• logo nu online
Home Banten Raya Ubudiyyah Warta Nasional Fragmen Keislaman Syariah Tauhid Tokoh Khutbah Sejarah Doa Opini Hikmah Pendidikan Islam Wisata Religi NU Preneur
Senin, 26 September 2022

Opini

Mengetuk Peran Pemerintah Dalam Memajukan Literasi Digital di Pesantren

Mengetuk Peran Pemerintah Dalam Memajukan Literasi Digital di Pesantren
Dokumentasi Pribadi saat menyampaikan materi dalam acara Literasi Digital. (Foto:Istimewa)
Dokumentasi Pribadi saat menyampaikan materi dalam acara Literasi Digital. (Foto:Istimewa)

Kemarin penulis di undang Ketua Lakpesdam PCNU Kota Tangerang untuk menjadi narasumber dalam acara Seminar Literasi Digital Untuk Pesantren.

 

Acara yang di selenggarakan oleh Lakpesdam PCNU Kota Tangerang atas kerjasama PBNU dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Republik Indonesia.

 

Dalam acara ini menghadirkan narasumber dari Lakpesdam PBNU Muhammad Nur Khoiron, Pemimpin Redaksi NU Online Banten Rahmat Ferdian Andi Rosyidi, dan saya sebagai pelengkap.

 

Acara ini sasarannya adalah santri pondok pesantren dan kebetulan di Kota Tangerang di laksanakan di Pondok Pesantren Asshidiqiyah 2 Batu Ceper. Tentunya dengan harapan agar santri melek literasi digital dan sosial media. Serta bisa memanfaatkan sosial media sebagai media untuk dakwah dan menebarkan kebaikan.

 

Ketika penulis bertanya kepada santri apakah sudah punya sosial media hampir semuanya menjawab sudah memiliki akun media sosial. Namun, ketika saya tanya soal apa yang sudah di upload dalam sosial medianya. Jawabannya beragam, ada yang hanya upload fotonya sebagai dokumentasi pribadi, sekedar curhat soal keseharian, hanya iseng, dan alasan lainnya.

 

Dari sekian jawaban, penulis menemukan jawaban dari Santri. Belum ada yang memanfaatkan sosial media untuk sebagai media untuk syi'ar dan dakwah apalagi untuk media bertukar ilmu dan menyampaikan gagasan. 

 

Padahal sosial media memiliki banyak sarana untuk berdiskusi dan bertukar pikiran terkait banyak hal. Sedari isu yang remeh temeh untuk hanya sekedar melepas tawa sambil ngopi, sampai isu yang berat dan bikin pusing kepala sampai pagi karena kurang tidur.

 

Ketika sesi tanya jawab pun, belum ada yang berani memberikan tanggapan dan pertanyaan kepada narasumber. Entah karena belum paham apa yang disampaikan oleh narasumber atau belum berani untuk menyatakan pendapatnya. Atau mereka belum tertarik dengan materi yang disampaikan, Wallahu a'lam.

 

Terlepas dari kondisi di atas, penulis sangat mengapresiasi program literasi digital ini. Karena pesantren sebagai basis pendidikan untuk mencetak kader bangsa. Tentunya sangat mengerti ilmu agama. Namun juga sudah selayaknya Santri harus dibekali dengan pengetahuan tentang sosial media dan literasi digital. 

 

Begitu juga dengan pesantren, diharapkan bisa beradaptasi dan menyesuaikan kebutuhan zaman yang sudah serba digital dan dipengaruhi oleh sosial media yang serba cepat dan praktis. 

 

Pesantren harus membekali santrinya tidak hanya ilmu agama tapi juga tentang literasi digital. Pesantren harus mengajarkan bagaimana berdakwah dengan memanfaatkan media digital dan sosial media dengan baik dan benar. 

 

Demikian, agar literasi digital dan media sosial tidak dikuasai oleh pihak yang tidak mengerti ilmu agama. Dan juga tidak boleh dikuasai oleh mereka yang memiliki pandangan intoleran.

 

Tapi, perlu di catat juga bahwa sosial media bagaikan pisau bermata dua. Satu sisi bisa mendatangkan kebaikan jika dikelola dengan konten yang baik dan berpegang teguh pada etika yang diajarkan Islam. 

 

Namun disisi lain akan membunuh diri kita jika konten yang disampaikan tidak beretika dan bertolak belakang dengan nilai-nilai ajaran Islam dan undang-undang ITE.

 

Jika pesantren abai akan kondisi zaman yang sudah serba digital dan sosial media minded, bukan tidak mungkin pesantren akan tenggelam oleh mereka yang menguasai sosial media dan literasi digital saat ini yang notabene adalah mereka yang minim pengetahuan ilmu agama.

 

Apakah pesantren akan mampu bersaing dalam menguasai dunia literasi digital dan dunia sosial media? Salah satu yang bisa memberikan jawabannya adalah sejauh mana PBNU mengawal program 'Literasi Digital Untuk Pesantren' ini berjalan dengan baik dan efektif.

 

Tentunya harus ada ukuran dan baromater yang jelas untuk menilainya. Karena tanpa barometer yang jelas program ini akan sia-sia dan hanya akan sekedar menjadi program yang formalitas dan seremonial belaka.

 

Begitu juga dengan pondok pesantren yang sudah mendapatkan bekal materi literasi digital. Harus berbenah diri baik terkait dengan kurikulum pondok pesantren yang harus disesuaikan maupun infrastruktur yang mendukung kemajuan pesantren terkait literasi digital.

 

Untuk itu alangkah baiknya jika program ini tidak hanya oleh pemerintah pusat tapi pemerintah daerah juga menyambutnya dengan cepat. Alangkah indahnya jika pemerintah pusat memberikan pemahaman tentang literasi digital dan sosial media kepada pesantren. Sedangkan pemerintah daerah memberikan dukungan yang lain terkait infrastruktur pendukungnya, seperti laboratorium digital atau yang lainnya.

 

Jika boleh usul, sasaran seminar ini tidak hanya santri tapi juga diberikan untuk kalangan assatidz dan assatidzah. Karena akan sia-sia jikalau santri diberi pemahaman akan tetapi para ustadznya tidak paham bukan?

 

H Ogy Sugiyono, Pegiat Media


Opini Terbaru