• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Jumat, 31 Mei 2024

Tokoh

KH Ma’ruf Amin; Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara, Serang, Banten (5)

Pulang dari Tebuireng, Menikah kemudian Hijrah ke Tanjung Priok

Pulang dari Tebuireng, Menikah kemudian Hijrah ke Tanjung Priok
KH Ma’ruf Amin (depan). (NUO)
KH Ma’ruf Amin (depan). (NUO)

SETELAH menuntut ilmu di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, saat usianya masuk angka dua puluh, Ma’ruf Amin menikahi gadis pilihannya, Nyai Huriyah. Tak lama setelah menikah, pada 1963 itu, Ma’ruf memulai jejak pengabdiannya dengan hijrah ke Koja, Tanjung Priok, Jakarta.

 


“Di Jakarta nanti,” ujar Kiai Romli saat menerima cucunya yang akan berpamitan merantau ke ibu kota.’’Kamu harus mengaji kepada kawan kakek saat belajar di Makkah. Namanya Habib Ali bin Husen Al-Attas. Orang menyebutnya Habib Ali Bungur. Beliau seorang alim ...”.



Di Jakarta, Ma’ruf mengikuti jejak kakaknya, Nyai Musawwamah, yang sudah lebih dulu menetap di Koja. Nyai Musawwamah adalah istri dari KH Ahmad Mi’an, seorang ulama terkenal di wilayah Priok. Dia populer sebagai Mua’llim Mi’an. Dia menjadi tokoh NU Tanjung Priok dan salah seorang pengelola Masjid Al-Fudlola yang terkenal dan bersejarah. Ma’ruf banyak belajar kepada kakak iparnya ini. Di masjid ini dia berguru juga kepada Kiai Usman Perak.



Kehadiran Ma’ruf di Koja menambah kekuatan pengembangan NU. Apalagi hampir sebagian besar warga Koja merupakan pendatang dari Kresek, kampung halamannya. Pedagang di Pasar Ular misalnya, 80 persen berasal dari Kresek.

 

Ma’ruf pun memulai aktivitasnya di NU sebagai ketua Gerakan Pemuda Ansor Ranting Koja. Dengan dukungan kakaknya, Ma’ruf berhasil mengembangkan Ansor. Dia juga didukung oleh H Muhammad Ali, ketua NU Tanjung Priok. Ayahanda Suryadharma Ali ini sosok yang low profile dan memberi ruang bagi munculnya anak muda.

 


Dengan berbagai dukungan ini, Ma’ruf berhasil membentuk grup drum band. Satu-satunya drum band Ansor di Jakarta saat itu. Tak lama kemudian, kariernya naik, memimpin Ansor Cabang Tanjung Priok. Saat itu nama Jakarta Utara belum digunakan. Dia juga memimpin Front Pemuda yang beranggotakan pemuda dari berbagai organisasi.

 


Memasuki 1965, Muallim Mi’an mulai meminta Ma’ruf mewakilinya dalam berbagai pengajian di seputar Tanjung Priok. Ma’ruf memenuhi mandat itu dengan baik. Dia menjadi seorang penceramah yang digemari. Seorang orator yang banyak menyisipkan guyonan dalam pengajiannya. Nama Ma’ruf

Amin mulai populer dan digemari jamaah.

 


Sejak memasuki kehidupan Jakarta, Ma’ruf tak lupa dengan pesan kakeknya. Secara rutin, ia mendatangi majlis taklim Habib Ali di Bungur. Di majlis ini, dia bersua dengan banyak ulama di Jakarta, antara lain Kiai Syafi’i Hadzami. Di sela­sela kesibukannya, Ma’ruf masih menyempatkan waktu untuk kuliah di

 Fakultas Ushuludin Universitas Ibnu Chaldun Jakarta. Pada 1967, dia meraih gelar sarjana muda (BA).



Kepiawaian Ma’ruf mengelola organisasi, membuatnya dipercaya untuk memimpin Partai NU Cabang Tanjung Priok (1966-1970). Saat itu NU memang merupakan sebuah partai politik, sesuai keputusan Muktamar 1952. Sebagai pengurus cabang, Ma’ruf ikut menghadiri Muktamar NU ke-24 tahun 1967 di Bandung. Inilah muktamar pertama yang dihadirinya. Dengan kedudukan ini dan dukungan kakak iparnya, Ma’ruf menjadi calon anggota DPRD I DKI Jakarta dalam Pemilu 1971.



Itulah kehidupan Ma’ruf muda di Jakarta. Menjadi aktivis Ansor, mengaji kepada Mu’allim Mi’an, Kiai Usman Perak, dan Habib Ali Bungur, kuliah, dan keliling untuk berceramah. Tujuh tahun sejak kedatangannya ke Koja, kinerja Ma’ruf sudah mendapat simpati warga. Dia terpilih sebagai anggota DPRD mewakili Partai Nahdlatul Ulama. Suara PNU pun ikut naik signifikan untuk wilayah Tanjung Priok. Dia telah muncul sebagai tokoh muda NU di Jakarta bagian utara, mendampingi Kiai Syatibi, tokoh NU yang lebih senior. (M Izzul Mutho)

 


Sumber: Buku KH Ma’ruf Amin Santri Kelana Ulama Paripurna, penulis Iip Yahya


Tokoh Terbaru