3 Djuli 1962, setelah lahir, beberapa bulan kemudian dibentuk susunan kepengurusan awal Lesbumi, yang kala itu masih memiliki kepanjangan Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia.

 

Rais ‘Aam KH Abdul Wahab Chasbullah menempati posisi sebagai pelindung Lesbumi. Untuk posisi Ketua Umum, ditunjuklah H Djamaluddin Malik, dengan didampingi Wakil Ketua I dan II Usmar Ismail dan Asrul Sani. Kemudian Anas B.S sebagai Sekjen didampingi Hasbullah Chalid (Sekretaris I). Sedangkan untuk bagian Bendahara dan wakilnya, ada H Mohd Madehan dan H A Latief.

 

Lalu di bagian anggota terdapat sejumlah nama seperti H Tubagus Mansur Makmun, H Mahbub Djunaidi, H Husny, H Abd. Sjukur Tajib, Nadjaruddin Naib, Huscin Alaydrus, Kiai Musa Machfudz, Muhtar Byna, dan Ishari (Jawa Timur). 

 

Ghirah (semangat) nasionalisme yang multikultural harus terwujud di dalam kehidupan sehari-hari para pengiat Lesbumi, serta dialog lintas peradaban baik itu di ranah keilmuan dan kemasyarakatan. 

 

"Belajar Dari" peran, pendiri Lesbumi NU Usmar Ismail yang telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2021 dan anugerah tersebut diberikan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo di Istana Bogor pada 10 November 2021. Tokoh yang dijuluki "Bapak Perfilman' itu telah menanamkan spirit karakter khazanah budaya bangsa. Hal itulah yang menjadi komitmen Lesbumi NU untuk terus berkarya. 

 

Pada Harlah Lesbumi Ke-60, (28 Maret 1962- 28 Maret 2022) ini menjadi momentum yang sangat tepat selain memberikan semangat dalam berkarya, ada spirit saptawikrama kepada seluruh punggawa Lesbumi juga ke semua warga An-Nahdliyah di mana pun. 

 

Saya rasa kita tidak bisa hanya menyerahkan pada mekanisme pasar dalam menentukan upaya solutif apa untuk menjaga serta merawat semangat nasionalisme yang multikultural. Sastrawan mesti kembali turun tangan dan memegang "kendali" dalam mencipta karya, di era literasi digitalisasi kini. Lesbumi harus menjadi 'muara' yang mengalirkan gelombang deras kreativitas para sastrawan muda. 

 

"Selamat Hari Film Nasional, 30 Maret 2022." (Hari Film Nasional) HFN 2022 yang mengambil tema ‘Melalui Peringatan Hari Film Nasional Kita Ingin Menjadikan Film Indonesia Sebagai Pagar Budaya Bangsa’, dimeriahkan dengan serangkaian kegiatan perfilman. Adapun HFN 2022 ini digelar oleh organisasi perfilman yang berkantor di Gedung PPHUI (Pusat Perfilman Usmar Ismail) dengan membentuk kepanitiaan bersama, melakukan serangkaian acara yang berlangsung selama 3 hari, 28 s.d 30 Maret 2022. 

 

"Harapan ke depan, saya sebagai pimpinan Yayasan Pusat Perfilman ingin menjadikan Gedung Perfilman ini sebagai Pagar budaya perfilman. Saya ingin menjaga perfilman Indonesia di tengah infiltrasi budaya dari luar” ungkap Sonny 

 

Lanjutnya lagi, "Seluruh panitia HFN (Hari Film Nasional) sudah sepakat dan satu suara untuk menggagas pembangunan 'Situs Peringatan Hari Film Nasional' yang pada pelaksanaan Peletakan Batu Pertama di halaman Gedung PPHUI (Pusat Perfilman Usmar Ismail) yang diselenggarakan pada (30/3)." tegas Ketua Yayasan Pusat

 

Perfilman Usmar Ismail (PPHUI) Sonny Pudjisasono, yang menjanjikan Gedung PPHUI akan menjadi pusat atau episentrum berkesenian. (01/1) (Abdul Majid Ramdhani, pegiat Lesbumi NU Tangerang Selatan. Penulis juga aktif menulis di portal media (jabar.nu.or.id dan banten.nu.or.id) dan telah menerbitkan beberapa buku Antologi Puisi, Cerpen Fiksi dan Cerpen Pendidikan)

 


Opini Terbaru