• logo nu online
Home Banten Raya Ubudiyyah Warta Nasional Fragmen Keislaman Syariah Tauhid Tokoh Khutbah Sejarah Doa Opini Hikmah Pendidikan Islam Wisata Religi NU Preneur
Senin, 26 September 2022

Tokoh

KH Syam'un : Kolonel, Pendidik, dan Tokoh NU

KH Syam'un : Kolonel, Pendidik, dan Tokoh NU
KH Syam'un tokoh pejuang Banten era Kemerdekaan.
KH Syam'un tokoh pejuang Banten era Kemerdekaan.

Peristiwa Geger Cilegon 1888 tak habis-habis melahirkan kisah heroik. Syaikh Abdul Karim dan Syaikh Nawawi punya peranan penting meski tak ikut berjuang dalam melawan penjajah. Dibalik itu semua, keduanya memantik dan meng-ilhami para tokoh dari Banten berjuang melawan kedzaliman dan penindasan penjajah.

KH Wasyid adalah salah satu tokoh yang memimpin dalam pasukan Geger Cilegon. Sewaktu menimba ilmu di Mekkah, Ia langsung berguru kepada Syaikh Nawawi al-Bantani dan Syaikh Abdul Karim. Setelah selesai menimba ilmu, pulang ke Banten. Bersama KH Abdurrahman, KH Arsad Thawil, KH Arsad Qashir, dan KH Ismail, bersama-sama melakukan dakwah dan menyebarkan semangat perjuangan.

Para tokoh tersebut ada yang gugur, ada juga yang diasingkan oleh Kolonial. Meskipun begitu, banyak juga melahirkan keturunan dan meneruskan perjuangannya. Salah satunya adalah KH Syam'un. Ia adalah salah satu tokoh yang mempunyai garis keturunan dari KH Wasyid.

Pada tanggal 5 April 1894, KH Syam'un dilahirkan dari pasangan H Alwiyan dan Hj Hajar di Banten. Di dalam dirinya menyala terang semangat perjuangan buyutnya, KH Wasyid. Saat tahun 1901, KH Syam'un dikirim menimba ilmu di pesantren Dalingseng milik KH Sa'i.

Seusai di pesantren Dalingseng, KH Syam'un nyantri di pesantren Kamasan asuhan KH Jasim di Serang tahun 1904. Hingga beranjak umur 11 tahun. KH Syam'un melanjutkan petualangan mencari ilmu di Mekkah. Lima tahun di Mekkah tak membuatnya puas, tahun 1910 hingga 1915 dilanjutkan lagi di Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Menurut Rahayu, yang dikutip dari Historia.id. Usai memperoleh ijazah Al-Azhar, KH Syam’un kembali ke Mekkah untuk mengajar di Masjid al-Haram. Muridnya dari aneka suku bangsa. Yang terbanyak dari Jawa. Meskipun cuma setahun mengajar, di sini namanya mulai sohor sebagai 'Ulama Banten yang besar.' KH Syam’un pulang ke Nusantara pada 1915.

KH Syam’un menggabungkan pola pendidikan tradisional pesantren dengan sekolah modern pada 1926. “K.H. Syam’un berusaha mengembangkan rasionalitas Islam dengan seruan kembali kepada ajaran Islam yang pokok,” tulis Abdul Malik dkk., dalam Jejak Ulama Banten Dari Syekh Yusuf Hingga Abuya Dimyati. Pada tahun ini pula, KH Syam’un bergabung dengan Nahdlatul Ulama.

Mengembangkan Pesantren dan Aktif di NU

Dalam artikel 'Riwayat Hidup dan Perjuangan KH Syam'un'  yang ditulis oleh Abdullah Alawi dalam laman NU Online dijelaskan. KH Syam'un sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di lingkungan pesantren, ketika pulang ke tempat kelahirannya, ia mengembangkan pesantren juga. KH Syam’un pulang ke Hindia Belanda pada 1915.

Kemungkinan karena merasa satu visi dengan kiai-kiai asal pesantren, di dalam berorganisasi ia memilih aktif di Nahdlatul Ulama. Ia tercatat sebagai salah seorang syuriyah dari NU Serang. Buktinya sebagai pengurus, menurut data yang ditemukan di Majalah Swara Nahdlatoel Oelama dan Berita Nahdlatoel Oelama, ia hadir di muktamar NU. Paling tidak, di Muktamar NU kelima di Pekalongan pada 1930 dan Banjarmasin 1936.

KH Syam'un melanjutkan reputasi keilmuan ulama Banten. Pada tahun 1916, KH Syam'un mendirikan pesantren di daerah Citangkil. Nama Al-Khairiyah terinspirasi oleh sebuah bendungan di Mesir. Awalnya hanya pengajaran pesantren pada umumnya. Santrinya pun hanya berjumlah puluhan. Seiring perkembangan pesantren Citangkil, KH Syam'un memasukan unsur materi pendidikan modern menyesuaikan zaman.

Dalam mengasuh pesantren Al-Khairiyah Citangkil. KH Syam'un memadukan kurikulum pesantren dengan ilmu modern seperti sekolah umumnya. Ia juga menerapkan pembelajaran dalam ruangan kelas secara berjenjang sesuai umur. Dari sebuah pesantren, Al-Khairiyah berkembang tersebar hingga ke Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, dan Jakarta. Untuk pembiayaan Madrasah yang mulai berkembang cukup pesat, pada tahun 1927 didirikanlah sebuah koperasi dengan nama 'Koperasi Bumi Putera Citangkil l' yang Diketuai oleh KH. Abdul Aziz.

Disamping itu, KH Syam'un juga cukup produktif dalam menulis. Ada 3 kitab yang dituliskan olehnya. Diantaranya, Kitab Al-Djami’ah Fi Aqidil Muslimin wal Muslimat, Kitab Aqidatoel Al-Faal, dan Kitab Mujmalussiratti Muhammadiyyah. Ditulis dengan berbahasa Arab-Jawa. Meskipun hanya terbatas untuk pendidikan pesantren miliknya. Nilai-nilai yang ditanamkan pada santrinya itu menularkan semangat dan membentuk pribadi sejak dini.

Masa Pendudukan Jepang

Setelah kekuasaan pemerintah kolonial berakhir pada 1942, KH Syam’un menjadi salah satu tokoh berpengaruh. Kemudian didekati oleh pemerintah pendudukan Jepang untuk merebut simpati rakyat Banten. Kiprah KH Syam’un di ranah pendidikan terekam oleh pemerintah pendudukan Jepang. Namanya muncul dalam buku Orang Indonesia Jang Terkemoeka di Djawa terbitan Gunseikanbu tahun 1944.

KH Syam'un diajak bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA) oleh Jepang pada tahun November 1943. Diplot sebagai daidanco atau komandan Batalyon. Masa pendudukan Jepang di semua wilayah selalu mengajak Tokoh Agama, Pamong Desa atau Sultan sebagai pimpinan pasukan. Fungsinya adalah menjadi tambahan pasukan Jepang dalam menghalau kekuatan pasukan sekutu.

Tergabungnya KH Syam'un dalam PETA sempat memunculkan keraguan. Dalam keadaan terpaksa ia bergabung, karena Jepang waktu itu membredel  habis tokoh yang menolak untuk bergabung. Kemudian KH Syam'un memandang perlu bergabung untuk mengamankan lembaga pendidikan yang sudah dibangun. Disamping itu juga untuk mempelajari strategi militer Jepang.

“Bahwa pendidikan Islam sesuai dengan kemiliteran. Ini baik bagi pemuda-pemuda kita. Dan saya sering menceritakan pada mereka tentang penghidupan dan perjuangan pahlawan-pahlawan Islam,” kata KH Syam’un dalam Asia Raja No. 35, 8 Februari 2604 (1944). 

Masa Kemerdekaan Indonesia

Pasca kemerdekaan 17 Agustus 1945. Banten menjadi wilayah Karesidenan, atau daerah administratif yang dikepalai oleh Residen (Setara Gubernur). Meliputi daerah Pandeglang, Serang, Cilegon, Lebak dan Tangerang. Pada akhir Agustus 1945, masyarakat Banten beramai-ramai dari banyak golongan Ulama, Jawara, dan Pemuda berkumpul di rumah Raden Dzolkarnaen Soeria Karta Legawa. Memilih seseorang untuk menjadi Residen memimpin Banten.

Suharto menjelaskan dalam Banten Masa Revolusi 1945-1949 disertasinya di Universitas Indonesia. “Pertemuan secara aklamasi memilih KH Tb Achmad Chatib sebagai Residen Banten yang menangani pemerintahan sipil. Untuk itu, mereka mendesak Pemerintah Pusat agar segera mengangkatnya dan untuk menangani urusan militer diserahkan kepada KH. Syam’un,”.

KH Tb Achmad Chatib direstui oleh Soekarno. Diangkat menjadi Residen pada 19 September 1945. Kemudian mempunyai tugas menyusun personalia pemerintahan daerah Banten. Lalu membentuk Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID), semacam lembaga parlemen daerah. Soal kemiliteran, KH Tb Achmad Chatib memberi kepercayaan kepada KH Syam'un.

KH Syam'un punya pengalaman militer yang mumpuni. Karena sarat pengalaman dan memang pernah dilatih oleh Jepang. Sebagai Ulama, atas kewibawaannya ia disegani dikalangan masyarakat Banten. KH Syam'un dipilih menjadi Panglima Badan Keamanan Rakyat (BKR). Lalu menjadi Komandan Brigade I Tirtayasa yang kemudian berubah nama menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan berpangkat Kolonel.

Gugur dalam Perjuangan

Agresi Militer Belanda pertama pada 21 Juli 1947 terjadi, KH Syam’un saat itu menjabat sebagai Bupati di Serang. Tentara Belanda berhasil memblokade wilayah Banten sehingga pasokan kebutuhan pokok dan uang Republik berkurang. KH Syam’un menyumbangkan mesin cetaknya untuk memproduksi uang khusus yang disetujui oleh pemerintah Indonesia.

Agresi Militer Belanda kedua pada Desember 1948 turut menyasar kota Serang. Tentara Belanda berhasil memasuki kota dan menangkap beberapa pejabat. Tetapi KH Syam’un lolos dari sergapan tentara Belanda. Dia berpindah-pindah tempat untuk memimpin perlawanan terhadap tentara Belanda. Di banyak tempat dia singgah, dia bertemu dengan gerilyawan Republik dan memberi mereka semangat.

KH Syam’un wafat di Gunung Cacaban Anyer pada 2 Maret 1949. Ia turut dalam pasukan yang berjuang di Hutan Cacaban. Atas peran dan jasanya kepada bangsa dan negara, KH Syam’un ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Jokowi pada 8 November 2018.

Penulis : Arfan Effendi

Penulis kini aktif di Lakpesdam NU Kota Tangerang


Editor:

Tokoh Terbaru