• logo nu online
Home Banten Raya Ubudiyyah Warta Nasional Fragmen Keislaman Syariah Tauhid Tokoh Khutbah Sejarah Doa Opini Hikmah Pendidikan Islam Wisata Religi NU Preneur
Senin, 26 September 2022

Opini

Menangkal Informasi Dangkal Bagi Generasi Milenial

Menangkal Informasi Dangkal Bagi Generasi Milenial
Tangkapan layar siaran live IG Caknun
Tangkapan layar siaran live IG Caknun

Pada Hari Kamis, (14/4), pukul 16.00 WIB platform akun Instagram resmi @caknursociety mengadakan acara program "Live IG" dengan tema "Menghidupkan Kembali Tradisi Tabayyun" bersama Ai Fatimah Nur Fuad, Ph.D, Dosen Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka. 

 

Pada kesempatan program Live IG ke-12 ini yang memang rutin diselenggarakan secara live di akun resmi instagram @caknursociety, senantiasa menampilkan pokok-pokok materi pembahasan yang dialami dalam kehidupan sehari-hari. 

 

Dalam hal ini, tabayyun perlu dihidupkan kembali terlebih di era pergulatan generasi milenial yang akrab dengan produk-produk digital. 

 

Menurut Ai Fatimah, Islam itu merupakan agama yang sempurna. Namun akhir-akhir ini kebanyakan produk pemberitaan yang diinformasikan mengarah kepada hoaks, bahkan tidak jarang output informasi dihubungkan dengan kepentingan politik tertentu. 

 

"Belum lagi, pemahaman agama-agama tertentu yang sengaja dijustifikasi kebenarannya menurut kelompoknya masing-masing tanpa dilakukan klarifikasi atau tabayyun terlebih dahulu." ungkap, Ibu Ai Dosen Fakultas Agama Islam (UHAMKA). 

 

"Fattabayyunu, atau meneliti proses tabayyun itu terdapat dalam prinsip-prinsip dasar islam. Dalam konteks saat ini, penyebar hoaks itu adalah bukan orang-orang yang digambarkan dalam Al-Qur'an. Tidak ada korelasinya dengan yang terjadi pada dewasa kini. 

 

Lanjutnya lagi, "Diperlukan semacam Double Kroscek, apakah substansi dari pembawa berita dan isi berita itu membawa manfaat atau justru mudharat kepada khalayak, sehingga informasi berita tanpa melakukan tabayyun (penelitian terhadap kebenaran beritanya) terlebih dahulu. 

 

Sebagaimana peringatan di dalam Surat Al-Hujurat ayat 6 ; 

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ 

Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujarat : (49) : 6)." terangnya lagi. 

 

"Menjadi hal penting untuk menumbuhkan tradisi tabayyun, adapun pertimbangan saat kita menerima sebuah berita, dan mengedarkan berita di ranah medsos. Karena akan menjadi "ribet" untuk "mengerem" paradigma para pengguna media sosial kalau sudah "nge-gas". Dan acapkali terjadi jika menjelang pemilu, bahkan ujaran-ujaran kebencian sampai pada level "akar rumput" dalam skala whatsapp grup Keluarga. Karena berbeda pandangan politiknya bisa terjadi tidak bertegur sapa, itulah salah satu akibat jika seseorang mengabaikan proses tabayyun." sambung, Bu Dosen. 

 

"Jika di ranah media sosial, ada wacana- wacana yang mengandung unsur kekerasan, kita mestinya turut 'turun tangan' untuk menjaga kerukunan di ranah medsos agar lebih kondusif." sambungnya lagi, dalam siaran Live IG di akun Instagram @caknur.society 

 

Kendatipun demikian, beliau pun mengulas bahwa, dampak dari berita hoaks, pernah dialami oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW, yang mendapatkan berita dan sampai-sampai merasakan keributan di dalam rumah tangganya.

 

 

Abdul Majid Ramdhani, Alumni Pondok Pesantren Al-Hamidiyah dan pegiat Lesbumi NU Tangerang Selatan


Editor:

Opini Terbaru