• logo nu online
Home Banten Raya Ubudiyyah Warta Nasional Fragmen Keislaman Syariah Tauhid Tokoh Khutbah Sejarah Doa Opini Hikmah Pendidikan Islam Wisata Religi NU Preneur
Rabu, 30 November 2022

Fragmen

Santri, Pesantren, dan Banten

Santri, Pesantren, dan Banten
ilustrasi mercusuar di pinggir pantai Banten. (Sumber : Freepik.com)
ilustrasi mercusuar di pinggir pantai Banten. (Sumber : Freepik.com)

Banten identik dengan 'Jawara' pun 'Santri'. Berada di ujung barat pulau Jawa, Banten menyimpan sejuta cerita dari klenik hingga  kesaktian mandraguna. Banten dari asal muasal 'Bantah' atau membantah. Dalam artian berani menolak sesuatu yang dianggap 'salah' sekalipun harus nyawa meregang. Karakter orang Banten Non kooperatif pada kezaliman dari itu lebih baik istana hancur lebur daripada jatuh ketangan musuh.

 

Banten sebagai negara berdaulat (kerajaan Islam) sempat gemilang pada zamannya, bahkan di generasi kedua setelah sultan Hasanuddin turun tahta. Banten tercatat sebagai kota keadabaan sekaligus peradaban. Ini diapresiasi dalam Cerat Centini, banyak pengkaji dari luar Banten, datang untuk mengobati dahaga akan ilmu pengeweruh tentang agama pun kesakten. Pesantren Karang sebagai pusatnya. Era Cicit Hasanuddin itu Banten inten terhadap pembentukan karakter building atau pemberdayaan sumberdaya manusia.

 

Hingga tak heran jika manuskrip warisan cendikiawan Banten itu jumlahnya melimpah ruah, kini tersimpan di museum negeri kincir angin. Barat dalam hal ini Belanda, menjajah Nusantara tidak serta merta hanya menguras kekayaan negeri nusantara berupa harta benda, tetapi kekayaan intelektual pun mereka boyong.

 

Kaca pandang kolonialisme selalu memandang rendah bangsa pribumi bahkan dianggap bodoh, ternyata memiliki makna secara psikologis sekaligus politis agar warga pribumi minder. Disamping secara politis warga pribumi dibuat bodoh. Tidak boleh sekolah, kecuali kaum ningrat. Di tambah era dulu yang bisa bersentuhan dengan dunia ilmu pengetahuan memang kaum 'Borjuis' anak raja ataupun kaum Brahmana.

 

Tak harus diingkari karena jejak hindu memang nyata ada di Nusantara. Santripun sesungguhnya merupakan idiom dari Shastri bahasa sansekerta yang memilik makna kaum yang membaca, atau dalam hindu mereka yang ahli kitab Hindu.

 

Akses pendidikan era itu mutlak milik kaum bangsawan. Sehingga rakyat jelata tetap saja dalam gurita kebodohan sepanjang masa. Semburat cinta mulai tampak manakala langit jazirah mekah bak purnama bertabur cahaya. Kala itu terlahir manusia istimewa yang kelak di sebut sebagai nabi akhir zaman.

 


Kemilau cahaya itu, sesuai hukum kecepatan cahaya memancar sampai Banten. Singkat cerita Abad 13 ajaran Islam secara signifikan telah mengakar bahkan di jawa berdiri kerajaan Islam. Islam salah satu kelebihannya tidak mengenal istilah kasta dalam status sosial. Sehingga sekalipun hamba sahaya, atau kaum sudra bisa mulia asalkan berkepribadian luhur dalam  tingkah laku. Dari islam itu sebagai ajaran, merubah tradisi shastri menjadi santri tempatnya disebut pesantren bisa diakses oleh semua kalangan baik priyai ataupun rakyat biasa. Pesantren pada masa itu mirip, mihrabnya era Rasulullah, tempat mendadar kaum cerdik pandai sahabat utama.

 

Tak heran Santri kala itu merupakan agen of change . Sebut saja tokoh-tokoh pergerakan nasional mereka sebelum mengenyang pendidikan 'Londo' adalah santri. Bahkan dalam satu kisahnya beredar riwayat shahih bahwa Soekarno pun pernah Riyadhah Bathin ngelmu di Pamuragan Cirebon.

 

Jadi, Santri dengan pesantrennya adalah sub kultur yang merupakan warisan leluhur bijak bestari bumi pertiwi bernama Indonesia.

 

Era Wahidin Halim pesantren masuk program primadona, kenapa primadona, karena selama ini pesantren tradisional  hanya dianggap sebagai tempatnya orang-orang terbelakang. Didatangi hanya waktu pemilu untuk mohon do'a restu kyai, atau agar dianggap saleh mendekat kiai dengan buah tangan sarung bertuliskan tiga huruf. Hanya sebatas itu pesantren dianggap ada. Tetapi kini seiring jaman ternyata pesantren dengan segala keunikannya, mampu paling tidak sebagai benteng umat dari rongrongan sampah peradaban pun limbah pemahaman agama parsial.Ternyata santri mampu dengan mudah terhindar dari paham radikalis. Dari itu pengajian model 'liqo' tak pernah mampu mengakar pada mahasiswa yg berlatar  belakang pesantren yg mengadopsi kitab kuning ciri khas pesantren nusantara.

 

Hibah Pesantren

 

Terbentuknya Provinsi Banten merupakan salah satu berkah dari reformasi, karena tokoh Banten berjuang menjadikan daerah otonom sebagai provinsi sudah cukup panjang melewati dua rezim pemerintahan; yaitu rezim orde lama dan orde baru. Sebagai daerah otonom lahir di era reformasi tentu ada sejuta harap dalam benak warga Banten, wabil khusus kalangan pesantren.

 

Jejak pesantren di Banten yang layak jadi cagar budaya, karena merupakan saksi  perjalanan juang bangsa masih eksis ada, lengkap dengan tradisi uniknya.

 

Pesantren di Banten merupakan ikon tersendiri, karena Banten merupakan gudang kiai, sementara pesantren sebagai wadah, sekaligus jejaring bagi kiai satu dan lainya. Ini yang dinamakan oleh Zamakhsari Dhofeir sebagai jejaring bagi komunitas pesantren. Tak jarang dari satu pesantren ke pesantren lain terjalin ikatan baik malalui ikatan guru- murid (sanad keilmuan), disamping ikatan mertua atau menatu.

 

Ada juga keterkaitan visiting santri, antara satu pesantren dengan pesantren lain. Bentuk nya bisa seperti 'pasaran' biasanya dalam momen bulan suci, atau setelah Idul Fitri. Ada juga dalam bentuk 'berdiaspora' antar alumni pesantren satu ke pesantren lain dalam rangka menambah wawasan bidang keilmuan yang berbeda. Karena tiap pesantren memiliki khas apesialisasi fan ilmu (disiplin keilmuan). Misalnya pesantren Caringin khusus spesialisasi fiqh Fathul Mu'in. Sementara pesantren Kadu Kawang spesialisasinya  ilmu nahu yang diulas dalam kitab Alfiyah ibn Malik.

 

Perjalan nyantri dari satu pesantren ke pesantren lain itu dinamakan 'Santri Kelana' Istilah dalam hasil riset Dhofeir. Dari itu Abuya Dimyati orang tua dari Abuya Muhtadi Pandeglang pun, sempat menjadi santri kelana mulai daerah Tatar Sunda hingga daerahnya 'Bambang Pranowo'. Bahkan Syekh Nawawi al-Bantani di samping wilayah Nusantara beliau berkelana sampai negeri dimana Baitullah berada. Itu semua ditempuh dalam rangka mengkaji berbagai disiplin keilmuan. Sehingga menghasilkan santri unggul yang komprehensif dalam pemahaman keagamaan.

 

Kembali kepada pesantren sebagai  program 'primadona' Wahidin Halim. Ini sesungguhnya langkah awal yang patut diapresiasi. Karena bagaimapun pesantren memiliki andil besar terhadap pembentukan character building masyarakat Banten. Terlebih Banten memiliki motto 'iman, takwa dan ber-Akhlakul Karimah'. Harapan penulis program primadona pesantren itu tak melulu berupa 'recehan'. Melainkan sifatnya  terkait langsung dengan peningkatan keadaban pesantren. Sehingga pesantren mampu menerapkan fiqh thaharah tidak hanya dalam ibadah mahdah, melainkan diterapkan dengan pembiasaan perilaku hidup sehat misalnya. Dari itu wajar jika ada bantuan penyediaan sarana air bersih juga kamar mandinya. Atau wakaf kitab kuning bagi santri, juga kiainya.

 

Jikapun pemangku kebijakan ingin memberikan sedikit penghormatan kepada sang kyai atau guru ngaji. Bukankah bisa dianggarkan dengan istilah insentif kiai dan guru ngaji yang distribusinya bisa langsung ke rekening kiai dibayarkan tiap bulan atau per-Triwulan. Itu hanya sebatas catatan, karena warga pesantren se-Banten resah sekaligus gelisah karena dana hibah pesantren bermasalah.

 

Dana hibah pesantren kok bermasalah? tentu kedepannya pesantren tetap harus jadi prioritas, karena Banten tanpa pesantren akan tercerabut dari sejarah Banten itu sendiri. Bahkan penulis berandai-andai di era Wahidin Halim ini ada pusat kitab kajian kitab kuning ulama Banten. Sehingga kejayaan era Cicit Sultan Agung Banten terulang kembali. Yaitu Banten menjadi pusat peradaban kitab kuning di Nusantara. Sama seperti jayanya Nusantara ketika masa kerajaan Ho-Ling dan Salakanagara (terkait dengan Banten pra Islam)  kerajaan tertua di Nusantara .

 

Kala itupun menjadi pusat peradaban literasi agama Hindu-Budha. Tak heran sisa kejayaannya kini masih bisa kita saksikan yaitu megahnya Borobudur. Ajaran Hindu Nusantara merupakan khas Nusantara berbeda dengan Hindu di India. Di India seorang raja dari kasta ksatria, tetapi di Nusantara seorang raja sekaligus resi. Juga ada istilah Sabda pandita ratu.


 
Achmad Basuni, Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Kabupaten Tangerang


Fragmen Terbaru