• logo nu online
Home Banten Raya Ubudiyyah Warta Nasional Fragmen Keislaman Syariah Tauhid Tokoh Khutbah Sejarah Doa Opini Hikmah Pendidikan Islam Wisata Religi NU Preneur
Senin, 26 September 2022

Nasional

Presiden OIC Youth Indonesia Sampaikan Peran Perempuan dalam Ruang Kerukunan Umat Beragama

Presiden OIC Youth Indonesia Sampaikan Peran Perempuan dalam Ruang Kerukunan Umat Beragama
ASEAN Women Interfaith Camp yang dihelat oleh Pengurus Besar (PB) Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI PMII) di Hotel Acacia, Senen, Jakarta Pusat, pada Selasa (23/8/2022) siang. (Foto: Naila Maye Haq)
ASEAN Women Interfaith Camp yang dihelat oleh Pengurus Besar (PB) Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI PMII) di Hotel Acacia, Senen, Jakarta Pusat, pada Selasa (23/8/2022) siang. (Foto: Naila Maye Haq)

Jakarta, NU Online Banten

Presiden Organization of Islamic Cooperation (OIC) Youth Indonesia Astrid Nadya Rizqita, menyampaikan, sepanjang sejarah, peran sentral perempuan dalam masyarakat telah menjamin stabilitas, kemajuan dan pembangunan jangka panjang bangsa. Secara global, perempuan merupakan 43 persen dari angkatan kerja pertanian dunia meningkat menjadi 70 persen di beberapa negara.

 

Demikian disampaikan olehnya pada ASEAN Women Interfaith Camp yang dihelat oleh Pengurus Besar (PB) Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI PMII) di Hotel Acacia, Senen, Jakarta Pusat, pada Selasa (23/8/2022) siang.

 

“Wacana gender selalu menampilkan wacana stereotip yang membedakan posisi laki-laki dan perempuan. Selama berabad-abad, masalah ini hanya mendapat sedikit perhatian dan cenderung dilupakan,” terang Astrid Nadya Rizqita.

 

Ia mengungkap, karena pemikiran stereotip historis peran antara laki-laki dan perempuan. Maka masyarakat dunia pada umumnya memandang bahwa peran perempuan terbatas. Hanya pada urusan rumah tangga dan keluarga, sedangkan peran publik dipegang oleh laki-laki.

 

Perempuan dalam Ruang Kerukunan Umat Beragama
 

Astrid Nadya Rizqita menyampaikan, pembangunan kerukunan di dalam dan di antara agama serta antara umat beragama dengan masyarakat luas. Mampu diwujudkan melalui peningkatan dialog yang menghasilkan rasa pengertian dan empati. Melahirkan tugas tanggung jawab bersama atas perdamaian dan keadilan dengan prasyarat mengakui keragaman dan perbedaan agama.

 

“Oleh karena itu, arti sebenarnya dari kerukunan umat beragama adalah memberikan kebebasan yang sama bagi setiap orang untuk mempertahankan keyakinan dan keyakinan agamanya sendiri. Orang yang benar-benar religius harus berpikir bahwa agama-agama lain juga memiliki begitu banyak jalan menuju kebenaran dan memelihara sikap hormat dan toleransi terhadap mereka,” kata Astrid.

 

Tanpa itu, lanjut dia, tidak akan ada kerukunan umat beragama untuk dibicarakan. Membangun kesadaran bersama, bahwa kebebasan beragama saja tidak menghalangi kebencian atau konflik antar agama. 

 

“Kerukunan beragama membawa kebebasan selangkah lebih maju untuk menawarkan kepada kita visi baru untuk menangani perselisihan dan konflik agama,” ujarnya.

 

Pentingnya Kerukunan Umat Beragama
 

Asrtid mengamati, ada banyak organisasi masyarakat di kawasan ASEAN yang melakukan banyak pekerjaan baik pada isu-isu struktural dan amal. Sementara, sebagian besar dari mereka secara ideologis mendukung kerukunan umat

 

“Penting untuk bekerja sama menciptakan kerukunan umat beragama di bangsa kita dengan mengetahui dan mengamalkan agama kita sendiri. Menghormati agama lain, berhubungan erat dengan orang-orang yang berbeda keyakinan dan tidak mencampuri urusan agama orang lain,” tandas Astrid.

 

Pewarta: Naila Maye Haq


Nasional Terbaru