• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Senin, 17 Juni 2024

Opini

Investasi

Investasi
ilustrasi. (NUO)
ilustrasi. (NUO)

’’MASA depan adalah misteri,” ucap seseorang. Ya, masa depan memang misteri, dan karena misteri, manusia selalu harap-harap cemas. Ia berharap mendapatkan nasib baik menimpa dirinya. Di saat yang sama juga cemas akan berbagai macam hal yang mungkin akan merenggut kebahagiaannya.

 


Pada akhirnya, banyak hal yang dilakukan sebagian manusia untuk mempersiapkan kehidupannya di masa depan. Salah satunya yaitu dengan berinvestasi. Seorang teman laki-laki sudah mulai mencari-cari layanan investasi. Ia ingin menginvestasikan uangnya dengan satu harapan bahwa dalam jangka waktu tertentu, di masa yang akan datang, uangnya bisa berlipat ganda. Saya juga mengetahui bahwa ada sepasang suami istri ngebet ingin memiliki anak, kemudian mereka menginvestasikan anaknya dengan merawat, membesarkan, dan memberikan penghidupan. Dengan harapan, kelak si anak bisa menyelamatkan kehidupan tragis orang tuanya di masa tua nanti.

 


Kemudian saya juga pernah bertanya kepada seorang teman perempuan, ikhwal kenapa ia mau membeli alat kecantikan dan merawat tubuhnya secara apik. Jawabnya sederhana dan juga menarik, yaitu “investasi”.

Tubuh memang merupakan suatu aset berharga bagi manusia. Karena bagaimanapun tidak, dengan tubuh yang sempurna manusia akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengaktualkan pikiran di dalam akalnya. Artinya, kesehatan dan kesempurnaan tubuh merupakan instrumen penting bagi manusia untuk ia bereksistensi.

 


Tapi permasalahannya, di era yang serba digital ini. Kita sebagai manusia lupa untuk merawat dan menginvestasikan bagian tubuh paling terpenting dalam diri kita, yaitu akal-pikiran. Akal merupakan aset paling berharga yang dimiliki oleh manusia, karena dengan akal manusia masih mungkin untuk bertahan hidup dibandingkan dengan tanpa bagian tubuh lainnya. Karena jika pun salah satu bagian tubuh manusia tidak ada, manusia dengan akalnya akan menanggulangi kekurangannya itu.



Berbeda dengan ketika tidak adanya akal pikiran. Selengkap apa pun anggota tubuhnya, ia tidak akan bisa berbuat banyak. Dan ekstremnya, bisa dikatakan bahwa ketika manusia tidak menggunakan akal, walaupun ia masih bernapas, ia bisa dikatakan sudah mati sejak saat itu pula.

 


Untuk itulah kenapa Descartes berkata “Cogito Ergo Sum”. Descartes mengindikasikan bahwa eksistensi manusia diukur bukan dari adanya tubuh fisik, tapi dari sejauh mana ia berpikir. Sederhananya, jika seseorang hadir tanpa berpikir, maka ia tetap dianggap alpa sebagai manusia.

 


Oleh karenanya, penting untuk menginvestasikan akal. Salah satu cara yang sangat efektif adalah melalui kegiatan membaca. Dengan membaca, bukan saja hanya sekadar mengonsumsi kata-kata di atas kertas atau layar, melainkan sedang merawat satu hal yang memiliki dampak signifikan pada kelangsungan hidup.

 


Perlu disadari bahwa di Indonesia, kegiatan membaca seringkali menjadi tantangan tersendiri. Melihat bahwa persentase literasi di negara ini masih sangat rendah, membaca menjadi lebih dari sekadar kegiatan santai atau hobi. Ini adalah langkah awal yang memerlukan perhatian dan upaya ekstra untuk mengubah paradigma masyarakat terhadap membaca.

 


Pada tataran ini, menginvestasikan waktu dan usaha untuk membaca bukan hanya sekadar meningkatkan wawasan, tetapi juga berperan dalam meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Membaca membuka pintu menuju pengetahuan yang luas dan mendalam, memperluas pandangan kita terhadap dunia, dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis.

 


Sejauh ini, barangkali kita berpikir bisa berinvestasi pada uang, saham, anak, kecantikan, dan tubuh. Tapi kita lupa untuk menginvestasikan satu hal esensial dalam diri kita, yaitu akal. Yang dengannya kita mampu untuk menggapai segala kebahagiaan yang diinginkan, dan menolak segala penderitaan yang ditafikan.

 


Rizki Mohammad Kalimi, Santri di Pondok Pesantren Al-Musyahadah “Rumah Cerdas Indonesia”, Mahasiswa Pascasarjana Program Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung


Opini Terbaru